HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Ketahuan



Setiap kali melihat wajah Farhan, Lisa selalu teringat kejadian buruk di malam pertamanya. Sebuah durasi tiga menit yang mampu membobol keperawanannya, lalu menyisahkan tubuh kesakitan seperti tulang yang dipatahkan. Tidak ada enak-enaknya sama sekali. Lisa jadi malas jika harus mengulangi kegiatan itu lagi.


Ah, tiga menit sialan. Kapan kau akan terhapus dari ingatan Lisa?


Ya begitulah manusia, setiap orang selalu memiliki kebaikan dan keburukannya masing-masing. Lisa tidak boleh membandingkan suaminya dengan lelaki lain. Bagaimanapun juga, Lisa harus memahami Farhan yang selalu menggantungkan hidupnya untuk bekerja sejak kecil. Bukankah kesuksesan harus diraih dengan bekerja keras? Begitulah kehidupan nyata Farhan yang berani meninggalkan kepentingan pribadinya demi sebuah kesuksesan. Lagi, tidak ada CEO yang bisa ungkang-ungkang santai tanpa berjuang. Kecuali CEO dikehidupan halu. CK.


Gadis itu berjalan pelan. Menatap kesunyian rumah tanpa ada siapapun kecuali ia dan beberapa pekerja di rumah Farhan. Lisa sudah pulang sesuai jam kerja nasional, sementara Farhan biasa lembur dan pulang jam sembilan malam. Sungguh, tugas CEO jauh lebih berat dari yang kita pikirkan. Tidak seenak dugaan para kariawan. Dia memiliki tanggung jawab besar. Terutama dalam mempertahankan lapangan pekerjaan untuk ratusan kariawan Revical Grup di bawah pimpinannya.


Sambil memegang air dingin yang baru saja diambil dari kulkas, Lisa berjalan pelan menuju ruang teve. Segar-segar ia kibaskan rambut basahnya sehabis mandi. Lantas menghempaskan tubuh lelahnya sambil meraih remot teve. Sinetron kesukaannya mulai diputar, Lisa telah kehilangan durasi tayangan selama 17 menit karena terlalu lama di kamar mandi. Ia pun merasa kekurangan. Begitulah wanita.


"Dasar Elsa sialan!" Gadis itu menggemeretakan giginya kesal saat melihat adegan greget yang tak ia suka. Biasalah, Lisa adalah kaum yang hanya suka adegan manis-manis. Lalu mengumpat jika ada adegan yang membuat otaknya memanas. Khas emak-emak jaman now.


(Sebenernya aku lagi nyindir pembaca. Wkkww.)


Saat ia tengah asik menonton, tiba-tiba pintu ruang di tamu terbuka. Lisa menoleh saat melihat suara anak kecil yang berlarian. Gawat. Sepertinya si kembar datang tanpa di undang. Ah, tentu saja mereka bisa datang kapanpun. Secara ini rumah mereka.


"Mati aku," gadis itu menepuk jidatnya pasrah.


Dalam sekejap, dua pasang mata polos dengan dua reaksi sedang menatap Lisa heran. Cello tampak bahagia dengan kehadiran Lisa, dan Cilla tampak benci sekali seperti melihat cacing berada di rumahnya.


"Loh, ada Lisa?" Bunda datang dari arah ruang tamu. Wanita paruh bayah itu sedikit terkejut saat melihat Lisa memakai baju tidur santai. Ingin bertanya ... akan tetapi sudah didahului oleh si kecil Cilla.


"Kakak mau apa di cini? Kok pake baju tidul? Kakak bobo di lumah Cilla, ya? Gak boyeh, puyang canah!" celutuk gadis kecil itu dengan pandangan menelisik. Sorot mata kebenciannya menguar pekat. Menimbulkan aura membunuh saat Lisa menangkap balik mata si polos itu.


"A-aku ..." Gadis itu tak dapat melanjutkan omongannya.


Lisa semakin gugup, ia jadi salah tingkah ketika melihat bunda menatapnya dengan sorot yang tidak dapat dijelaskan menggunakan lisan. Ingin sekali Lisa menjelaskan pada bunda bahwa ia sudah menikah dengan Farhan, tapi ia tidak mau membuat mental Cilla terganggu, apalagi sampai membuat trauma berat. Cukup ditinggal orang tua saja sudah berat, jangan sampai gadis kecil berhati sensitif itu tahu kalau Lisa sudah resmi menjadi ibu tirinya. Lisa yakin Cilla akan murka. Bagaimanapun ia sengaja menutupi pernikahan ini demi kebaikan Cilla. Sebelum Lisa berhasil membuat anak itu luluh, makan pernikahannya akan terus dirahasiakan.


"Cilla, jangan galak-galak sama Kakak Lisa. Nanti mamah Panda yang di surga marah loh!" Bunda memilih tak menanggapi keanehan pada Lisa. Lantas menasehati cucunya yang jutek itu.


"Kenapa mama malah?"


"Ya marah, Kakak Lisa itu temen dekatnya mama Panda. Dulu mereka sangat dekat, makan bersama, tidur bersama, sudah seperti lem. Lengket sekali," ujar bunda. Ada harapan bahwa si kecil Cilla akan luluh setelah mendengar cerita itu. Tapi Fakta berkata lain.


Hanya awalnya Cilla sedikit tertegun. Tapi ia menatap Lisa dengan pandangan tidak suka.


"Cilla gak suka kakak!" teriak Cilla emosi. Boneka yang ia pegang melayang ke arah Lisa.


Gadis kecil itu menangis, lantas berlari ke ruang bermain. Bunda yang merasa ada kerenggangan di antara Lisa dan Cilla segera berlari menyusul gadis kecil itu. Berniat menghibur pastinya.


Jujur saja, Cilla tidak suka melihat ada wanita yang berani mendekati ayah angkatnya. Gadis kecil itu cemburu ketika melihat Lisa selalu bersama Farhan. Ada rasa takut; takut Lisa merebut sang ayah darinya.


Rasa trauma kehilangan belum luntur dari gadis berumur empat tahun itu. Ia tidak mau kehilangan ayah seperti ia kehilangan orang tua kandung.


"Kakak jangan tangis ya," ucap Cello yang mulai mendekat.


Entah mengapa, hati Lisa sangat sakit mendapat perlakukan buruk dari Cilla. Meskipun dia anak kecil, tapi semua itu membuat Lisa merasa kurang percaya diri. Bahkan, alasan menjadi teman Jennie tidak membuat hati anak itu luluh.


Sepertinya perjalanan merebut hati sang anak tiri masih sangat jauh.


Lisa buru-buru mengusap air matanya. Lantas menggendong Cello yang sedari tadi memperhatikannya.


Pria kecil itu mengecup pipi Lisa lembut. Tatapannya yang menggemaskan membuat Lisa tersenyum hangat. Melupakan sejenak sakit hatinya pada Cilla.


***


Plak!


Satu pukulan mendarat sempurna di bahu Farhan. "Anak nakal!" sungut bunda saat mendengar penjelasan Lisa bahwa mereka sudah menikah diam-diam kemarin. Murka, sudah pasti bunda rasakan saat mendengar kelancangan anak kandungnya.


"Aku sudah berniat memberitahu, Bunda, tapi waktunya belum pas." Farhan membela diri.


"Awkk!" Bunda menjewer telinga Farhan, hingga Lisa yang ada di sampingnya terkekeh geli. Si dingin itu ada rasa takut juga ternyata.


"Bunda itu orang tua kamu Farhan," gerutu bunda yang masih tidak terima. "Hampir saja bunda berpikiran negatif andai Lisa tidak memberi tahu pada bunda kalau kalian sudah menikah."


Farhan melotot tajam ke arah Lisa. Tatapan itu seolah melempat tanya, kenapa kamu kasih tahu?


Sementara Lisa hanya mengedikan bahu tanpa rasa dosa.


"Ini juga ide Lisa bunda, kita sepakat untuk tidak memberi tahu siapapun demi Cilla. Karena anak itu sangat membenci Lisa," ucap Farhan membela diri.


"Tapi setidaknya kamu harus memberi tahu ibumu Farhan," protes bunda tidak mau tahu.


"Kenapa bunda tidak salahkan Lisa. Gadis itu juga bersalah." Menunjuk Lisa dengan kesal. Sampai Farhan lupa bahwa kegadisan Lisa sudah direngguk kemarin malam.


"Lisa masih kecil. Kamu sudah tua dan cukup umur. Tentunya kamu harus lebih dewasa. Apalagi kau adalah pemimpin rumah tangga," ujar bunda.


"Maaf bunda, Lisa juga bersalah," lirih gadis itu.


"Ya ampun.l!" Bunda merangkum wajah gadis itu. "Jangan menyalahkan dirimu. Anak bunda yang keterlaluan. Maaf ya, Lis! Tapi bunda bangga sekali mendengar kalian menikah. Tidak menyangka bahwa dunia selebar daun kelor. Jennie pasti ikut senang melihat kamu yang menjadi ibu si kembar."


"Cih!" Farhan mendengkus. "Dasar wanita, selalu membela kaumnya sendiri," lanjutnya sambil melengos kesal.


"Diam kamu! Bunda masih kesal padamu, Farhan. Hampir saja bunda menjodohkanmu dengan anak tetangga. Bagaimana kalau Lisa tahu? Pasti dia sakit hati."


"Sejak kapan aku mau dijodohkan?" Mata Farhan memicing sinis.


"Karena bunda khawatir, kamu sudah terlalu lapuk untuk dianggap bujangan. Tapi sudahlah, beruntung masih ada gadis yang mau dinikahi oleh manusia seperti kamu."


Reflek Farhan terbatuk-batuk. Kenapa bunda malah menjelekkan anaknya sendiri. Ah, tidak paham dengan pikiran ibu-ibu.


"Ke kamar anak-anak yuk, Lis! Kita cerita-cerita. Biarkan Farhan merenungi kesalahannya." Bunda menarik paksa lengan Lisa. Meninggalkan Farhan yang terlihat kesal padanya.


Aku tidak menyangka ada ibu kandung yang lebih membela menantu daripada anaknya sendiri. Farhan bangkit, lantas pergi ke ruang baca untuk mendinginkan pikiran.


***


Sekarang aku lagi baca karya Sisca Nasty yang judulnya Moving On. Keren, udah tamat lagi. Sampe lupa nulis tau.


***