HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Terpaksa Pisah Ranjang



Dua hari merasakan menjadi seorang istri, akhirnya Lisa dikembalikan lagi ke apartemen semulanya. Semua itu dilakukan demi kebaikan Cilla. Farhan tetap harus memilih di antara mereka berdua. Cilla atau Lisa. Tentunya Farhan menyuruh Lisa mengalah sampai anak itu dapat menerima Lisa dengan lapang dada. Mau bagaimana lagi, Farhan tak ingin mendengar curhatan menyakitkan Cilla yang ingin pergi ke surga menyusul kedua orang tuanya. Itu terlalu perih seperti luka yang disiram air garam.


"Aku akan menginap di sini setiap dua hari sekali," ujar Farhan sambil menikmati teh yang baru saja Lisa buat. Ada Rico di samping Farhan yang sedang asik memakan cookie kesukaan Lisa.


"Iya,Tuan! Sebenarnya satu minggu sekali juga tidak masalah."


Puftt. Rico keselek cookie yang dia makan sekaligus dua biji. Sepertinya kehadiran Farhan tak diinginkan sama sekali oleh gadis itu. Pria itu pasti murka dengan jawaban Lisa.


"Kau mau aku ke sini satu minggu sekali?" Mata Farhan melotot tajam.


"Eh, maksud saya agar Tuan Farhan dapat lebih fokus merawat si kembar. Tidak ada maksud lain, sungguh Tuan," ujar Lisa mencari alasan. Tangannya membentuk huruf V sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Sama sekali tidak ada keseriusan di wajah itu.


Farhan yang sudah terlanjur emosi hanya dapat diam menahan kesal. Di saat ia merasa bersalah pada Lisa, gadis itu malah kelihatan senang sekali berpisah dengan suaminya. Terbukti wajah imut itu selalu bersinar sejak mereka baru tiba di apartemen tadi.


"Mulai sekarang, kau harus melakukan pendekatan pada Cilla," perintah Farhan sambil menyeruput teh hangat buatan Lisa. Menghirup aromanya sambil merasakan manis jambu dari air teh itu. Sangat pas dengan selera Farhan yang kurang suka manis-manis.


"Besok saya akan menunjukkan koleksi fotoku dengan Jennie. Barangkali Cilla akan luluh. Sebenarnya aku memiliki banyak video dengan mama si kembar. Tapi Anda telah membuang ponselku dari atas jembatan saat kita hendak ke Amerika."


Ingatan Lisa kembali pada beberapa tahun silam. Saat Farhan membuang ponsel Lisa dari atas jembatan, lalu menggantinya dengan ponsel baru yang sudah diisi alat penyadap. Tentunya si pemilik ponsel tidak tahu menahu bahwa ponsel itu dibajak si biang kerok—Farhan.


"Andai aku tidak kehilangan ponselku, pasti aku akan pulang saat mendengar sahabatku meninggal," protes Lisa dengan nada menyudutkan Farhan.


"Lagian kalian selalu tahu info penting tentangku. Apa tidak ada yang tahu kalau aku bersahabat dengan Jennie?" Akhirnya Lisa memberanikan diri untuk bertanya. Penasaran juga kenapa mereka bisa sebodoh itu.


"Maaf Nona Lisa, aku tidak pernah mencari tahu informasi teman Anda di Indonesia," jujur Rico. Karena menurutnya tidak penting.


"Ya sudahlah." Lisa pura-pura menguap agar dua mahluk itu lekas hengkang dari apartemennya.


"Kalau begitu aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik, besok aku akan menjemputmu jam setengah tujuh pagi. Jangan buat aku menunggu." Farhan cukup tahu diri kode mengusir Lisa.


"Baik Tuan," ucap Lisa sopan.


Farhan membenarkan jas kerjanya, lantas berjalan cepat dengan raut penuh kekesalan. Entah mengapa, ia tidak terima dengan sikap Lisa.Terlalu mencolok bahagianya, bahkan Rico dapat melihat anak itu lebih suka jauh-jauh dengan Farhan.


Tepat sasaran, gadis itu berjingkrak-jingkrak saat pintu apartemennya ditutup. Rasanya lega sekali, akhirnya Lisa dapat lepas dari CEO tiga menit itu.


"Akhirnya aku terbebas dari CEO tiga menit itu," ujar Lisa sambil membanting tubuhnya di atas sofa. Terlalu senang, sampai dia lupa dengan tugasnya menyusun rencana menaklukan anak tiri. Cilla.


***


Sementara di mobil arah pulang, Farhan tak henti-hentinya menggeram seraya menendang jok mobil di depannya. Pria itu terus memperhatikan CCTV apartemen Lisa. Bagaimana Lisa bahagia, bagaimana Lisa teriak-teriak seperti mendapat kebebasan penuh. Ah, rasanya Farhan sangat kesal melihat semua itu.


"Sabar Tuan," Rico menasihati sambil terus mengemudi. "Lebih baik tutup saja acara nonton CCTV itu. Agar hati Anda lebih tenang."


Terlambat, Farhan sudah terlanjur kesal melihat video kegirangan Lisa saat harus berpisah dengannya. Ia tidak sakit hati, hanya saja Farhan tidak terima istrinya bersikap seperti itu.


"Apa aku kurang baik padanya selama ini?" Farhan bertanya pada Rico si bodoh yang selalu memuliakan bossnya.


"Tentu saja baik Tuan, Anda sudah memberikan kartu kredit tanpa batas limit untuk istri Anda. Kurang dermawan apalagi?"


"Tapi kenapa ia senang berpisah denganku?"


Oh, mana Rico tahu. Pastinya Farhan jauh lebih tahu dari seorang Rico yang bukan siapa-siapa Lisa.


"Mungkin Lisa, eh maksudnya nona Lisa masih agak canggung dekat dengan Tuan." Rico menjawab sekenanya. Yang penting si bos senang, jadi ia tak perlu repot mendengar omelan tuan Farhan yang budiman.


"Benar juga sih, dia juga masih memanggilku dengan sebutan Tuan, yang artinya masih menganggapku bossnya."


"Iya Tuan. Apakah Anda perlu aku merekomendasikan panggilan yang bagus untukmu, Hubby, Baby, Honey, Sayang, Cintaku, Suamiku, My Mine, atau—"


"Tidak perlu!" Farhan memotong cepat pembicaraan Rico. "Saran darimu selalu berakhir malapetaka. Jomlo kedaluwarsa seperti bisa apa? Sebaiknya kau mencari istri, agar tidak menjamur di usia 32 tahun."


Cih! Rico berdecih dalam hati. Farhan hanya beruntung satu langkah darinya. Dua hari yang lalu, pria itu juga sama seperti Rico. Jomlo abadi.


Bawahan seperti Rico hanya bisa diam. Yang penting selalu terima bonus dan gaji setiap bulannya. Walau uangnya hampir tidak pernah dipakai. Mengendap di ATM karena tidak pernah mengajak gadis kencan sama sekali.


***


Pukul tujuh tiga puluh pagi, mobil Farhan berada tepat di bawah apartemen Lisa. Tentunya dengan Rico si sekertaris yang siap menjadi apa saja.


"Telpon istriku, sedang apa dia jam segini?" Farhan mendengkus kesal. Bagi manusia ambisius kerja seperti Farhan, waktu satu menitnya terlalu berharga untuk disia-siakan. Bisa menjadi nominal yang sulit dihitung dengan jari pastinya.


"Tidak diangkat, Tuan," jawab Rico sambil menunjukkan ponsel Farhan yang ia pegang.


"Apa dia masih hidup?" Farhan melirik kaca mobil. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Lisa akan datang.


"Apa perlu saya jemput ke atas, Tuan?"


Farhan menggelem samar. "Kita tunggu sepuluh menit lagi. Kalau tidak datang, gorok saja lehernya," geruru Farhan kesal.


"Anda sangat lucu Tuan."


"Memang aku lucu, apalagi tingkahku yang lucu ini mampu membekukan semua rekening tabunganmu," telak Farhan kesal.


Rico segera menutup bibirnya rapat-rapat. Bercanda dengan Farhan sama halnya bertemu malaikat maut. Ingat Rico. Jangan pernah lupa bahwa Farhan lebih setan daripada setan.


Tepat jam tujuh tiga puluh, Farhan menangkap sosok tubuh mungil yang lari ngos-ngosan ke aranya. Lisa langsung membuka pintu mobil begitu ia sampai.


"Pagi Tuan, Pak Rico." Nafas gadis itu naik turun karena berlari terlalu kencang.


"Anda darimana saja Nona Lisa? Tuan Farhan hampir merobohkan gedung apartemenmu jika kau telat sedikit lagi," sindiri Rico yang mulai menarik kemudi.


"Maaf, aku telat bang—"


"Kau begadang," sela Farhan cepat. Tangannya menunjuk mata panda Lisa sebagai barang bukti. Sebenarnya ia tahu karena sudah mengecek CCTV tentunya. Kecuali sedang mandi, Farhan tahu kegiatan Lisa di apartemennya.


"Apa yang kau lakukan semalam?"


Jika kau berkilah, tamatlah riwayatmu, Lisa. Farhan berujar sinis dalam hati.


"Aku maraton nonton drama, Tuan! Habisnya aku tidak bisa tidur tanpamu. Rasanya ingin selalu dekat dengamu."


Rico ingin muntah berlian mendengarnya. Sementara Farhan merona merah walau ia tahu Lisa sedang berbohong.


Terjadi hening beberapa menit sampai Lisa tiba-tiba berseru,


"Berhenti di sini, aku mau turun di sini saja Pak Rico." Sengaja Lisa minta berhenti agak jauh dari gedung kantor agar para kariawan lainnya tidak melihat Lisa bersama Farhan.


Rico segera menghentikan mobilnya. Ia paham dengan apa yang dipikirkan istri percobaan Farhan.


"Terima kasih banyak tumpangannya, Tuan! Saya turun dulu."


Namun Farhan segera menarik lengan Lisa sebelum anak itu berhasil membuka pintu mobil.


"Kau tidak ingin memberi ciuman penyemangat pagi untuk suamimu?" Sambil menuruh telunjuknya di pipi seperti orang lagi sakit gigi. Suara Farhan sangat keras sampai telinga Rico berdengung mendengarkan.


"Hahaha." Lisa menepuk tangannya di depan wajah. "Tentu saja mau, muach!" Satu kecupan dengan bunyi keras mendarat di pipi Farhan.


Rico yang tak sengaja melihat kepameran mereka dari kaca penumpang hanya bisa gigit jari. Benar-benar gigit jari, bukan sedang ala-ala mendrama.


Di saat seperti ini, aku lebih suka menjadi buta.


***


Yee ... hari ini udah 3 bab, makasih ya, dukungannya. Jangan lupa tebar poin biar crazy upku gak sia-sia. 😘