
"Tuan Muda, umur Anda sudah bukan anak-anak lagi. Tolong jangan memancing kakak Anda. Apa saya harus laporan pada Tuan Haris, bahwa dua anak-anaknya bertengkar di dalam kantor," ujar Rico frustasi. Ia sampai menjenggut rambutnya sendiri saking kesalnya.
Mereka berdua sama sekali tidak bisa meihat situasi. Yang satu usil dan satunya lagi kelewat serius.
"Aku hanya ingin tahu. Apakah Farhan serius menikah karena cinta, atau hanya iseng-iseng berhadiah. Mana tahu Farhan menganggap gadis itu seperti lotre. Kasihan bukan?"
Rico menghela napas berat sambil menggelengkan kepalanya. "Cinta atau tidak bukan urusan Anda Tuan Muda! Tolong jangan memperkeruh suasana di tempat ini. Anda 'kan sudah tahu seperti apa kejamnya kakak Anda. Apa jangan-jangan Tuan Muda rindu Amerika? Ingin dioper ke sana lagi?" Gertakkan Rico menggema nyaring. Suaranya terdengar seperti ancamanan mematikan di telinga William.
"Bawa pergi pria itu dari ruanganku, Ko! Aku malas melihat wajahnya," potong Farhan cepat.
"Siap! Mari kita bertamasya keliling-keliling kantor, Tuan Muda! Bukankah sudah lama kita tidak berduaan?" Rico mengedipkan mata genit ala-ala. Tangan kekarnya kembali menyeret William dengan gerakkan paksa. Mengajak pria itu pergi sesegera mungkin sebelum suasana semakin kacau. Mereka melewati Farhan dan Lisa yang masih setia berdiri di samping pintu.
"Aku tidak mau pergi ... aku mau di sini. Jarang-jarang aku mengunjungi kantor kakakku."
"Ayolah Tuan Muda, tolong kerja samanya. Biarkan mereka menyelesaikan urusannya berdua. Ini semua juga salah Anda yang hobi memancing bapak piranha."
Ocehan William dan Rico terdengar jelas di telinga Lisa dan Farhan. Sampai akhirnya menghening bersamaan dengan pintu yang tertutup, rapat.
Berlenggang tak acuh, Farhan kembali ke meja kerjanya tanpa berkomentar apa-apa. Kesadaran pria itu mulai waras kembali. Membuat ia malu sendiri jika mengingat kejadian memalukan yang menghancurkan harga dirinya sendiri.
"Apakah kamu tidak penasaran dengan apa yang dibisikkan William padaku, Sayang? Bukahkan tadi kau sangat antusias ingin mengetahuinya? Ck." Lisa berjalan mengikuti Farhan. Lalu duduk dipangkuan pria itu seperti biasa.
"Aku sudah tidak tertarik. Keluar dari ruanganku sekarang. Berhenti mengganggu! Kau ingin kalung itu, jadi pakailah sampai mati." Jemari tangannyan memijit pelipis, pusing. Farhan menyalakan monitor layar seolah tidak peduli dengan adanya Lisa di pangkuannya.
"Tapi aku mau cerita! Aku menyukai kalung ini," ujar Lisa sambil membusungkan dadanya agar kalung itu nampak jelas di mata Farhan.
"William bilang kalung ini adalah desain tangan mami Dina. Mami sengaja mendesain liontin batu syafir berwarna biru ini khusus untukku. Tapi mami bilang malu memberikannya padaku karena kami belum akrab. Jadi menyuruh William ke sini untuk memberikannya padaku." Ia mengelus liontin berbentuk hati itu sambil tersenyum cerah. "Apa kamu tahu, liontin hati biru menggambarkan cinta abadi. Mami Dina berharap kita bisa seperti itu suatu hari nanti."
Lisa terus mengoceh di pangkuan Farhan. Tidak peduli pria itu mendengarkan ucapannya atau tidak. Namun, ada aura lega di wajah Farhan saat mendengar asal kalung itu dari mami Dina. Yang kemudian berubah murka kembali saat Farhan teringat bahwa ia sedang dikerjai William.
"Jadi, Tuan Farhanku yang budiman ... kapan kamu bisa mewujudkan harapan mami Dina tentang cinta abadi?"
"Kapan-kapan," jawab Farhan jutek. Pria itu sudah aktif kembali pada pekerjaannya. Matanya fokus menatap layar sambil terus mengecek jadwal hariannya beberapa jam ke depan. "Mana data-data yang aku minta kirim ke email-ku? Apa kau sudah mengirimkannya? Sepertinya aku tidak menerima email apapun darimu."
"Tunggu dulu!" Ia mengambil setumpuk file dari meja samping. "Tolong sekalian cross ceck file yang hendak kupresentasikan besok."
Lisa menerima uluran file itu dengan berat hati. Seberat di timpa reruntuhan bangunan beserta isinya. "Baik Tuan ... saya akan kerjakan sekarang juga."
"Hmmm." Pria itu berdeham tanpa menoleh.
"Tapi, izinkan aku bertanya untuk satu hal ini. Bolehkah minta waktumu sebentar saja?" Lisa menatap Farhan penuh harap. File di tangannya di dekap erat, takut Farhan murka dengan pertanyaannya.
"Tanya apa?"
"Yang masalah tadi, bisakah aku menganggap bahwa kau sedang cemburu dengan sikap William?"
"Aku tidak tahu!"
Jawaban Farhan membuat Lisa tertunduk lesu. Memang sudah seharunya ia tidak menanyakan hal tidak berguna seperti itu. Farhan tidak akan menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting.
"Baiklah. Seharusnya aku tidak bertanya hal seperti ini padamu. Maaf kalau lancang." Ia melangkah berat menuju pintu keluar. Saat sedang memutar handle pintu, Farhan berseru kembali,
"Tapi kamu boleh menganggapnya seperti itu jika kamu mau."
Krup!
Lisa menutup pintu secepat kilat. Ia tidak berani menjawab ucapan Farhan barusan. Jantungnya berdetak kencang seperti gendang yang mau pecah. Gumaman Farhan sangat pelan. Namun, Lisa masih dapat mendengarnya samar-samar. Ia ingin berbalik untuk memastikan, tapi Lisa sudah tahu bahwa Farhan tak akan mau mengucapkan kalimat semanis itu dua kali.
Apa yang baru saja dia katakan? Apa artinya dia mengaku kalau sebenarnya cemburu. Aneh sekali penyampaiannya.
***
Up ke dua, nanti kalau bnyk yg vote aku up 1 kali lagi. Hehehe.