HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 79 : (Season 2)



Setelah naik turun gunung, jungkir balik, lewati lembah, dan mala rintangan lain, akhirya drama ala-ala  proses pemotongan burung cicicuit minimalis itu berakhir penuh kelegaan.


Kini benda mungil nan keriput milik Cello telah siap tumbuh dengan penampilan bentuk baru yang lebih impresif dari bentuk sebelumnya. Kulit keriput yang suka dijadikan bahan ejekkan Cilla sudah hilang. Menampilkan permukaan berbentuk jamur imut yang siap mengeksekusi sarang laba-laba jika sudah tumbuh besar nanti.


Puncak acara yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Malam tepat jam tujuh, para hadirin mulai berdatangan menghadiri pesta meriah yang digelar oleh tuan Haris di sebuah aula hotel pribadi miliknya.


Cilla dan Cello dirias bak sepasang pengantin cilik. Mereka duduk berdua di pelaminan menatapi semua hadirin yang masuk lewat pintu lobi.


Farhan dan Lisa terlihat sibuk menyalami semua para tamu undangan yang datang. William selaku om yang baik mendekat ke arah dua bocah itu, ia yang mengatur semua acara pesta itu hingga menghadirkan kesan yang mewah, berbeda, tetapi tetap elegan dan tentunya merakyat seperti slogannya: PESTA RAKYAT CUCU SULTAN.


"Bagaimana pestanya, Ell? Kamu suka, 'kan?"


"Mana BLACKPINK- nya?" cecar Cello kesal karena tadi ia hanya melihat layar besar seperti layar tancap yang menampilkan suara BLACKPINK tanpa ada orangnya. Itupun hanya tersedia di luar. 


"BLACKPINK sibuk! Tapi om sudah mengundang beberapa penyanyi ternama dari negara kita. Mereka juga tidak kalah bagus dari BLACKPINK."


Cello mencibir. "Artisnya dangdut! Aku gak suka!" tukasnya.


"Dangdutnya di luar, untuk hiburan masyarakat umum. Yang di dalam 'kan bukan! Harusnya kamu bersyukur karena om membuat acara kamu dengan meriah dan dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat."


"Tapi yang di dalem musik-musik doang! Aku juga gak suka, Om!" Mata Cello melirik sebal ke arah panggung yang menampilkan grub jazz sedang mengayunkan alat musing masing-masing.


"Namanya juga musik jazz, Ell! Nanti kalau sudah malam ganti lagi, sabar dulu!"


“Iya, iya,” ucap anak itu pasrah.


Seharusnya ini menjadi acara anak-anak, tapi konsepnya campur aduk tidak jelas. Terlebih banyak sekali penjilat yang sengaja datang ke sini untuk mendekati tuan Haris ataupun Farhan agar bisa menjalin kerjasama.


 William melirik Cilla yang cemberut tak mau bicara sedari tadi. "Ini yang satu kenapa pula? Sudah cantik seperti putri, tapi bibirnya manyun terus!" William berjongkok di depan ponakan centil kesayangannya.


"Ngambek?" Menoleh lagi pada Cello karena sapaan jenakanya tak kunjung diacuhkan. Padahal biasanya anak itu paling manja kalau sudah bertemu William.


"Iya ngambek! Katanya adek pengin punya burung biar bisa ikutan disunat kayak aku!"


Cello menarik jass William pelan, kemudian berbisik, "Si Adek lagi iri liat orang-orang pada ngasih aku kado dan hadiah. Dia nggak ada yang ngasih satu pun, makannya pengin disunat juga."


Membuat Bibir William seketika membentuk huruf O tanpa suara. Pantas saja, terkadang mereka berdua tampak seperti pengantin ribut yang tidak mau dijodohkan saat dilihat dari kejauhan. Ternyata masalahnya terletak pada perbedaan jenis kelam*n, toh. Ada-ada saja konflik hidup anak kecil.


William berbicara lagi. “Uang ayah kamu banyak! Minta hadiahnya sama ayah saja.” Lantas mengusap kepala gadis kecil itu. "Jangan ngambek ya anak emas, nanti nggak ada cowok yang suka kamu kalau pasang bibir maju terus! Jadi perawan tua repot!"


"Apaan si Om!" Mode singa gadis kecil itu terurai. Membuat William bernostalgia memikirkan momen di mana ia pernah berkencan dengan ibu kandung gadis itu. Watak mereka sama persis kalau sudah marah. William tersenyum geli.


"Galak banget ponakan Om! Ya sudah, om mau menemui beberapa tamu dulu. Nanti kalau mau lihat hiburan yang ada di luar, kamu bilang saja ya, nanti om temani."


"Ok, Om!" jawab Cello seorang diri. Cilla masih cemberut dengan wajah bersungut-sungut. William berangsur pergi meninggalkan dua anak piranha itu untuk menemui tamu undangan lain.


“Udah jangan ngambek, nanti aku bagi kamu hadiahnya, ambil aja apa yang kamu mau,” ujar Cello kemudian mengusap rambut Cilla yang tergulung tusuk konde.


“Gak mau! Itu kan buat kakak, pasti isinya juga barang laki-laki semua!” 


“Ya, udah, entar kakak beliin boneka berbi sama rumahnya sekalian.”


"Mobilnya juga, nggak?"


"Iya, mobilnya aku beliin sekalian."


“Rumahnya yang ada kolam renangnya, ya!”


“Iya deh iya, kalau bisa yang ada air terjun skalian biar bisa ngintip berbi kamu pada mandi.”


“Kakaaakkk!”


***