
Tanpa mengerti rasa tertarik apalagi cinta, Cello berniat menikahi gadis berusia sepuluh tahun itu jika sudah besar nanti. Meskipun sudah berada di Surga, Cello ingin membahagiakan papahnya sebisa mungkin.
Karena kata bu guru, setiap anak wajib membahagiakan orang tuanya jika sudah besar nanti. Namun Cello tidak bisa melakukan itu lantaran alam mereka sudah berbeda. Jangankan membahagiakan, melihat jasad atau berkunjung ke makamnya saja ia tidak bisa. Tubuh Reyno dan Jennie abadi di dalam laut luas. Jadi Cilla dan Cello hanya bisa pergi ke pesisir pantai setiap kali kangen atau hendak memperingati hari kematian orang tuanya.
Maka dari itu, Cello sangat antusias saat pak Farik menceritakan celotehan Reyno yang katanya ingin menjodohkan anak mereka jika sudah besar nanti. Entah pikirannya yang terlalu jauh atau terbawa perkembangan jaman masa kini, Cello merasa pengorbanan itu layak dilakukan demi menjadi anak yang berbakti.
"Malika berkata kembali. "Pesenin aku bakso dong," ujar bocah itu ngelunjak. Sesekali Cello memang patut dikerjai agar berhenti mengganggu Malika.
"Mana uangnya," tanya Cello sambil menodongkan tangan ke arah Malika tanpa rasa malu.
"Nih," sungut Malika jutek, dan memberikan uang sepuluh ribuan kepada Cello. "Katanya mau nikahin, tapi gak bisa nraktir aku. Dasar omdo. Masih kecil udah suka modus!"
"Aku gak punya uang tau," jawab Cello jujur.
"Emangnya uang kamu kemana?" Malika mengernyit bingung. Melihat penampilan Cello yang keren setiap hari, harusnya dia anak orang kaya, 'kan? Tapi kenapa tidak punya uang? Begitulah isi pikiran Malika sambil terus menatapi anak kecil di depannya.
"Uangnya aku tabung. Biar bisa ngajakin kamu kabur. Tadi aku mau bilang begitu lewat surat, tapi gak jadi karena suratnya ilang."
"Kabur?" Gadis kecil itu melongo cengo. "Siapa yang mau kabur sama kamu. Dasar anak kelas dua gak jelas!" Malika mengibas-ngibaskan tanggannya di depan muka pura-pura kegerahan. Jika dilihat orang dewasa, mereka berdua sangat lucu. Yang laki-laki polos, dan yang perempuan jutek jutek menggemaskan.
Cello menjawab sesuai logika polosnya. "Seminggu yang lalu aku ngintipin kamu pas lagi nangis di belakang sekolah. Kan kamu sendiri yang ngoceh pengin kabur karena gak tahan sama kakak kamu yang galak dan suka mukul itu."
"Malika terperanjat. "Aku gak serius, Oon!" Dia menjewer telinga Cello saking geramnya.
"Oh gitu, kirain kamu serius. Makannya aku mau bantuin kamu kabur. Nanti kamu tinggal di rumah nenekku aja. Entar kalo gak dikasih uang jajan sama nenek, aku siap kasih uang jajan aku buat kamu."
"Dih, gak maulah! Kadang kalo lagi berantem sama kakak emang suka gitu, tapi kalo aku kabur ayah dan ibu bakalan khawatir. Main lama-lama aja dicariin," ujar Malika menerangkan sebagai anak yang lebih tua dan lebih nalar dari Cello.
"Emm. Yaudahlah. Kalo gitu aku mau beli baso dulu deh." Pria kecil itu tertunduk sedih sambil berjalan ke arah kasir untuk membeli bakso pesanan Malika. Karena gadis itu membahas ayah, ia jadi sedih lantaran tak bisa sedekat itu dengan orang tua kandungnya.
Cello rindu papah, rindu mamah juga.
Air mata si polos itu menetes. Meskipun ada Farhan dan Lisa yang selalu memberikan kasih sayang tak terbatas, tetap saja perhatian dari kedua orang tua kandung tidak ada duanya. Kadang Cello merasa iri terhadap teman-teman sebayanya yang masih memiliki orang tua lengkap. Cello ingin seperti itu juga. Jadi anak-anak normal yang masih memiliki orang tua kandung.
*
*
*
Side story
Satu bulan sebelumnya. Cello berjalan sendiri melalui koridor sekolah. Karena hari ini ada lomba menggambar antar kecamatan, jadi Cello pulang telat tanpa ditemani adiknya seperti biasa.
Cello memilih duduk menunggu supir pribadinya di tempat tunggu antar jemput. Saat ia tengah asik bermain rubik, tiba-tiba ada orang yang menggendongnya dari belakang. Ia berteriak seraya memukul tubuh kekar dan sedikit kriput tersebut karena termakan usia.
"Hei ... hei," seru pak Farik yang langsung menurunkan bocah itu karena tak tahan dipukuli wajahnya.
"Panggil aku Om," protes pak Mandor tidak terima. "Kamu kayak papahmu saja, om kan sudah jadi manager umum. Bukan mandor bangunan lagi."
Cello hanya meringis lucu. Menampilkan gigi bersihnya yang seputih mutiara. "Pak Mandor ngapain di sini?" tanya anak itu. Tetap memanggil sesuka hatinya seperti sang ayah.
"Huh ... suruh panggil Om susah amat! Tentu saja bapak sedang menjemput Malika."
"Malika?" tanya Cello heran. "Siapa tuh, namanya kayak kecap!"
"Sembarangan, Malika itu anak perempuan yang paling bontot. Dia satu-satunya anak perempuan bapak dari empat bersaudara. Sekarang sudah kelas empat SD, dulu 'kan sering main bareng kamu waktu kamu masih umur dua tahun. Pasti kamu lupa," ujar pak Farik seraya duduk di koridor tunggu.
"Gak kenal, Pak."
"Kenalan dulu makannya, sapa tau suka."
"Ikh, apaan sih?" Cello memalingkan wajahnya malu. "Aku tuh sukanya sama Iron Man, bukan Malika si kecap," jawab Cello jujur sambil membanggakan pahlawan virtual kegemarannya.
Pak Farik berkata lagi, "Dulu waktu hamil kalian, papa kamu suka banget sama Malika. Katanya dia pengin anaknya berjodoh sama Malika, hehe."
"Maksudnya gimana sih, Pak?" Cello mengernyit bingung mendengar pembahasan tak layak itu. Ia masih belum paham, apa itu jodoh.
"Mendiang papahmu ingin salah satu anaknya menikah dengan anak bapak. Itu maksudnya. Kalau kamu mau, sama Malika aja," goda pak Mandor.
"Bapakkkk. Kan kita masih SD! Nanti kalo nikah dimarahin bu guru."
"Maksudnya kalo udah gede. Dasar titisan akang gendang." Pak Farik jadi teringat kelakuan lucu menggemaskan ayah Cello yang kurang lebih seperti ini tingkah polosnya.
Saat Cello hendak menjawab, tiba-tiba supirnya datang menjemput. Ia terpaksa berpamitan dengan pak Farik dan memutus obrolan tak jelas itu.
Tidak ada yang aneh bagi pak Farik setelah berceloteh seperti itu, namun siapa sangka bahwa bualan bersama Reyno yang ia ceritakan tadi dianggap serius oleh Cello. Anak kecil itu mulai mencari tahu tentang kakak kelasnya Malika.
Saking inginnya ia berbakti pada orang tua, Cello sampai meneror gadis tak tahu apa-apa itu dengan surat pendek dan menunjukkan bahwa ia sangat ingin dekat dengan Malika.
semisal :
Hai Kakak cantik
Hai Calon Istriku.
Hai Kakak kelas empat, temenan yuk.
Dan berbagai surat lainnya.
***
Up dua bab hari ini ya. Jangan lupa kasih poin dong. Bunga dan kopinya yang banyak. Hehe.