
Lisa itu suka bercanda, tertawa, dan hobi menggoda. Sayangnya, lawan main Lisa adalah Farhan si batu bernapas. Pria ambisius yang selalu menanggapi sesuatu dengan serius. Tanpa peduli bahwa istrinya adalah peri jenaka yang senangnya meledek terus-menerus.
Farhan benar-benar percaya atas ancaman yang Lisa berikan tadi. Pria itu berhenti mengejar Skala, memilik tunduk padanya si mulut mercon. Ia terlalu takut gagang gayungnya karatan kalau harus bertapa 1000 hari di gua berhantu. Mau tidak mau Farhan mundur demi kebaikannya sendiri.
Ingin Rasanya Lisa tergelak saat menggunakan alasan itu untuk mengancam Farhan. Padahal, Lisa hanya iseng-iseng berhadiah. Namun damagenya luar biasa berpengaruh pada si suami serius.
Terlepas dari semua itu, Lisa memang wanita yang masih memiliki pikiran labil dan cenderung kekanak-kanakan. Meskipun pernikahan mendadak yang ia setujui tanpa keterpaksaan. Namun, Lisa sendiri masih belum mengerti tentang pemahaman menikah. Butuh waktu panjang kali lebar agar gadis yang sudah berstatus istri itu dapat menjadi seorang istri bayaran ... maksudnya sungguhan.
Apalagi hubungannya dengan Farhan masih abu-abu. Menurut Lisa sendiri, belum ada rona merah muda yang menegaskan bahwa Farhan membalas perasaannya. Entah kapan hal itu terjadi, lamanya seperti menunggu Sandy membawa seluruh keluarga tupainya dari Texas ke Bikini Bottom. Karena harus membangun rumah kaca di bawah laut.
Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Akhirnya Rico mengode Lisa agar mengajak Farhan undur diri terlebih dahulu. Meninggalkan para tamu yang masih asik berpesta di ruang aula.
Mereka berdua digiring ke lantai 15 oleh Rico, tempat di mana ruang pengantin mereka berada. Meskipun sudah basi, anggap saja mereka sedang mengulang malam pertama karena acara repsesinya telat.
Di dalam lift menuju lantai 15, Farhan masih marah-marah mengingat kejadian tadi. Ia tidak terima punggung istrinya dilempar bunga oleh lelaki lain. Terlebih dia musuh bebuyutan Farhan.
"Bagaimana bisa kau mengundah si biang rusuh itu ke acara pentingku? " Pertanyaan Farhan yang ditujukan pada Skala. Tamu tak diundang yang nyaris merusuh di acara resepsinya.
Rico menjawab pertanyaan Farhan asal-asalan. "Saya tidak mengundang dia, Tuan. Mungkin mereka jaelangkung. Datang tak dijemput, pulang tak diantar."
"Bukankah tamu undangan harus membawa undangan dulu agar bisa masuk? Mana mungkin semudah itu lolos," tandas Farhan kesal.
"Ah iya ... benar juga." Sejenak Rico mulai berfikir. "Emp .... Mungkin mereka menggantikan kakek Prawira, Tuan. Secara beliau adalah teman dekat tuan Haris. Dan kakek Prawira memang masuk ke dalam daftar undangan."
Farhan Mengangguk-anggukkan kepala. Tangannya kirinya iseng, memainkan bunga-bunga yang menghiasi kepala Lisa. "Masuk agal juga. Terus ke mana kariyawan yang kau liburkan setengah itu. Apa mereka datang ke sini?"
Farhan masih terus memainkan hiasan kepala Lisa. Membuat Rico gagal fokus karena mendadak pengin nikah. "Benar. Tuan Haris meminta setengah dari kariyawan kita agar datang ke acara ini sebagai saksi. Hehehe."
"Lalu bagaimana kalian menjelaskan semua ini padaku?" Farhan menatap Lisa dan Rico secara bergantian. Ia sudah tidak marah dan berhenti memikirkan kelakuan Skala. Namun, bahaya besar justru menghadang Rico dan Lisa saat ini.
"Aku butuh kejelasan. Atas kelancangan kalian berdua yang telah membohongiku," lanjut Farhan.
Lisa dan Rico saling pandang dengan tubuh yang sama-sama bergidik ngeri. Keduanya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Bagaimana caranya menjelaskan suprise ini pada Farhan. Karena pria itu nampak tidak senang dengan hal ini.
"Ini adalah kejutan, Sayang. Apa kamu tidak senang?"
"Aku tidak suka kebohongan," telak Farhan.
Reflek Lisa menatap Rico. Meminta pria itu untuk memberikan solusi. Karena bagaimanapun juga, Rico ikut andil dalam hal ini.
"Semua ini adalah permintaan si kembar. Mereka merengek agarβ" Rico menghentikan ucapannya, malu.
"Agar apa?" sentak Farhan menghardik.
"Uhuk." Farhan tersedak ludahnya sendiri. Pandangannya beralih pada Lisa yang menunduk takut-takut. "Apa itu ulahmu? Kau yang menyuruh si kembar itu untuk melakukan bulan madu?"
"Bu-bukan, Mas!"
"Lalu?"
"Ceritanya panjang. Ini adalah akal-akalan Shea. Karena waktu mereka main ke sana, si kembar ingin membawa anaknya, El. Jadi Shea menyarankan kita untuk bulan madu, agar bisa memberikan adik untuk mereka." Lisa menyengir kambing, tangannya menutup mulut agak kemayu.
"Bagaimana bisa si kembar datang ke rumah Bryan?"
Astaga! Lisa Lupa bahwa Farhan hilang ingatan sehari. Pria itu mana tahu tentang kekacauan yang terjadi waktu itu.
"Ceritanya panjang, Sayang. Nanti kita bahas ini di kamar saja." Lisa mengalungkan tangannya di pundak Farhan. Sengaja agar pria itu gagal fokus.
"Kemarin kamu mabuk, jadi tidak ingat apa-apa, Mas. Lebih baik kita bahas setelah nanti saja ya ... abis push rank." Mata genit Lisa mengerjap-ngerjap.
"Apa?" Farhan menautkan satu alisnya. Pura-pura tidak paham dengan isyarat Lisa yang aneh bin ajaib. Walau sebenarnya Farhan tahu bahwa Lisa sedang memberi kode ritual aye-aye.
"Ya ampun. Kamu tidak paham, Mas?" Lisa memukul-mukul dada Farhan pelan. Wanita itu tersenyum kikuk sambil menggelengkan kepalanya, jengah.
"Memangnya apa?" Gayung bersambut, kata terjawab. Farhan sengaja memancing agar Lisa mengatakan kode yang lebih rinci lagi. Biarlah Rico mendengar, anggap saja manusia itu setengah transparan.
"Itu loh! Kalau donat ketemu sedotan jadinya apa?"
"Mana kutahu," jawab Farhan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Lisa yang merona malu. Bahunya mengedik sambil menahan setengah tawa agar tidak keluar. "Memangnya jadi apa?"
"Apa yaa ...?" Lisa memainkan nada suara. Membuat seseorang di belakangnya kebakaran jenggot.
"Itu kode mantaap-mantaap, Bambaaaaang!"
Rico yang telinganya sudah panas dan putus asa langsung menyergah dengan bahasa non formal. Perjalanan waktu dari lantai satu ke 15 serasa seabad.
Lama dan menyiksa status Rico yang masih jomblo berkepanjangan. Rasanya mau mati saja.
***
Udah siap ke bab berikunya belum?
Jangan lupa like dan komen ya? Kasih bunga sebanyak-banyaknya, oke.πββ