HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bejalar Dari Kesalahan



Siang itu, kegiatan dilanjut dengan saling bercerita. Lisa menjelaskan semua yang terjadi ketika Farhan mabuk dan tidak sadar diri. Ia juga menceritakan pada Farhan, bahwa dirinya menjadikan Farhan sebagai topik hangat dalam acara gibahnya dengan Shea. Pria itu langsung kaku tanpas ekspresi saat Lisa menceritakan pada titik itu.


"Mas!" Lisa menusuk-nusuk pipi Farhan agak takut. "Kamu marah ya? Gara-gara aku keceplosan bahas masalah ranjang kita? Tapi kan aku udah jelasin juga kalau sekarang kamu gak begitu. Bagiku, itu hanya cerita pengalaman dan perjalanan kita."


Farhan masih belum ada pergerakan atau jawaban. Membuat Lisa merasa takut dengan sikapnya yang seperti ini. Bagi Lisa memang seperti itu, tapi bagi Farhan itu adalah aib terburuk yang tabu untuk diceritakan. Lisa sendiri menyesal dengan mulutnya yang setara dengan sepeda motor blong.


"Mas!"


"Apa?"


Satu suara Farhan membuat Lisa menghembuskan napas lega.


"Kamu marah sama aku?" ulangnya sekali lagi.


"Aku tidak marah," jawab Farhan datar tanpa tambahan komentar.


Ia memang tidak marah. Namun, Farhan kecewa dengan sikap Lisa yang berani menceritakan masalah pribadinya pada orang lain lebih dari satu kali. Bukan hanya di situ, Farhan juga sedikit kesal setiap melihat istrinya membalas pesan dari mantan kekasihnya yang ada di Amerika. Lama-kelamaan Farhan mulai mengurangi kegiatan menyadap ponsel sang istri.


Farhan tidak mau hal itu sampai membebani pikirannya. Selagi masih wajar, Farhan akan memahami sikap Lisa. Walau ada sakit yang sulit ia jelaskan menggunakan lisan.


Cemburu? Farhan tidak bisa menafsirkan itu. Mungkin saja iya, tapi Farhan terlalu naif untuk mengatakan semua isi hatinya. Farhan bukan tipe pria yang suka cemburu buta, kecuali dalam keadaan mendesak.


"Tidak marah ... tapi kecewa ya?" tebak Lisa tanpa susah payah. Karena diam Farhan sudah menyiratkan itu semua.


Terperangah heran, Farhan menatap manik mata Lisa yang mulai berkaca-kaca. "Bagaimana kamu bisa tahu?"


Lisa sedikit menjeda ucapannya untuk melihat ekspresi wajah Farhan sebentar. Pria itu masih bergeming mendengarkan. "Tapi jujur ... aku menyesal setelah menceritakan semua itu pada Shea. Aku lupa ... bahwa aib suami adalah aibku sendiri. Maka dari itu aku ceritakan balik padamu, sekalian minta maaf."


"Maafin aku ya, Mas."


"Heum." Farhan menghela napas dalam-dalam. "Ya sudah. Toh aku juga banyak mengetahui aib Bryan dan Felix. Mereka tidak akan menceritakan ini pada siapa pun. Tidak usah dipikirkan."


Farhan mengusap air mata Lisa dengan kedua ibu jarinya. Lalu mengecup kelopak mata wanitanya yang masih sedikit basah. "Ini juga salahku ... karena tidak bisa melakukan kewajibanku untuk membimbing istriku sendiri."


Satu senyum yang lolos dari bibir Farhan membuat Lisa semakin merasa bersalah. "Ini bukan salahmu. Tapi salah kita yang menikah tanpa tahu bagiamana prosedur menjasi suami istri sesungguhnya. Kita memang unggul dalam pekerjaan, tapi rumah tangga kita enol besar."


"Ya, aku tahu itu," jawab Farhan mengakui.


" Kamu mau 'kan Mas, belajar menjadi pasangan suami istri yang baik seperti orang normal lainnya? Walau kisah kita tidak seindah Reyno dan Jennie di mata keluarga besar, setidaknya kita bisa sedikit mencontoh dari manisnya kebersamaan mereka."


"Ya, akan ku coba ... tapi aku tidak bisa berjanji lebih."


"Terima kasih banyak, Mas Alanku. Jangan lupa tegur istrimu jika ia salah."


***


Jadi cerita "Suami Anak Mami" dan "Hello My Boss" itu beda ya mentemen. Kalau Reyno dan Jennie emang rajanya romansa. Gak bisa dibandingkan sama Farhan dan Lisa yang sibuk di bidang pekerjaan. Kendala mereka memang ada di bidang minimnya pengetahuan rumah tangga.