HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Kesibukan Kantor



Mendengkus, memutar tubuh, memijat pinnggang hingga mengelus leher sudah Lisa lakukan berkali-kali. Laporan yang menumpuk di akhir bulan membuat ia kelimpungan. Apalagi ia harus menggantikan Rico dan duduk di meja kerjanya, karena pria itu menghilang entah ke mana.


Lisa kena batunya gara-gara Rico pergi dan lepas tanggung jawab tanpa sebab yg ia ketahui.


Sunyi, rasanya seperti ruangan mati ketika harus menghirup udara di tempat yang sama dengan si batu bernapas. Lebih baik berbaur dengan kariyawan daripada terjebak di ruangan eksekusi seperti ini. Lisa bosan bekerja dengan Farhan. Pria itu sangat serius, sampai napasnya pun tidak tedengar. Ia bahkan tak menoleh saat Lisa menjatuhkan sendok ke lantai dengan sengaja.


"Aku lelah!" Lisa merentangkan kedua tangannya ke atas. "Kamu tidak lelah, Tuan?"


Seperti biasa, di kantor Lisa memanggilnya dengan sebutan, tuan.


"Tuan!" Lisa teriak, kesal karena dicueki oleh Farhan.


"Sayang."


"Baby."


"Cinta." Semua kata telah dicoba, namun Farhan memilih bungkam. Ia tahu bahwa Lisa sedang menggodanya karena bosan, namun bukan Lisa kalau tidak bisa memancing emosional seorang Farhan.


"Alan bin si Alan, aku mau tanya," teriak wanita itu lebih keras. Jarak duduk mereka yang hanya empat meter membuat Farhan harus menutup gendang telinganya, berisik.


"Jika kau bukan istriku, aku benar-benar akan membunuhmu, Lisa." Farhan melempar ancaman telak. Lalu kembali menatap layar kebanggannya, bergeming.


"Galak banget, aku juga pengin punya suami yang manis dan gurih, tau." Jari telunjuk saling menusuk. Ia memasang ekspresi imut di mana Farhan tak mau melihat ke arahnya sedikit pun.


Tanpa beralih dari laptop Farhan bicara, "Lima menit, sebutkan pertanyaanmu." Bicara Farhan sudah seperti acara kuis berhadiah uang yang diberi waktu tempo.


"Pak Rico ke mana?" satu pertanyaan meluncur bebas dari bibir Lisa.


"Menembak," jawab Farhan.


"Ah." Lisa menggeram kesal dengan dua tangan mengepal. "Bisa-bisanya dia menembak wanita di akhir bulan seperti ini. Apa tidak sebaiknya kamu pecat saja dia."


"Ada pun orang yang harus di pecat adalah kamu. Rico sedang mengikuti kompetisi menembak di Singapur," ujar Farhan ketus.


"Oh, ternyata dia hobi menembak, ya. Pantas saja aku pernah melihat dia membawa pistol di bajunya."


Mata Farhan membola. "Bagaimana mungkin kamu bisa tahu?" Farhan memasang wajah sinis. "Pistol yang sering dibawa Rico selalu di taruh di saku jas dalam. Tidak terlihat dan hanya digunakan untuk keadaan darurat saja."


"Soalnya, aku pernah membuka jas dan kemejanya," jawab Lisa mengingat-ingat kejadian beberapa tahun silam.


"Kau melakukan apa padanya?" Tatapan Farhan semakin kesal, teralihkan sudah kerjaannya karena penasaran dengan jawaban Lisa.


"Aku membantunya menggaruk punggung," jawab Lisa cari mati.


Farhan mendengkus. "Ah, ternyata kau hobi menggoda Rico. Sayangnya Rico tidak akan tergoda olehmu." Farhan mengejek, namun dalam hati ia kesal sendiri. Bisa-bisanya Rico meminta bantuan Lisa untuk menggaruk punggungnya.


"Kejadiannya sudah lama, saat di Amerika," ujar Lisa.


"Kalau begitu kembali bekerja, kamu sudah mendapatkan jawaban yang kamu mau." Ekor mata Farhan melirik, sinis. Memberi sebuah isyarat agar Lisa kembali fokus dan jangan mengganggu kesibukannya dengan pertanyaan tidak penting.


Lisa merengut masam. Ia berdiri meninggalkan kursi yang sering di duduki Rico. Wanita itu menatap Farhan curiga. Berjalan ke arahnya lalu duduk tepat di hadapan Farhan.


"Apa kalian berdua memiliki kisah asmara di masa lalu? Mengapa aku lihat ada cinta untuk pak Rico di matamu,Tuan?"


"Jangan sembarangan bicara, Lisa!"


Wanita itu malah terkekeh geli saat ekspresi wajah Farhan berubah merah karena marah.


"Apa kamu pikir dengan menjadi istriku akan menjamin nyawamu tidak bisa habis di tanganku?" Ancaman Farhan menggema di ruangan itu. Entah mengapa Lisa sama sekali tidak merinding. Justru ingin menggodanya lebih gila lagi.


"Aku tau kamu tidak akan membunuhku meski tidak mencintaiku." Lisa tersenyum lebar. Alisnya naik turun penuh arti. "Tuan, apa kau ingin mencoba hal baru?"


"Apa?" Sudut mata Farhan melirik penasaran. Lagi-lagi ia selalu terpancing oleh kelakuan Lisa.


"Bercinta di dalam kantor."


"Uhukk." Farhan terbatuk mendengar tantangan Lisa. "Kau gila, untuk apa gunanya rumah dibangun jika yang seperti itu dilakukan di kantor!" Bahasa sarkasme keluar dari mulut Farhan.


Aku sudah tahu jawabanmu apa, tapi aku suka kamu yang seperti ini. Sangat menantang. Maka yang Lisa lakukan selanjutnya adalah merayu lagi.


"Ayolah, itu keren. Para CEO sering melakukannya, menghabiskan kisah indah di ruang kantor." Jemari Lisa nyaris menyentuh lengan Farhan, namun segera ditepis oleh pria dingin itu.


"Jaga etikamu. Halu seperti itu tidak akan terjadi di kehidupan nyata. Ruang direktur adalah tempat di mana mereka bekerja mati-matian untuk perusahaannya," ujar Farhan, seketika ia mematahkan harapan Lisa.


"Mainmu kurang jauh, Tuan. Makannya tidak tahu istilah Making love in the office," gerutu Lisa.


Lisa ingin memberitahu, bahwa hidup itu indah. Di mana kita bisa melakukan momen apapun di manapun.


Brakk!


Pintu terbuka, Farhan dan Lisa langsung menoleh ke arah sumber suara. Alunan sepatu dan heels berpadu jadi satu. Dua orang masuk dan nyaris membuat jantung Lisa mau copot.


"Lancang sekali, bisa-bisanya kamu menikah tanpa mengabari mamimu, Farhan." Pandangan nyonya Dina tertuju pada Lisa yang langsung berdiri ketakutan. Menilai wanita itu dari ujung kaki ke kepala.


"Aku belum ada waktu, Mam, Pih." Farhan menjawab sopan. Tuan Haris di belakang nyonya Dina memilih diam dulu.


"Salam kenal Tuan, Nyonya, Saya adalah istri Mas Farhan," ujar Lisa memperkenalkan diri.


Tuan Hari mengangguk dengan sedikit senyuman. "Salam kenal juga, kami adalah orang tua angkat Farhan, suamimu."


Nyonya Dina yang melihat tuan Haris ramah pada Lisa langsung menyenggol lengannya, kesal. Matanya kembali tertuju pada Lisa. Mengintrogasi wanita itu dengan berani.


"Kamu!" Mami Dina menunjuk Lisa, wanita itu langsung mendongak tegas seraya menjawab, "Saya Nyonya."


"Iya kamu, mari kita bicara antar perempuan. Biarkan yang laki-laki di sini saja."


Deg. Lisa seperti merasakan akhir dari kehidupannya. Mata sinis itu seolah hendak memakan Lisa bulat-bulat. Saat ini juga.


Mati aku. Lisa menahan tubuhnya yang meremang. Bagaimana bisa ia melupakan mertua yang satu lagi? Selama ini Lisa merasa bangga memiliki mertua yang sayang dan perhatian, tanpa berpikir bahwa Farhan masih memiliki orang tua angkat yang artinya adalah mertua kedua Lisa.


"Ikuti aku." Dina sudah berjalan duluan. Lisa menyempatkan diri melirik Farhan, namun pria itu memasang wajah tak acuh. Tidak ada mata yang memandangnya sambil berkata: 'Tenang, semua akan baik-baik saja'. Sama sekali tidak ada di raut menenangkan di wajah Farhan.


Aku butuh bantuanmu. Mata Lisa memelas sebelum Farhan melengos.


Sial, awas saja kau Alan si Alan!


Pasrah, Lisa mengikuti Nyonya Dina ke ruangan lain. Meninggalkan Farhan dan tuan Haris di ruang direktur.


***


Jangan lupa like, komen dan kasih vote ya..😍