HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Merakyat



Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya Rico mengizinkan Farhan pergi berbulan madu selama tiga hari di Jogja. Dengan catatan, harus dikawal oleh beberapa bodyguard dan orang kepercayaan Revical Grup selama dua puluh empat jam nonstop. Karena ini adalah pertama kalinya Farhan pergi tanpa dirinya setelah sekian lama.


Dan perjalanan dari Jakarta ke Jogja pun di mulai, mereka berangkat menggunakan kereta api dari stasiun ****** menuju stasiun Lempuyangan. Ada Rico yang setia mengawal. Pria itu tak henti-hentinya menggerutu karena ini adalah pertama kalinya Rico menggunakan transportasi kereta api dengan perjalanan yang cukup jauh.


Tentunya pria itu marah bukan main. Waktu yang seharusnya ia pakai untuk istirahat, harus terpotong akibat perjalanan yang cukup jauh. Padahal, Jakarta-Jogja hanya butuh waktu kurang dari satu jam jika ditempuh menggunakan pesawat. Apakah Lisa pikir Farhan dan Rico adalah manusia santai yang bisa membuang waktunya begitu saja.


Namun, semua itu bisa terpatahkan dengan mudah. Farhan menuruti keinginan Lisa yang katanya ingin mengajak Farhan dan Rico merakyat sekali-kali. Walaupun kereta yang mereka tumpangi masuk dalam kategori eksekutif class yang satu gerbongnya hanya berisi mereka bertiga.


"Apakah sudah sampai? Di mana ini?" Rico melihat ke arah Jendela. Kereta berhenti di stasiun Kroya. Di mana hari sudah menjelang pagi sejak terakhir mereka berangkat tadi malam.


"Masih lama pak Rico. Lebih baik bapak tidur saja lagi." Lisa yang menjawab.


"Tidur lagi? Aku sudah muak tidur semalaman sambil duduk. Apakah tidak bisa lebih cepat lagi?" gerutu Rico emosi. Ia menendang kabin kereta 'Luxury Hari Sena' itu saking kesalnya.


"Ya mau bagaimana. Ini juga sudah cepat." Tak mau peduli, Lisa beralih menatap Farhan yang tengah terlelap. Wajah pria itu juga tak beda jauh dengan Rico. Lesu dan Kuyu. Bosan dengan perjalanan jauh yang Lisa inginkan.


"Mas bangun. Sebentar lagi ada yang seru-seru loh!" Lisa menepuk-nepuk pundak Farhan sampai pria itu tersadar dari tidurnya.


"Eugh." Farhan mengerang, lalu merentangkan kedua tangan untuk melemaskan otot-ototnya yang menegang karena kebanyakan duduk. "Memangnya ada apa?" tanya pria itu. Tangannya meraih sebotol mineral. Membuka dan meminumnya perlahan.


"Ada terowongan gelap, Mas?"


"Uhuuk." Pria itu tersedak air yang baru saja diminumnya, untung tutup botolnya tidak ikut masuk ke dalam perut. "Terowongan apa yang kamu maksud?"


"Terowongan kereta lah!" Lisa menyentil pipi Farhan kesal. "Otak kamu ngeres nih pasti. Memangnya kamu mikirnya terowongan apa hayo?"


"Ah, aku tidak tahu kalau ada terowongan," jawab Farhan sekenanya. Hampir ia berpikir bahwa Lisa mau ngajak aye-aye di dalam kereta.


Lisa kembali berceraham. "Aku juga belum tahu. Tapi katanya kita akan melewati beberapa terowongan panjang saat kita memasuki daerah Gombong. Inilah yang membuat perjalanan kereta sangat menyenangkan."


Terlonjak kaget, Rico langsung menyergah dengan raut muka setengah ketakutan. "Tapi lampu kereta ini tetap menyala bukan? Atau dimatikan agar terkesan seperti film horor?"


"Ya nyala dong Pak! Memangnya bapak pikir kita sedang naik kereta hantu Manggarai. Ada-ada saja," ejek Lisa dengan tawa gelinya.


"Syukurlah!" Rico menghembuskan napas lega sambil memegangi dada. Pria itu mengambil kacamatanya. Memilih tidur karena tak penasaran sedikit pun dengan terowongan yang Lisa maksud.


"Mas, BTW ... kamu rencana mau punya anak berapa untuk kedepannya?"


"Tujuh."


"Banyak banget. Gak bisa dikurangin?" protes Lisa terheran-heran.


"Hehehe. Benar juga ya, Mas. Kita 'kan keluarga berencana. Bukan jomlo yang direncana." Mata Lisa melirik Rico yang masih tidur.


Merasa dipanas-panasi hatinya. Rico menjawab dengan mode nyinyir 3000 volt. "Kalau tujuh namanya bukan keluarga berencana, tapi keluarga bencana. Kalian pikir memiliki anak semudah memelihara ikan cucut di dalam aquarium?"


Lisa mengernyitkan dahi tidak senang saat Rico membalas dengan bahasa cukup kasar. "Yee ... bapak sirik nih, semakin banyak anak semakin banyak rezeky tahu!" tandasnya tidak terima.


"Untuk apa sirik? Saya hanya menasehati kalian berdua agar pakai logika kalau sedang bucin. Mengurus si kembar saja masih dibantu orang tua. Lalu bagaimana dengan nasib ketujuh anak lainnya nanti? Meskipun anak adalah rizky, kalau sampai membuat mereka terlantar jadinya dosa."


"Maasss!" Lisa mengayunkan protes dengan nada manja agar mendapat pembelaan. Namun Farhan lebih membenarkan ucapan Rico yang masuk diakal.


"Yang Rico katakan benar. Terima saja pemberian Tuhan. Lupakan yang tadi."


Padahal kata tujuh hanya ucapan yang Farhan lakukan dengan sepontan. Dalam hatinya, Farhan tidak pernah pusing dengan berapa jumlah anak yang dihasilkan pabrik bayi Lisa nantinya.


Momen yang ditunggu-tunggu tiba. Terowongan yang dimaksud Lisa sudah dilewati. Wanita itu berteriak girang bersama dengan anak kecil lain di gerbong-gerbong sebelahnya. Rico merapatkan duduknya, menatap jendela gelap dengan pikiran yang melayang-layang tidak karuan.


"Di sini tidak ada zombie kan?"


"Adanya jombi, Pak!" serang Lisa dengan nada yang lagi-lagi mengejek Rico.


***


Waktu terus berlalu. Rico mengedarkan pandangannya ke luar saat kereta berhenti lagi.


"Apakah kita sudah sampai?" Rico kembali bertanya tepat keretanya berhenti di stasiun Kebumen. Kereta yang mereka tumpangi memang hanya berhenti di beberapa titik. Namun, setiap titik pemberhentian Rico tak pernah berhenti bertanya. Ia sudah tidak tahan meski kursinya bisa dirubah dengan posisi tiduran sekali pun.


"Masih jauh, Pak. Ada sekitar enam stasiun lagi yang harus kita lewati."


"Bunuh aku ... bunuh aku ...." Rico kembali mengenakan kacamatanya.


Matahari sudah bertengger cantik saat mereka memasuki wilayah Kebumen.


Cukup sekali. Aku tidak mau naik kereta lagi.


***


Maaf ya, hanya obrolan receh.🤭