
Sebagai anak kandung satu-satunya seorang Wicaksono Albraham, Rico masih tidak menyangka kenapa ayahnya berpikir untuk menjodohkannya dengan gadis model petasan banting seperti itu. Selain umur yang tidak sepadan dan tidak ada mirip-miripnya dengan Irene Red Velvet, Bebi juga termasuk biota aneh.
Lihat saja, hobinya pun maling sapi. Pasti anak itu masuk dalam kategori beban orang tua. Maka dari itu dinikahkan di usia yang sedini itu.
Dan kisah mereka pun berawal dari sini. Saat Wicaksono dirawat di rumah sakit oleh suster muda bernama—Anarita.
Gadis muda yang berprofesi sebagai perawat magang dan menjadi penulis amatiran itu datang membawa nampan berisi makanan. Wajahnya yang jenaka dan lucu, membuat siapa pun yang melihatnya merasa getar-getar kebahagiaan. Padahal dia tidak pernah merasa melakukan apa-apa.
"Selamat siang, Tuan Wicaksono. Mari kita makan siang, hari ini menunya khusus dibuat oleh koki istimewa dari Jerman," ujar suster Ana sambil menaruh makanannya di atas nakas.
"Aku tidak ingin makan," tolak Wicaksono dengan angkuh.
"Ada apa lagi? Apa Anda terserang penyakit galau, Tuan?"
"Kamu sok tahu!" ujar Wicaksono seraya menggeram. Tiga bulan lebih dirawat oleh Anarita membuat ia sangat dekat dengan perawat itu.
"Saat saya terlahir ada 20 persen unsur cenayang yang menempel di tubuhku. Sudah jelas saya tahu kalau Tuan Wicaksono sedang galau," goda gadis itu. Anarita si suster penebar seribu kepicikan tersenyum smirk. Lalu menarik kursi dan duduk di samping Wicaksono. "Bukankah anak kandung Tuan sudah kembali ke perusahaan? Kesehatan Tuan juga sudah membaik. Jadi apalagi yang sedang Anda pikirkan, Tuan?"
Anak itu menaruh kedua siku tangannya di bibir tempat tidur tuan Wicaksono, lantas memangku dagu layaknya personil Cherrybelle yang hendak menyanyi lagu Dilema.
"Ayo berceritalah," rayu Ana.
"Kau benar-benar peka, Suster Ana!" Wicaksono tersenyum cerah. "Sebenarnya aku masih memiliki satu masalah cukup serius. Aku memang lega karena anakku Rico sudah kembali, tapi mengingat usianya yang sudah menginjak 34 tahun masih sendiri, sebagai orang tua pastinya aku sangat tidak tenang."
"Oh ya, ampun! Jadi itu masalahnya." Ana tertawa geli bersamaan dengan nada meremehkan.
Wicaksono yang tidak terima langsung melemparkan tatapan murka pada gadis itu. "Ini masalah penting, Ana! Aku sudah memiliki calon istri untuk anakku Rico. Dia adalah gadis sahabatku di masa lalu, tapi aku yakin Rico tidak akan mau menikah dengan wanita yang sudah kutetapkan."
"Solusi apa?" Wicaksono bertanya antusias. Tiga bulan mengenal Ana membuat ia paham betapa jenius dan liciknya gadis itu. Ia bahkan dapat membuat Wicaksono yang kejam mencair seperti gunung es yang terkena pemanasan global.
Sambil mengibas-ngibaskan tangan, gadis itu menyunggingkan senyum licik ciri khasnya. "Solusi jitu agar anak Tuan mau menikah, tapi jika berhasil, berikan saya uang seratus juta sebagai balasannya. Bagaimana?"
Kini gantian Raut Wicaksono yang berubah mengejek. "Kau benar-benar gadis yang matre. Untuk apa uang seratus juta?" tanya pria paruh baya itu.
"Tentu saja untuk biaya hidupku, Tuan. Saya adalah sebatang kara yang tak punya siapa-siapa. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Untuk dapat memenuhi kebutuhanku agar bisa makan, aku harus mengambil banyak pekerjaan sambilan setiap harinya."
Wicaksono yang agak terkejut mendengarnya mulai prihatin. Tidak menyangka bahwa hidup suster yang merawatnya seberat itu. "Memang pekerjaan apa saja yang kau ambil?" tanya bapak tua lagi.
"Banyak sekali Tuan, apapun pekerjaannya asal mendapatkan uang, aku pasti akan lakukan." Ana menghela napas sejenak. "Selain magang sebagai perawat di rumah sakit ini, aku juga bernyanyi setiap malam Minggu di beberapa kafe langgananku, melatih ibu-ibu zumba, menjadi kreator, menulis novel, dan—" Gadis itu menggantung bicaranya dengan kedipan mata genit.
"Dan apa?" tanya Wicaksono penasaran.
Ana membungkukkan tubuhnya sedikit. Lalu ia berbisik, "Saya adalah wanita simpanannya om-om pejabat."
"Heii!" Wicaksono tampak terkejut setengah mati bersamaan dengan tawa Ana yang menggema di ruangan itu. Di mana Ana langsung menepuk bahu Wicaksono agak kasar. Pria paruh baya yang baru saja menaruh simpati dengan kehidupan Ana langsung membuncah. Tidak jadi kasihan.
"Ya, mau bagaimana lagi? Beginilah, hidup." Ana menunduk dalam-dalam, lalu mendongak lagi dengan wajah yang ia paksakan untuk ceria.
"Awalnya aku butuh uang, tapi semenjak menjadi budak nafsu om Adam, aku mau pisang!"
***
Astagfirullohallazim😝