
"Istrinya tiga menit!"
Mba Vivi teriak girang bagai menemukan peta harta karun peninggalan Flaying Ducthman. Lisa tersenyum kikuk, ia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita nyinyir yang sempat membuat hubungannya dengan Farhan merenggang seperti jemuran kripik rengginang. Untung di depan toilet tidak ada orang.
"Eh, Mbak Vivi?" Lisa menepuk jidatnya tidak senang. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Hatinya ketar-ketir dipenuhi rasa tidak tenang.
Takut Farhan melihat dan ia kena batunya lagi.
"Eh, jangan malu-malu, ketauan sama mbak gak masalah. Rahasia kamu dan si tiga menit aman, Lis." Mbak Vivi mengedipkan mata dengan tangan membentuk kode huruf O.
Siapa yang malu, Mbak? Justru aku takut ketiban sial lagi karena bertemu denganmu, batin Lisa sebal. Ingin kabur tapi ada Farhan yang harus ia tunggu.
"Mbak Vivi ngapain sih, di sini?" Nada bicara Lisa sedikit sewot.
"Jangan galak-galak! Lagi PMS ya? Tentu saja aku ke sini karena sedang ada perlu," balas mbak Vivi ikut-ikutan sewot. Lalu senyumnya kembali mengembang dengan alis naik turun. "Akhirnya kamu bisa jujur pada suamimu ye, kands? Bagaiman, dia tidak marah 'kan? Abaikan saja kalau marah, yang penting hempaskan dulu tiga menit yang meresahkan jiwa itu," ujar mbak Vivi heboh sendiri. Suaranya sangat keras dan tidak terkontrol. Beruntung masih tidak ada orang lewat di area itu.
"I-iya Mbak," jawab Lisa agak terbata sekaligus malu. Perasaan ia merasa sudah tumbuh menjadi gadis paling barbar, ternyata ada golongan level barbar akut yang lebih parah darinya.
"Cari tempat ngobrol, yuk!"
Mba Vivi mengibaskan rambutnya seperti cacing kepanasan. Ia mengajak Lisa untuk duduk di ruang tunggu lantai satu. Lisa yang tak berdaya hanya bisa mengikutinya—pasrah pada Takdir Tuhan Yang Maha Esa.
Sesampainya di ruang tunggu, Lisa dan mbak Vivi mulai mengobrol selayaknya orang normal, walau sikap mbak Vivi seperti tidak normal di mata Lisa. Dia suka sekali menggoda Lisa. Anehnya hanya Lisa seorang yang ia goda. Sejauh ini hanya dengan Lisa, mbak Vivi dapat ngobrol santai sambil tertawa lepas. Karena kariyawan lain tidak berjiwa merakyat dan lebih suka tebar pesona di depan boss. Hanya Lisa dan mbak Vivi yang barbar apa adanya.
Lisa kembali menatap mbak Vivi. Jiwanya resah bersamaan dengan wajah penuh keluh kesah.
Aku sudah mencoba jauh darimu, Mbak! Tapi kamunya yang melilit terus seperti ular. Jadi jangan salahkan jika kau ketiban kandang gajah tuan Farhan, batin Lisa geram.
"Suami Mbak mana? Nanti Nyariin loh," ujar Lisa mengingatkan, berharap Vivi paham, cepat pergi, dan menghilang. Jangan sampai Farhan Budiman datang memergokinya lalu membuat karir mbak Vivi yang hilang. Lisa masih punya belas kasih jika Vivi tahu diri untuk kali ini.
"Suamiku di rumah," ujar Mbak Vivi cengengesan.
"Loh, kirain mbak Vivi ke sini nganterin suaminya," balas Lisa agak bingung.
"Aku sengaja bolos kerja, dan kesini untuk terapi pengencangan buah dada, biar tambah semok Lis. Kalau suamiku mah udah tahan dua jam lebih, dia gak akan goyah meski hujan petir sekalipun." Mbak Vivi menepuk bahu Lisa, sok malu-malu padahal aslinya sedang pamer.
"Iya, aku percaya, kelihatan setiap pagi Mbak Vivi selalu datang telat sambil megangin pinggang mulu," sindir Lisa tak mau kalah.
"Nanti juga kamu akan kuwalahan kalau tiga menitmu sudah disulap jadi tiga jam," balas Mbak Vivi yang mulutnya selalu jadi top komentar. Berada di depan dan tidak pernah terkalahan.
"Iya, Mbak! Kalau perlu aku cuti bulan madu seminggu. Biar bisa ngerem di kamar 24 jam non stop," sungut Lisa menimpali.
Entah mengapa, telinga Lisa selalu panas setiap kali mendengar kata tiga menit keluar dari bibir mbak Vivi. Ia penasaran, apakah mbak Vivi masib berani mengejek kalau sudah tahu siapa sosok astral di balik tiga menit yang dia agungkan.
Rasa iba dan kasihan Lisa mendadak hilang, ia berharap mbak Vivi bertemu Farhan agar tidak nyinyir lagi.
"Lisa!"
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Suara horor itu bak panggilan kematian. Lisa dan mbak Vivi menoleh pada sumber suara.
Seperti dugaan Lisa, Farhan datang seperti jailangkung. Baru saja diomongin.
"Iya. Saya," jawab Farhan logis.
"Nga-nga-apain di sini, Tuan?" Mbak Vivi mendadak kehilangan selera humornya. Lehernya tercekat, bibirnya kelu bersamaan dengan tubuh yang meremang tiba-tiba.
"Saya berobat, sesuai dengan rekomendasi kamu waktu itu."
Alamaaaak, jerit mbak Vivi dalam hati.
Seketika pikirannya melayang. Sukmanya transmigrasi jauh ke kayangan, namun tubuhnya masih ketinggalan di atas bumi. Herannya tidak mau diajak terbang bersamaan.
"Jadi suami Lisa adalah--" Leher mbak Vivi semakin tercekat. Bingung menghadapi mimpi buruk yang datang di siang bolong. Namun wajah Farhan yang tampat tenang menyiratkan semua yang Vivi mimpikan adalah nyata.
"Humm, aku adalah suami Lisa. Kenapa kamu tidak kerja?" tanya Farhan datar seperti biasa. Ia menarik Lisa dari posisi duduk, lalu menggandeng tangan Lisa tanpa rasa malu. Farhan tidak menutupi statusnya di depan Vivi dan terkesan terang-terangan.
"Ya Tuhan!"Mbak Vivi membenturkan kepalanya ke tiang yang ada di belakangnya.
Demi kerang ajaib, Mbak Vivi tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi. Ia ingin terjun dari lantai tiga belas saja kalau bisa.
"Ma-maafkan saya, Tuan." Mbak Vivi menunduk takut. Meremas jemari dan meraskan tubuhnya yang semakin bergetar hebat.
"Semoga doamu terkabulkan, dan penghinaanmu tentang tiga menit lekas berubah jadi tiga jam," ujar Farhan mengingatkan hinaan Vivi tempo lalu.
"Maaf Tuan, saya salah."
Mbak Vivi menatap Lisa takut-takut. Berharap ada pembelaan dari bocah asuhannya yang belum genap satu bulan.
"Lis, kenapa kamu tidak bilang kalau suamimu--" Sungguh, menyebut nama Farhan pun rasanya tidak berani. Terlalu horor bagi Vivi. Otaknya trauma mendengar nama itu.
Lalu Lisa menjawab dengan senyum puas yang artinya mengejek balik mbak Vivi si kariyawan bermulut lakhnat itu.
"Hubungan kami masih belum bisa diekspos, mohon untuk merahasiakannya ya, Mba. Tolong rahasiakan juga masalah tiga menitanya suamiku." Lisa mengedipkan mata, seolah meneriakki kecerobohan rekannya itu.
"Ayo kita pulang." Farhan menggandeng Lisa dengan arogan. Meninggalkan Vivi yang statusnya seperti jembatan gantung. Tidak jelas dipecat atau tidaknya.
"Mati aing ... mati ... Mak Kolottt," teriak Vivi kebingungan. Segala sumpah serapah keluar di dalam hati Vivi saat ini.
"Tuan!" Ia hendak minta maaf, namun Lisa melambaikan tangannya tanpa menoleh. Memberikan kode bahwa Farhan tidak bisa diganggu saat ini.
"Tak pernah terlintas dalam benakku bahwa si tiga menit adalah Anda Tuan! Sepertinya aku harus mandi kembang untuk buang sial," gumam Vivi menangis miris.
Jika posisi ini ada pada wanita lain, pasti mereka tidak akan mengira bahwa boss agung bertubuh seksi itu ternyata memiliki masalah ranjang. Dunia akan tercengang kalau tahu kebenaran tentang tuan Farhan yang budiman.
Tiga menit?
Astaga! Bahkan kata itu tidak pernah terbesit di pikiran Vivi saat melihat Farhan sebelumnya. Entah ia harus keluar tanpa berpamitan, atau berpamitan sambil menerima konsekuensi berat karena telah menghina boss tempo lalu
***
Hello, maaf ya, aku nulisnya asal. Masih g enak badan btw.
Jangan lupa kasih dukungan komen dan vote kalau kalian suka ceritaku.