HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Melihat Bunga Matahari Mekar



Semua manusia memiliki kesedihannya masing-masing, namun terlalu larut dan berlama-lama meresapinya juga tidak baik. Maka yang bisa Lisa lakukan hanyalah merubah topik pembicaraan. Pergi pada jenjang lain yang masih layak untuk dibicarakan.


"Oh ya, Mas, bagaimana dengan hasil terapimu tadi? Mister Tong Jay ngomong apa aja?" Selimut sudah di tarik hingga sebatas leher. Lisa melepas sandarannya dari dada Farhan, lalu menjatuhkan kepala pada bantalnya sendiri.


"Aku masih harus menjalani beberapa kali terapi lagi agar hasilnya lebih baik. Aku juga meminta klinik itu untuk memeriksa apakah kualitas milikku baik-baik saja. Kita tinggal tunggu hasilnya seminggu kemudian," ujar Farhan sambil menatap langit-langit kamar dengan sedikit pencahayaaan.


"Kualitas apaan sih, Mas? Aku gak paham," pikir Lisa kebingungan.


"Kualitas produktifitasku lah, aku masih bisa menghamilimu atau tidak. Takutnya, aku mengida kelainan seperti sumpah serapahmu waktu itu," ucap Farhan mengingatkan. Yang pastinya Lisa mengerutkan kening bingung tanda tidak paham.


"Emang aku ngomong apa, sih?"


"Kamu bilang aku impoten," telaknya tanpa basa-basi. Wanita itu menganga penuh rasa salah.


"Astaga! Maaf ya, Mas. Aku berdosa banget. Aku juga gak sadar pas ngomong kayak gitu," ujarnya tersendu-sendu.


"Tidak penting," jawab Farhan karena tak mau terlalu memikirkan sesuatu yang sudah berlalu cukup lama.


"Terus gimana kelanjutan mbak Vivi, apa kamu mau memecatnya?" tanya Lisa penasaran. Abaikan masalah penghinaan, kalau dibahas terus-menerus akan menimbulkan konflik baru. Lebih baik cari topik lain saja.


Ngomong-ngomong ia sendiri juga tidak tega kalau mbak Vivi sampai di pecat. Meskipun kesalahannya sangat fatal menurut Lisa.


"Aku tidak akan memecat orang hanya karena masalah di luar pekerjaan," ujar Farhan membersamai mata yang sudah dipejamkan. "Ayo kita tidur," ajak pria itu kemudian.


"Kok tidur sih, Mas? Aku belum menikmati maha karya mister Tong Jay, loh." Mata Lisa melotot protes.


"Dasar wanita tidak tahu malu, jaga baik-baik bicaramu," ucapnya menasihati, namun senyum yang melengkung tipis di bibirnya menandakan bahwa Farhan menyukai mulut Lisa yang blak-blakkan apa adanya.


"Aku kan ngomong apa adanya. Lagian kalau ngomong sama kamu gak bisa pakai kata malu, Mas. Ngomong apa adanya saja tidak peka begitu, apa lagi sok pakai malu segala coba?"


Tubuh Lisa sudah berbalik miling ke arah Farhan. Siap menyapa gagang gayung yang tadi ia lihat sedikit lebih segar dari sebelumnya.


"Mister Tong Jay juga nyuruh langsung dipraktekkin 'kan? Kalau gak dicoba, kita mana tahu hasinya," ucap Lisa terus bersikeras. Pantang menyerah sebelum icip-icip rasanya.


Hilangkan harga dirinya di depan Farhan, ini adalah tak-tik Lisa agar pria itu paham tentang bagaimana caranya terbuka pada keluarga. Terutama istrinya sendiri.


"Baiklah jika kamu memaksa, jangan salahkan aku kalau hasilnya tidak sesuai keinginanmu," ucap Farhan mengingatkan.


"Gak mungkin! Aku percaya seratus persen hasilnya memuaskan. Dari bentuknya saja sudah mekar seperti bunga matahari." Lisa kembali mengatasnamakan bunga matahari yang notabene tidak ada mirip-miripnya.


"Dasar." Farhan merona dalam diam. Ia masih terlalu canggung mendengar istrinya berani membicarakan hal semesum itu di depannya. Tak menyangka juga bahwa gadis yang selama ini ia kenal polos bisa sebarbar itu saat sudah menikah.


Tak butuh waktu lama, mereka pun mulai mempraktekkan hasil maha karya mister Tong Jay tadi siang.


Hingga pada akhirnya Lisa menghentak-hentakkan kakinya kesal. Menggerutu dengan bibir yang mengerucut sebal karena hasilnya tak sesuai dengan ekspektasi.


"Dasar pembohong, dua belas juta loh!" Lisa menebdang selimut ke udara. Lalu jatuh kembali ke tubuh polos mereka yang baru saja melakukan adegan aye-aye berduras lima menit tiga belas detik.


"Semua uang akan kembali jika nantinya tidak berhasil," ucap Farhan membalas kekikiran sang istri. Padahal semua uang yang ia pakai adalah miliknya.


"Mas, kenapa kamu gak bisa jadi cowok perkasa sih?" Pada akhirnya menyalahkan Farhan, meski pria itu sudah mengingatkan agar Lisa jangan marah jika hasilnya tak sesuai harapannya.


"Aku sudah bilang apa tadi?" Farhan mengingatkan jika Lisa lupa. Ia jadi kesal sendiri. Sudah malu, ditimpa protes pula. Hancur lebur harga diri seolah ia sedang telanjang sambil lari-lari.


"Jadi harus ngabisin uang berapa lagi biar bisa tiga puluh menit?" gertak Lisa sebal.


"Mana kutahu, yang jelas mister itu bilang kalau hasilnya tidak akan langsung jadi. Aku memiliki kepribadian yang tidak bisa mengatur diri dan emosi. Makannya aku sengaja tidak mau langsung praktek," ucap Farhan yang jadi ikutan barbar gara-gara sikap Lisa.


"Pokonya aku males sama kamu, Mas." Lisa sudah membalikkan tubuhnya memunggungi Farhan.


Kini ia paham, bukan milik Farhan yang jadi segar seperti bunga matahari baru disiram, tapi milik Lisa yang disiram dengan cara diguyur cepat. Mengalahkan angin yang melesat lewat.


Sebagai suami yang harga dirinya diinjak gajah, Farhan hanya dapat menggerutu sebal di dalam hati. Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa perempuan selalu benar apapun masalah yang terjadi di antara mereka. Padahal, gagang gayung bisa cepat muntah karena tak tahan dengan pesona gua alami milik Lisa.


Keseharusannya Lisa juga harus paham bahwa Farhan masih belum terbiasa dalam menjalani rutinitas aye-aye seperti itu. Gagang gayungnya mudah lelah, lesu, dan belum bisa lama-lama naik wahana histeria yang dapat mengocok seluruh jiwa raganya—hinggal bergetar seperti hape Nokia Ja-Dul yang tergeletak di atas meja.


"Kemampuanku memang seperti itu, kalau kau tidak mau ya sudah." Akhirnya Farhan ikut ngambek. Mereke saling memunggungi dalam keadaan tubuh polos.


"Tapi sampai kapan?" Lisa belum menyerah, masih ingin memarahi ketidaksopanan gagang gayung sialan itu.


"Sampai aku terbiasa mungkin," jawab Farhan datar. Ia kemudian berbali, memeluk Lisa dari belakang.


"Maaf ya." Entah mengapa jiwa Farhan berubah lemah kalau sudah di atas ranjang dengan Lisa. Tidak ada lagi pria kejam dengan ekspresi mencekam seperti biasanya.


"Aku kesel sama dia, bukan sama kamu." Lisa menyalahkan gagang gayung saja. Masih sayang nyawa, takut Farhan emosi dan mencekik lehernya hingga mati.


"Ya maafin dia." Farhan menempelkan bibirnya di punggung belakang Lisa. Hangat-hangat menyeruak hingga ke dada. "Apa kamu mau mencoba sekali lagi? Aku bisa berkali-kali jika kamu mau lagi," imbuh Farhan tak tahu malu. Yang penting ia tidak melihat istrinya ngambek gara-gara kepalang tanggung.


Karena sudah terlanjur marah-marah, Lisa malu kalau harus bilang mau. Maka ia akan terus menolak.


"Tidak mau, besok lagi saja," tolak Lisa di mana Farhan langsunh merasa di tikam panah besi panas.


"Ya sudah kalau tidak mau," gumamnya menggerutu.


Di balik semua itu, mereka berdua sama-sama paham, bahwa tidak ada usaha yang langsung membuahkan hasil secepat kilat. Butuh perjuangan panjang agar gagang gayung bisa menaiki berbagai macam wahanan tanpa mabok duluan.


***


Tettot. Oh ya, aku mau ngucapin selamat tahun baru. Semoga tahun ini kita bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan makasih banyak buat kalian yang hingga detik ini masih setia membaca dan mensuportku. Aku yakin, Farhan dan Lisa tak akan mencapai titik ini tanpa dukungan besar dari kalian semua.


Terima kasih.


Anarita.