
"Maafkan aku .... maaf. Tadi aku sangat takut sekali." Farhan menyandarkan kepalanya di pundak Lisa sambil meminta maaf berkali-kali. Entah sudah berapa kata ia habiskan hanya untuk mengucapkan kalimat itu.
Ia teringat akan kekalapan dan kemarahannya yang membuat semua orang nyaris mati ketakutan. Ia bahkan membentak Lisa tanpa sengaja saat wanita itu mencoba menenangkannya. Farhan tahu kekalapannya salah besar, namun ia tidak dapat menahan segala amarah yang meluap tumpah begitu saja.
Lisa mengelus rahang Farhan dengan lembut. Lantas menepuk-nepuk pipi itu sambil memandangi Cello yang sudah tertidur akibat pengaruh obat bius. Anak itu habis diperiksa dan dinyatakan dalam keadaan baik-baik saja sekarang.
"Aku tidak marah atau sakit hati, kok! Lagi pula aku lebih mengenal kamu dari siapa pun. Aku tahu kehilangan adalah bagian terburuk yang paling kamu takuti," lirih Lisa.
"Terima kasih untuk pengertiannya." Tangan Farhan merengkuh tubuh kecil Lisa perlahan. Menghujani kecupan di mana-mana penuh kegemasan. "Kamu adalah beban hidupku yang paling istimewa luar biasa," lanjutnya.
Kalimat menyebalkan itu membuat Lisa reflek memanyunkan bibirnya tiga centi. "Berusahalah memuji yang baik," ujarnya.
"Aku lebih suka realita, kenyataannya kamu memang seperti itu," balas Farhan. Sudah menjatuhkah kepalanya di bahu Lisa kembali.
Lisa mencoba mengalihkan pembicaraan mereka ke hal yang lebih penting.
"Ngomong-ngomong kamu tidak akan menutup sekolah itu hanya karena hal ini 'kan, Mas? Kasihan para guru dan kepala sekolah yang sampai memohon-mohon sambil nangis. Aku tidak tega melihatnya."
Pria itu menggeleng. "Alex sudah menyuruh kepala sekolah Cello untuk menambahkan CCTV diberbagai sudut. Kepala sekolah juga akan melakukan pembinaan kepada seluruh murid dari SD sampai SMA agar jangan sampai bertindak gegabah lagi. Dan gudang itu akan direnovasi mengggunakan fentilasi udara yang lebih banyak lagi katanya."
"Syukurlah. Lalu tindakanmu selanjutnya apa?"
"Tentu saja menghukum mereka dengan cara membuat pelaku jera. Aku sudah bilang tidak akan menuntut pihak sekolah. Tapi aku tetap akan melancarkan aksiku. Besok media akan meliput ke sekolah tentang kronologis Kejadian itu. Berita anak kita akan dimuat di berbagai stasiun teve dan koran untuk menjadi contoh buruk agar tidak ditiru oleh remaja lainnya."
Lisa mengangguk-angguk setuju. Walau pun agak kasihan dengan nasib mereka, tapi tindakkan dua remaja itu sudah menyalahi aturan dan membahayakan nyawa. Mau tidak mau keadilan harus tetap ditegakkan.
Korban atas keisengan di lingkungan remaja seperti ini sudah banyak dan nyaris tak terhitung jumlahnya. Awalnya untuk dokumen di hari ulang tahun. Dari mulai remaja yang mati karena diikat ditiang listrik. Siswa tenggelam karena dikerjai oleh temannya. Semua itu mereka lakukan atas dasar iseng demi kesenangan semata. Namun dampak yang ditumbulkan sampai menimbulkan korban jiwa. Di mana minta maaf saja tidak cukup untuk memberi pelajaran anak-anak berpemikiran sempit seperti itu.
Pada dasarnya remaja memang menyukai hal-hal yang menantang dan menyenangkan. Maka dari itu orang tua juga wajib memantau aktivitas anak sehari-hari agar jangan sampai melakukan hal yang membahayakan.
*
*
*
Malam semakin larut. Lisa baru saja hendak menjatuhkan punggungnya di sofa. Namun derap langkah kaki disertai suara gemuruh membuat wanita itu terperanjat.
"Permisi Tuan, ranjangnya mau di taruh di mana?"
Sontak Lisa melirik Farhan yang sedang duduk di bibir ranjang tempat tidur Cello. Ia kembali menatapi dua petugas yang membawakan ranjang berukuran sedang dan hendak masuk untuk menaruhnya ke dalam.
"Tempat tidur itu untuk apa, Mas?"
"Tentu saja untuk kita berdua." Farhan menoleh pada dua petugas yang sudah berdiri di ambang pintu. "Bawa masuk," perintahnya.
"Mas, yang benar saja! Masa pakai ranjang begitu di rumah sakit!" Lisa menggeleng tidak setuju. Matanya masih membelalak memandangi ranjang itu setengah tidak menyangka.
"Jangan membantah, aku hanya tidak mau tidurmu sampai terganggu. Makannya aku meminta tempat tidur khusus untuk kita berdua selama Cello di rawat."
Ya ampun, persis banget kayak di drama yang aku tonton. Judulnya apa ya? Dasar suami gila, tapi manis si!
Dua petugas itu masuk ke dalam meletakkan tempat tidur Lisa dan Farhan di samping ranjang milik Cello. Farhan segera menutup skat tirai agar anak itu tidak melihat kala-kala Lisa tak sengaja memeluknya di tengah malam nanti.
"Ayo tidur!" Pria itu sudah lebih dulu naik ke atas ranjang. Ia menepuk-nepuk bantal sambil menandangi Lisa yang masih berdiri terpaku menatapinya.
"Apa nggak berlebihan banget?"
Pada akhirnya Lisa menurut dan bergabung tidur bersama suaminya yang galak tapi perhatian itu. "Besok jangan lupa bangunkan aku pagi-pagi, aku mau menjemput Cilla di rumah Bunda."
"Tidak pakai supir? Biar kamu ngga capek loh," ucap Lisa seraya merapatkan tidurnya. Lantas bersembunyi di ketiak Farhan sambil menciumi aroma tubuhnya yang maskulin.
"Tidak usah pakai supir. Dia akan lebih tenang jika melihat ayahnya secara langsung. Jujur aku sedikit merasa bersalah karena sedari tadi terus mengabaikan tangisan anak itu dan lebih fokus pada kakaknya."
Lisa mengulas senyum di bibirnya. "Baiklah ... suamiku makin lama tambah peka dan sayang keluarga, ya? Jadi makin cinta sama kamu tau!"
"Dari dulu sudah peka. Kamu saja yang tidak tahu!"
Mereka pun tertidur setelah mengucapkan kalimat basa-basi tapi manis tersebut. Hingga tengah malam, Lisa terbangun karena tidak nyaman dengan sorot lampu terang yang mengganggu tidurnya sedari tadi.
"Mas, silau!" lirihnya setengah memekik dan membangunkan Farhan dari keadaan lelahnya.
Farhan menaruh tangannya di mata Lisa untuk menutupi cahaya agar tidak mengganggu tidur wanita itu. Namun hal itu justru membuat Lisa bangun dan berhenti mengantuk seketika.
"Mas!" Ia sudah duduk lesu, lengkap dengan muka bantalnya yang lecek seperti koran sobek.
"Hmmm ... hmmm." Farhan bergumam-gumam pelan. Masih setengah tidur dan terbawa arus mimpinya di alam bawah sadar.
"Mas!" Lisa berseru agar pria itu segera bangun. Farhan gelagepan dan mengambil napas banyak-banyak.
"Apa?" jawab pria itu bersama kelopak matanya yang terbuka.
"Aku kepengin!"
Eh, ya ampun! Apa maksudnya ini? Bola mata Farhan membulat seketika. Ia mengerjap-ngerjap, menatap Lisa dengan tatapan tidak mengerti.
"Pengin apa?" ulangnya sekali lagi untuk memastikan bahwa yang Lisa mau adalah hal lain. Bukan main adu belalang sembah di rumah sakit. Tidak tahu diri sekali kalau sampai iya, pikirnya.
"Aku pengin main di rumah sakit. Aku ngidam!"
Duaaaar!
Bagaimana ini? Seketika Farhan panik. Kedua pipinya merona mendengar ucapan barbar yang keluar dari mulut bunda Medusa.
"Ini rumah sakit Lis," lirih Farhan mencoba menyadarkan kewarasan gadis itu agar berhenti memikirkan hal aneh-aneh dan kembali tidur saja.
"Aku juga tau ini rumah sakit, tapi ngga tau kenapa aku malah pengin banget nyoba di sini."
Farhan mulai panik.
"Lampunya terang, aku ngga terbiasa main di tempat terang seperti ini." Farhan berusaha menolak. Jika biasanya pihak perempuan yang selalu tersipu jika bersenggama dalam keadaan terang, di sini Farhan lebih dominan malu-malu seolah jiwa mereka sedang tertukar.
Lisa melotot sebal. Pandangannya menghardik penuh ancaman. "Jadi kamu nolak aku? Udah siap nerima segala konsekuensinya?"
Ah, tolooooonggg!
***
Nanggung ya?
Nanti up lagi kalo banyak yang kasih hadiah.