HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Muntah-Muntah



Peringatan keras, hanya untuk dua sate ples ke ke atas.


***


"Maaf."


Farhan menjatuhkan dagunya di pundak Lisa. Mendesah pasrah saat ia sudah game over sebelum bertanding di arena balap. Kudanya kembali lemas, terpuruk dan tidur sambil mendengkur. Malu Farhan sudah tak tertahankan. Pria itu gagal lagi saat melakukan percobaan yang ke tiga kali.


Hanya awalnya saja yang terlihat keren seperti pemain profesional. Nyatanya, onta Farhan muntah-muntah sebelum berhasil masuk ke dalam goa beracun milik Lisa. Para kecebong yang sudah siap-siap masuk di area balapan menangis histeris. Menjerit-jerit karena mereka gagal lomba lari. Miris sekali. Tak ada satupun di antara ribuan kecebong yang berhasil mencapai garis finish. Mereka terbuang sia-sia di depan mulut goa. Membuat si pemilik goa marah-marah karena benihnya berceceran di mana-mana.


Lisa mengatur napasnya yang terasa berat. Lagi, ia harus merasakan sensasi gila yang kepalang tanggung gara-gara tindak kejahatan seorang Farhan. Sungguh tidak ada perikewanitaan sama sekali.


"Aku mau mandi," ujar Lisa. Farhan langsung menahan lengan wanita itu agar jangan beranjak dari pangkuannya.


"Apalagi?" Lisa memutar bola matanya sebal. Enggan melihat wajah Farhan yang dipenuhi rasa bersalah.


"Aku sudah menolak, tapi kau yang terus-terusan menggodaku." Farhan berujar. Mengingatkan kelakuan Lisa jika ia kelupaan.


"Iya, tidak masalah! Sebagai seorang istri, sudah kewajibanku melayani suami dengan sepenuh hati. Walau pada akhirnya gagang gayung Anda bocor sebelum bertempur." Lisa menarik sudut bibirnya, berat. Mencoba tersenyum meski dalam hati dongkol luar biasa.


"Apa kau masih mempunyai kartu nama klinik mister Tong Jay?" tanya Farhan malu-malu.


Mata Lisa membola seketika. Tak menyangka bahwa Farhan si batu bernapas mau mendatangi tempat memalukan seperti itu. "Ma-ma-u apa Anda menanyakan kartu nama itu?" Lisa balik bertanya dengan gaya terbata-bata.


"Tentu saja aku ingin ke sana. Mungkin ada yang salah dengan diriku," ujar Farhan. Pria itu memeluk tubuh polos Lisa. Mengusapnya dengan gerakan lembut dan penuh kasih sayang. "Maukah kau menemaniku untuk memeriksakan diri? Aku malu," aku Farhan dengan nada lirih.


Darah shoy menjalar di sekujur tubuh Lisa.


"Eh, iya Tuan. Aku akan menemani Anda ke sana." Lisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Melihat wajah Farhan yang sangat sedih, membuat wanita itu merasa iba. Harusnya Lisa mendukung Farhan, bukan malah marah-marah di saat suaminya tidak berdaya.


Tak mau terjerat dalam romansa kecanggungan, Lisa berkilah gerah dan hendak berendam di bathup kamar mandi. Ia langsung bringsut, lalu beranjak ke kamar mandi dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.


"Aku ikut," Farhan menahan pintu kamar mandi saat pintu hendak ditutup. Sementara Lisa hanya tertunduk malu ketika Farhan mengikutinya masuk ke dalam. Satu tali uang dengannya, Farhan juga tidak mengenakan sehelai benang pun.


Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya bathup itu telah terisi air hangat hingga mencapai bibir permukaan. Farhan masuk terlebih dahulu. Duduk bersandar sambil menengadah ke atas langit kamar mandi.


"Apa kau tidak jadi berendam?" Pria itu menoleh pada Lisa karena wanita itu tak kunjung masuk. Maju mundur tidak jelas sambil menutup bagian pentingnya dengan kedua tangan.


"I-iya." Lisa segera masuk ke dalam air. Duduk agak jauh dari jangkauan Farhan karena malu.


"Kemarilah, bukankah kau tadi sangat buas menggodaku? Kemana nyali besarmu itu?" tanya Farhan. Nada suaranya mengejek dengan bibir tersungging tipis.


"Tapi aku malu kalau mandi bersama. Lagian, aku dalam keadaan sadar seratus persen," kilah Lisa protes.


Mau tidak mau Farhan menarik lengan wanita itu. Memaksa Lisa agar duduk di pangkuannya hingga mereka saling berhadapan satu sama lain.


"Kau masih punya malu ya?"


Farhan menjatuhkan bibirnya di atas milik Lisa. Menyesapnya dengan lembut sambil menekan remot batangan yang sudah diisi batrai. Tangan kekarnya mengelus punggung Lisa hingga getar gairah wanita itu kembali bangkit. Dalam diam, Lisa membalas ciuman Farhan dengan gerakan lembut. Mengalungkan kedua tangannya di pundak Farhan agar dapat lebih mudah meresapi pergulatan bibir mereka.


Cukup lama mereka dalam posisi itu, saling membelit, menyesap, berlomba-lomba menaikan gairah nikmat setinggi-tinggi mungkin. Farhan dan Lisa sama-sama buasnya. Ia menyerang bibir Lisa seraya meremas dua biji bakpau wanita itu. Memainnkannya dengan lembut sambil sesekali memutar choco chipsnya seperti gerakan disko.


"Bolehkan aku mencobanya sekali lagi?" izin Farhan hati-hati. Lisa memeluk Farhan hingga bakpau hangatnya menyentuh permukaan bidang pria itu. Mendekatkan bibirnya pada telinga sang suami.


"Aku adalah istrimu, Tuan, kau boleh menikmatiku seberapa banyak yang kau mau. Jangan sungkan, aku siap melayanimu," bisik Lisa, nakal. Di saat gairahnya terpancing, Lisa langsung berubah menjadi istri binal yang selau memberikan kejutan indah untuk Farhan.


Farhan merangkum wajah Lisa senang. Ia bertanya dengan alis yang dinaikan satu. "Apa kau ingin melakukannya di sini?" goda Farhan mulai berani.


Lisa menggeleng samar. "Angkat tubuhku, kita lakukan di atas ranjang saja." Lisa bergelayut manja.


Dengan semangat, Farhan mengangkat tubuh Lisa. Melangkan pelan dan membiarkan air dari tubuh mereka berjatuhan sepanjang berjalan.


Farhan merebahkan badan Lisa hati-hati. Mengunci tubuh berharga sang istri di bawah kungkuhan dada kekarnya. Tanpa sungkan, pria itu kembali menjatuhkan wajahnya di atas permukaan roti bakpau isi coklat milik Lisa. Menyesapnya kuat-kuat sambil tangannya meremas satu bakpau yang satunya lagi. Lihai, ia mengajak bakpao Lisa naik komidi putar hingga Lisa menggelinjang tidak karuan.


Ia mulai tidak bisa mengontrol diri. Dadanya bergemuruh seperti ada ribuan kuda berlarian di dalamnya. Nikmat yang tiada tara menjalar di sekujur tubuh Lisa. Farhan begitu pandai memanjakan dua pusat antena di tubuh Lisa. Membuat wanita itu mendesah dengan tubuh kelojotan.


Oh, astaga! Apakah ini benar Tuan Farhan? Lisa nyaris tak menyangka Farhan bisa melakukan hal gila seperti itu.


Perlahan tapi pasti, Farhan mulai turun gunung dan bersiap menceburkan diri ke lembah hutan amazon milik Lisa. Wanita itu langsung menahan kepala Farhan. Wajahnya merona malu sambil menggelengkan kepalanya. "Jangan lakukan itu!" tahan Lisa. Namun Farhan yang sudah kepalang tanggung, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Ia segera membelah lebatnya hutan amazon agar segera mencapai titik lembah. Menenggelamkan hidup dan matinya ke dalam lembah beracun yang biasa di sebut terowongan surga.


Lisa langsung meraih bantal untuk menutupi wajah meronanya. Demi apapun, Lisa sangat malu diperlakukan seperti itu. Terlalu gila, Lisa tidak pernah mengharapkan hal seintim itu terjadi padanya. Namun, tubuh Lisa berkata lain. Rasa panas mulai menjalar disekujur tubuhnya. Ia sangat menikmati petualan yang Farhan lakukan di hutan Amazon. Merasakan kelembutan dari benda licin yang terus berputar-putar pelan hingga matanya terpejam dalam balutan rasa nikmat.


Tanpa sadar, Lisa menekan kepala Farhan lebih dalam. Menuntut pria itu agar jangan sampai menghentikan permainannya.


Rasanya sungguh sulit untuk diutarakan. Terlalu nikmat bila dijelaskan. Lisa suka, ini adalah perlakuan teristimewa yang perbah ia dapatkan. Lisa terbang hingga ke ujung nirwana? Ah, tak bisa dihentikan. Seratus persen nikmat untuk seorang Lisa yang baru pertama kali dijamah benda seperti itu.


Lisa semakin Liar. Ia memanggil nama Farhan dengan racauan tidak karuan. Sementara Farhan masih sibuk memainkan wahana ombak di bawah sana.


"Faster, Baby!"


Lisa mencengeram rambut Farhan sekuat tenaga. Mendesis seperti ular joged India—dengan tubuh yang semakin mengetat. Sesuatu di bawah sana akan segera keluar. Farhan segera mempercepat penjelajahannya agar sang istri cepat menuntaskan apa yang ia tunggu.


Tiba-tiba tubuh Lisa bergetar hebat. Ia menengadah ke atas hingga pupil matanya memutih. Sesuatu yang hangat mengalir di bawah sana. Farhan menyambutnya dengan kecupan mesra. Ia merasa bangga karena telah berhasil menuntaskan hasrat sang istri.


Setelah memberi jeda lima menit, Farhan mulai memasukan pusaka berharganya pada goa milik Lisa. Menekannya dengan kuat sambil memandangi wajah lelah istrinya.


Ia mulai memainkan iramanya gerakannya hati-hati. Merasakan terapi pijatan lembut yang membuat jiwanya melayang-layang.


Oh betapa nikmatnya mengajak dedek gemes naik komidi putar. Farhan selalu terbuai setiap kali memasuki aneka wahana yang ada. Apalagi saat mendengar desahan indah Lisa yang tidak pernah berhenti.


Senikmat itu rasanya menikah. Sampai Farhan menyesal karena menikah di usia tua.


Malam itu, mereka melakukannya berkali-kali. Ada banyak durasi yang tidak mereka hitung berapa pastinya. Mungkin lima belas menit, dua puluh menit, atau bahkan lebih seiring bertambahnya ronde permainan. Yang jelas, Lisa merasa puas. Walaupun Farhan tidak tahan lama seperti yang lainnya, tapi ia mampu melakukannya lebih dari tujuh kali.


***


Kalian jahat. Tega sama aku, masa aku suruh nulis ginian 😭. Pokonya bakalan dihapus, buat yang gak sempet baca, sukurin.


Jangan Lupa kasih vote sampe akar-akarnya. Hargai kerja keras aku di bab ini. Selamat malam Jum'at! Gudlakk buat yang udah nikah.


(Alur sudah di hapus dan direvisi sebagian)