
Drtrrt ... Drrttt ...
Ponsel di kantung Farhan bergetar. Sebuah pesan yang tertera di layar ponselnya membuat pria itu membola murka.
Dadanya berdentam, darahnya memanas hingga terasa mendidih di puncak ubun-ubun.
[Kabari aku kalau kamu sudah menjadi janda Lis, aku masih setia menunggumu di sini.]
Sontak Farhan meremas benda itu hingga telapak tangannya memucat dan meninggalkan bekas kemerahan.
Nyidam Lisa yang kali ini membuat pria itu kesal. Kata istrinya, ia mengajak Farhan bertukar nomor pribadi seperti anak muda pacaran jaman dulu.
Dengan berat hati Farhan menyanggupi karena Lisa menjadikan nyidam sebagai bahan dasar atas permintaannya. Namun, ia malah dibuat emosi dengan pesan keparat sang mantan yang datang secara tiba-tiba.
"Apa dia mau mati!" Farhan sudah nyaris menelpon Alex untuk mencari pemilik nomor tersebut. Namun rasa panas yang menjalari tubuhnya menghentikan itu. Buru-buru ia masuk ke dalam mobil, memacu kendaraannya dengan cepat karena tak sabar ingin meminta penjelasannya pada Lisa secara langsung.
Farhan sadar, bahwa ia tidak bisa menuruti rasa cemburunya begitu saja. Ia masih harus menekankan logika pada setiap tindak tanduk agar hidupnya tak berakhir gila. Mencari cara untuk mengetahui kenapa mantan pacar Lisa bisa sampai seperti itu. Bisa saja memang Lisa yang membuka lahan. Tak mungkin ada ba-bi liar datang ke perkebunan jagung jika tidak ada buahnya.
Dua puluh menit berlalu, Farhan memarkirkan mobilnya ke sembarang tempat. Lantas memberikan kuncinya pada satpam di mana detik berikutnya ia berlari kesetanan masuk ke dalam rumah.
"Mana Lisa?" tanya Farhan dengan nada marah pada pelayan yang kebetulan sedang bertugas di lobi rumah.
"Di-di ruang teve, Tuan," jawab pelayan itu takut-takut. Udara di sekelilingnya mendadak hilang saat Farhan melemparkan pandangan emosi kepadanya.
Padahal pelayan itu tidak tahu apa-apa. Tidak melakukan kesalahan apa pun yang menyinggung perasaan Farhan. Tsk. Dasar si batu bernapas.
Pria itu langsung bergegas memacu langkah kaki tanpa berucap lagi. Napasnya tersengal-sengal menahan emosi yang entah kenapa sulit sekali diredamkan. Di tatapnya Lisa yang tengah duduk santai seraya memangku camilan. Matanya terlihat sibuk sambil sesekali tertawa melihat adegan komedi pada drama Korea.
"Hmmmm!" Farhan berdehem tanpa kata. Membuat Lisa menoleh dengan senyum secerah matahari.
"Eh, Suamiku sudah pulang? Gimana ... gimana? Tuan Haris mau membatalkan rencana keberangkatan Cello, 'kan?"
Pria itu memilih duduk di hadapan Lisa. Wajahnya berpaling tak ingin melihat istrinya sama sekali.
"Itu kemauan Cello sendiri, satu-satunya jalan adalah merayu anak itu," ujarnya datar.
"Ya udah, besok kita bujuk anak itu sama-sama ya, Mas."
Farhan memasang wajah cemberut. Membuat Lisa mengernyit sedikit keheranan. "Ya, udah ... besok kita bujuk anak itu sama-sama," ulangnya sekali lagi.
"Kamu kenapa si, Mas?" tanya wanita itu lagi.
Tapi lagi-lagi pria itu hanya diam. Memasang wajah semakin datar, dan sepertinya ia sudah merubah wujud menjadi batu bernapas andalannya.
"Kamu kenapa, Mas? Pulang-pulang ngambek gitu?" Tangannya terjulur ke depan melewati meja. Diusapnya wajah Farhan dengan lembut. Di mana pria itu menepis kasar dan mengangsur posisi dukuknya semakin jauh dari jangkauan Lis.
"Kenapa ... hei?" tanya wanita itu panik.
"Meskipun pengacara, aku juga bisa memenjarakannya!" Sambil melempar ponsel ke pangkuan Lisa dengan wajah garang.
Lisa terlonjak. Nyaris melompat mendapat perlakukan seperti itu.
Ada apa, sih? Kenapa dengan manusia satu ini? Tingkahnya aneh sekali!
Suara hatinya mulai bertanya-tanya. Adegan ciuman yang sejak tadi Lisa tunggu-tunggu tak dihiraukan sama sekali. Teve itu berbicara sendiri tanpa dilihat oleh pemiliknya.
Diraihnya ponsel itu dengan tangan gemetar-gemetar menahan takut.
Dan ....
"Astaga!"
Lisa mengatupkan bibirnya tidak percaya. Sebuah pesan dari mantan pacarnya yang kemarin sempat menghubungi membuat bola mata Lisa nyaris copot.
[Kabari aku kalau kamu sudah menjadi janda Lis, aku masih setia menunggumu di sini.]
"Mas, aku bisa jelasin!"
"Tidak mungkin ada kebakaran jika tidak ada apinya!" Farhan berdiri seraya melepas jass kerjanya. "Sudahlah, aku lelah ...."
"Mas!" seru Lisa saat Farhan melangkah cepat menuju kamar.
Demi apa pun Farhan sudah tidak tahan. Ia takut emosinya memuncak dan berakhir melukai tanpa sadar.
***
Up 2 bab. Tapi pendek pendek ya. Nanti kalau ada waktu kupanjangin skalian benerin typo. 😁