
"Memangnya kalau aku pulang, ayah bisa jamin gak akan galak lagi sama aku ... enggak, 'kan?"
Pertanyaan itu lolos dari bibir Cello yang berotak super cerdik. Ia duduk di dalam mobil, menatap Farhan dengan roti lapis di tangannya.
"Ayah janji," jawab Farhan datar tanpa ada bujuk rayu.
"Kalau ayah bohong gimana? Ayah cuma lagi rayu kita aja, 'kan? Biar gak dimarahin sama bunda," tebak anak itu benar sekali. "Pasti Ayah diancam sama bunda, 'kan?"
"Hmmm."
Farhan menelan ludahnya sedikit. Sensasi yang ia hadapi sekarang persis sekali dengan beberapa tahun silam saat ia bertemu dengan Reyno kecil. Kira-kira beginilah wataknya. Sama persis seperti pinang dibelah dua kalau sudah menyerang. Cello selalu berbicara santai, tetapi tepat mengenai hati sasaran si lawan bicaranya.
Farhan menghela sabar diiringi hati yang berusaha tegar. Ini bukan hanya sekedar memperjuangkan kelangsungan perang ranjang yang hakiki, batinnya. Tapi ia juga sedang mempertahankan rumah tangganya yang sedikit goyah. Ia harus berhasil membawa si kembar dalam waktu dekat-dekat ini atau ia yang akan ditendang dari rumah oleh istrinya sendiri.
Beberapa waktu berlalu, Farhan memilih diam memperhatikan si menyebalkan yang sibuk mengunyah potongan roti di tangannya perlahan.
Anak cerdik itu berbicara kembali sambil menoleh jenaka. "Bunda pernah bilang, meskipun tidak menikah dengan ayah, dia tetap akan menjadi bundanya kita, jadi Ell dan Cilla tinggal cari ayah baru saja."
Eh? Sontak Farhan membola. Matanya melotot pada Cello yang sengaja memancing kekesalannya. Menyebalkan sekali anak yang satu ini.
"Ayah kenapa? Yang ngomong 'kan Bunda. Bukan aku," ujar anak itu sedikit cemberut tak senang.
Farhan menarik napas dalam-dalam. Mengembuskannya perlahan seraya menatap beberapa anak SD yang tengah berlarian di luar sana. "Jadi bagaimana caranya agar kamu memaafkan ayah?" tanya pria itu putus asa. Ia berusaha merubah ekspresinya agar tampak menyenangkan, namun lagi-lagi yang dipasang sebuah permukaan datar dengan warna membara-bara.
Basa-basi pada anak secerdik dan selicik Cello tak akan mempan. Di bagian ini anak itu lebih mirip Jennie yang pandai mengelabui musuh di depannya.
"Apa ya?" Cello tampak berpikir. Memancing darah di tubuh Farhan semakin bergejolak panas. "Sebenarnya adek mau aja pulang, tapi semua tergantung Ell."
Sengaja mengucapkan itu demi memberatkan Farhan bahwa segala keputusan ada di tangannya.
"Kamu mau apa? Cepat katakan!"
Cello tersenyum licik. Jarang-jarang ia mendapat penawaran yang menggiurkan seperti ini, pikirnya.
"Ell ngga mau disunat bulan depan. Kalau bisa setelah tamat SMP aja. Nunggu besar dan berani." Anak yang takut akan jarum suntik itu berujar serius.
"Dia udah tau, Yah. Bahkan Malika ngga keberatan kalau Ell ngga disunat selama-lamanya. Dia ngga masalah punya suami yang ngga disunat, kok"
"Aduhh!" Farhan menepuk jidat salah tingkah. Kalau tidak bisa disunat mana bisa menikah. Tapi ia tak mau menjelaskan karena belum waktunya.
"Kalian ini ya! Masih kecil juga sudah ngomongin nikah."
"Kita kenapa?" tanya Cello sok polos.
Bibir Farhan nyaris berdarah akibat digigit terlalu kencang. Farhan begitu geram pada tingkah bocah di sampingnya. "Sunat itu wajib. Bukan perkara Malika membolehkan atau tidak. Lagi pula belum tentu juga anak itu mau menikah denganmu," cibir Farhan lagi.
"Ayah kok ngomongnya gitu? Waktu itu Malika bilang mau kok! Dahlah, Ell mau ke kelas aja! Males deket-deket sama ayah yang nyebelin."
Farhan menarik lengan Cello segera. Hidung anak itu sudah kembang kempis seperti adonan martabak. "Kenapa ngga mau sunat? Kasih alasan yang masuk akal!" tegas Farhan.
Anak itu menatap Farhan dengan wajah berat. "Ell udah liat semua video di youtube tentang sunat. Ello takut, Yah! Nanti kalau Ell mati setelah disunat bagaimana?"
"Jangan menonton yang tidak penting. Ayah akan mendatangkan dokter khusus yang profesional. Kemungkinan mati dari proses sunat itu kecil Ell. Jangan mengancam ayah dengan rencana sunatmu. Hal itu tetap akan dilakukan karena semua sudah diatur oleh grandma dan grandpa. Bukan ayah yang mengurusnya. Kamu mau kembali ke rumah atau tidak, itumu akan tetap di potong. Jika terus menerus menolak, lama-kelamaan ayah yang akan memotong milikmu sampai habis."
Cello reflek memegangi miliknya kesal. "Ayah nyebelin!"
Ia mengemasi sisa roti lapis milik Cilla. Memasukkannya ke dalam paper bag dan segera membuka pintu untuk keluar.
"Salam buat bunda. Bilang kalau kita kangen bunda, makasih untuk rotinya juga," ujar anak itu kemudian berlari.
Farhan membiarkan Cello pergi begitu. Pertemuannya dengan Cello kali ini lebih dari cukup untuk membuat laporan pada istri cantik yang tengah menunggu di rumahnya.
"Tidak boleh terburu-buru!" Begitulah ujaran yang Farhan ajarkan pada Lisa.
***
Up Dua Bab. Jangan Lupa komen di setiap partnya ya. Kalo belum muncul tunggu ya.