
Farhan mengirim undangan via e-mail kepada Zian. Namun sudah berhari-hari pesan itu tak kunjung dibalas juga oleh si mantan mafia somplak yang sibuk mencintai dan menyayangi keluarganya sepenuh hati. Padahal, di sini Lisa sudah ngamuk-ngamuk tak jelas, bahkan sampai enggan tidur dipeluk oleh pria itu.
Dengan bantuan orang-orang kepercayaannya, akhirnya Farhan berhasil mendapatkan nomor ponsel Zian yang lama hilang. Tanpa pikir panjang lagi, pria itu langsung menghubungi nomor yang baru saja didapatnya.
Halo! Terdengar suara Zian sedikit keheranan di balik sana. Pria jenaka itu selalu menyimpan nomor Farhan, namun Farhan tak memiliki nomor Zian karena sempat kehilangan data ponsel.
“Hai, apa kabar?” Seperti biasa, Farhan menyapa dengan bahasa lugas dan datar. Yang pastinya terdengar garing dan membosankan di telinga orang yang mendengarnya.
Tumben kau menghubungiku. Aku pikir teman laknat sepertimu sudah melupakan teman lama!
Zian berusaha melucu agar tidak terjadi kecanggunan di antara mereka , namun tetap tidak ada reaksi apapun dari Farhan karena makhluk yang menghubunginya adalah spesies datar paling akut sedunia.
“Sebenarnya aku butuh bantuan.” Dengan tidak tahu dirinya Farhan langsung mengutarakan tujuannya tanpa pakai basa-basi.
Bantuan? Alis Zian sudah mengerut di balik sana. Jiwa mafianya yang telah lama pensiun tiba-tiba bangkit Kembali. Siapa yang mau diculik, botak selalu siap membantu!
"Iskh!" Farhan mendecak kesal. Ia tidak punya musuh, untuk apa menculik orang. “Bukan itu! Tapi sesuatu yang lain.”
Lalu apa?
“Istriku sedang hamil dan mengalami ngidam yang cukup ekstrim.”
Di balik sana, Zian mulai kebingungan. Otaknya dipenuhi tanda tanya, ada hubungan apa antara mengidam istri Fahran dengan dirinya.
Maksudmu?, kau mau memintaku menculik istrimu? Sebuah pertanyaan bodoh baru saja terucap dari mulut Zian.
“Bukannnnn!!!!” Farhan berteriak frustrasi sampai Zian harus menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Apa dia sudah gila! Suami mana yang mau merelakan istrinya diculik!" Farhan bergumam pelan sambil menjauhkan ponselnya dari mulut agar umpatannya tidak didengar oleh Zian.
Baiklah, lalu apa?
“Istriku sedang ngidam dan meminta bertemu denganmu.”
“Haa?” Karena terkejut Zian bangkit, dengan mata melotot dan mulut menganga. Sungguh kalimat yang terdengar main-main ketika sampai di telinga Farhan yang notabene apa-apanya harus selalu logis.
Tanpa Farhan pikir, bahwa Zian di balik sana sedang memutar otak. Entah wanita hamil yang aneh, atau justru dirinya yang norak. Hanya saja Zian tak habis pikir. Kenapa orang tidak dikenal seperti Zian bisa menjadi objek nyidam istri Farhan.
“Jadi bagaimana? Apa kau punya waktu luang?” Farhan memilih bertanya singkat demi kepastian karena tak mau lama-lama mengobrol.
Masih dengan sisa-sisa keterkejutannya, Zian Kembali terduduk di kursi. Jika di tanya perihal waktu, tentu saja ia punya banyak waktu. Sebab dirinya kini menyandang julukan pengangguran kaya raya oleh si Botak asistennya.
Baiklah, atur saja kapan waktunya. Aku punya banyak waktu luang, kok.
"Mungkin malam Minggu, konsep yang akan kubuat adalah double date, jadi tidak perlu membawa anak-anak."
Baiklah. Aku ikut saja, ucap Zian dari balik sana.
Pertemuan ini mungkin akan menjadi ajang pamer bagi keduanya. Tentang istri siapa yang lebih cantik dan baik.
*
*
*
Pintu itu dibuka perlahan. Farhan melangkah santai ke dalam. "Aku sudah menghubungi Zian. Malam Minggu nanti kita akan makan malam berempat dengan istrinya."
"Benarkah?" Bola mata Lisa berbinar. Ia langsung meletakkan ponselnya di atas nakas. "Akhirnya bisa tidur nyenyak, gak sabar pengin liat kembaran mantan!"
Ups!
"Apa kau bilang?" Bola mata Farhan menyalang murka dengan intonasi bicara yang sudah berubah kasar.
Lisa mengerjap gugup seraya menutup mulutnya. Duh, kenapa bisa keceplosan gini sih, mati saja aku kalau dia sampe ngamuk.
"Jadi kau ingin bertemu Zian karena dia mirip mantanmu?"
"Bu-bukan!" Tergugu-gugu Lisa berkata.
Harus dengan cara apa aku menjelaskannya?
Siapa saja tolong aku, otakku buntu nih.
Farhan sudah menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Pria itu memilih diam dengan mata yang terus menatap langit-langit kamar.
Beginilah Farhan saat sedang marah dan cemburu. Malas berbicara, dan memilih cosplay menjadi batu bernapas antik yang tak mau diusik.
"Maaf Mas!" Lisa sudah menurunkan dua tali baju tidurnya. Sedikit membuka belahan agar kemarahan Farhan teralihkan. Namun pria itu tidak peduli, bahkan melirik pun tidak sama sekali.
Aduh, gimana ini?
"Mas, kata dokter Sashi malam ini kita boleh melakukannya loh!"
Diam. Keheningan di kamar itu sudah tidak dapat dikendalikan. Tubuh Lisa yang aduhai tak mampu lagi meluruhkan hati mas Parlan sayang yang tengah dilanda badai kecemburuan.
"Mas! Aku pengin," ujar wanita itu lagi.
"Aku sudah biasa main sendiri." Dua bakpao dan kue apem yang disodorkan oleh Lisa langsung ditolak mentah-mentah oleh pria itu.
"Gak enak main sendiri, mendingan dimainin aku." Persetan dengan harga diri, Lisa terus maju demi mendengar kata maaf dari mulut pria itu
Alih-alih berhasil, Farhan malah berbalik memunggungi Lisa. Siapa saja tolong bantu Lisa. Ingin rasanya Lisa menjerit dan menangis kalau begini caranya.
***
Hai. Ada yang kangen aku ngga? Wkwkw.
Minal aidzin wallfaidzin ya. mohon maaf lahir dan batin semua permata hatiku alias yang mau baca ceritaku. Maaf lama gak update. Aku mabok rendang sama opor ini. Kwkwkw.
Permulaan segini dulu ya. Nanti coba aku udpate kembali, tapi kalau banyak yang kasih kopi dan bunga. Wkwkw.