
Bagi Lisa, menjadi istri Farhan adalah wujud mimpi yang dapat berubah menjadi kenyataan. Ia tidak pernah menyangka, bahwa lelucon tentang pembantu naik kasta yang pernah ia pikirkan akan menjadi kenyataan. Seorang Farhan menikahi Lisa tanpa memandang seperti apa statusnya di masa lalu.
Sama halnya dengan Lisa, Farhan sendiri juga tidak menyangka, gadis yang ia anggap seperti anak kandung sendiri akhirnya ia nikahi. Ia gagahi dan ia nikmati tubuhnya dengan berselara. Ah, sungguh dunia itu bulat, ia mampu membuat perasaan manusia yang berpijak di atasnya ikut berputar mengikuti poros. Farhan yang dulu bukan Farhan yang sekarang. Ia telah berubah menjadi lelaki normal yang butuhkan kehangatan wanita untuk menyelimuti malamnya sebelum tidur.
Lebih dari semua itu, Lisa adalah wanita yang mampu membuat Farhan merasakan seperti apa rasanya memiliki rumah untuk pulang.
***
Sebagian orang berkata, momen terbaik untuk membicarakan suatu masalah dengan pasangan adalah sehabis bersenggama, masih dalam keadaan polos sambil bersembunyi di bawah satu selimut yang sama.
Maka itulah yang Lisa lakukan saat ini. Mengajak Farhan bercinta dengan sedikit paksaan dan rayuan mautnya. Sampai pria itu mau dan mengeksekusinya dengan buas.
Lisa menatap Farhan yang tengah kelelahan sambil menyeka keringatnya, penuh cinta. "Kenapa kamu tidak pernah mau jujur, sih? Apa kamu tipe pria yang suka menjadi kesatria di balik topeng? Tidak ingin kebaikannya diketahui oleh orang lain."
"Tidak juga, aku hanya melakukannya karena ingin," ucap Farhan selogis-logisnya. Emosionalnya sudah berubah drastis ketika hormon endrofin di dalam tubuhnya terlepaskan. Pria itu mulai mengantuk, buru-buru Lisa mempercepat topik pembicaraan agar Farhan jangan sampai tidur duluan.
"Terima kasih, ya." Lisa menghela pelan. Gemali sayup terdengar detak jantung Farhan yang masih sedikit tak beraturan.
"Tapi kamu harusnya bilang, kalau kamu sudah berkorban banyak padaku. Bukan malah membuat aku jatuh dalam kesalahpahaman seperti ini. Andai pak Rico tidak bilang, aku mana tahu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Lisa dengan nada sedikit protes.
"Tadi memang aku sengaja tidak ingin menejelaskan," jawab Farhan, dan membuat Lisa menyerngitkan dahi seketika.
"Kenapa begitu? Coba ceritakan alasannya." Lisa mengetuk dada Farhan dengan jari telunjuk. Lembut, bibirnya menempel pada pipi Farhan bagian kiri.
"Agar kamu jadi pribadi yang tidak mudah salah paham dalam mengambil keputusan. Terkadang, orang yang baik di depan kita tidak selalu benar-benar berbuat baik. Sebaliknya, orang yang kamu anggap jahat, bisa saja ia adalah orang yang menyembunykan kebaikannya di belakangmu."
Begitulah Farhan dididik sejak kecil, ia selalu dibuat salah paham dengan aneka tugas padat dan tanggung jawab yang ia emban. Sampai Farhan sendiri terkadang heran dan merasa tak sanggup menjalani hidup. Ia membenci semua orang yang dengan tega memperdayanya selama ini. Ternyata, semua yang mereka lakukan adalah demi kebaikan Farhan sendiri.
Seperti ibu yang memarahi anaknya, dan si anak bilang bahwa ibunya galak. Padahal, apa yang ibu lakukan menandakan kasih sayang yang artinya beliau peduli terhadap anaknya.
"Iya! Pak Rico juga sudah menjelaskan, kalau aku harus menggunakan IQ tinggi untuk memahami maksud di balik semua perbuatanmu. Yang aku heran, kenapa kamu harus membuat kita capek-capek untuk berpikir? Kenapa tidak langsung menjelaskan poinnya?" Si bawel Lisa masih penasaran.
Sama halnya pada Rico, Farhan juga menjelaskan dengan kalimat yang sama pada istrinya. "Kau harus lebih peka terhadap lingkungan. Jangan selalu menggunakan hati sebagai pacuan jika hidupmu tidak ingin dipermainkan oleh orang lain."
"Aku tahu kamu marah, tapi aku harap kamu mau menyelidiki alasan di balik semua yang aku lakukan. Dengan begitu, kamu bisa belajar tahu mana orang baik dan mana orang yang pura-pura baik." Pandangan Farhan menengadah ke langit kamar bercahaya pendar, ia mengingat semua orang yang pernah bersikap keras padanya di masa lalu.
"Ya, aku paham! Untuk kedepannya, aku tidak akan mudah marah sebelum tahu jelas duduk perkaranya. Terima kasih untuk pelajaran hidup hari ini ya, Sayang." Lisa mendekap Farhan semakin erat. "Tapi, kalau boleh tahu kenapa kamu sebaik itu padaku? Aku ingin tahu alasan dari banyaknya pengorbanan yang kamu lakukan untukku."
Farhan menurunkan pandangannya, hingga hembusan napas hangatnya menerpa pori-pori wajah Lisa. "Karena kita sama, sama-sama pernah dibuang," ujarnya.
Lisa mengangguk paham. Ia tidak sakit hati, karena memang itu yang terjadi di hidupnya. Ketimbang berpikir miris, Lisa lebih suka berterima kasih pada sosok yang sedang ia peluk saat ini.
"Terima kasih telah berbaik hati padaku, Suamiku."
Tring ...!
Dering ponsel Lisa membuyarkan kemanisan yang sedang terjadi. Farhan langsung menyerngit tidak suka, ekspresi wajahnya berubah marah secepat kilat. "Jangan diangkat."
Wajah Farhan merah padam.
"Aku cuma mau cek, siapa yang telepon malem-malem gini." Lisa sudah hendak beranjak, di mana tangan Farhan langsung mencegahnya dengan aura wajah membunuh.
"Angkat telepon sama dengan mati," ujar pria itu dengan nada mengancam, emosi.
Dadanya kembali bergemuruh saat mengingat kelakuan Lisa tadi. Ia marah bukan karena Lisa tidak pulang, tapi karena Farhan kesal mengetahui Lisa menghubungi mantan pacarnya untuk sekedar curhat.
"Iya. Aku tidak akan mengangkat. Kenapa kamu jadi kesurupan lagi?" Lisa kembali memeluk Farhan dengan perasaan bingung. Ia merasa heran, kenapa suasana hati Farhan seperti bunglon. Sedetik baik, sedetik kemudian berubah jadi singa garang.
Andai Lisa tahu, bahwa Farhan sedang menahan rasa tanpa tahu harus berbuat apa. Ia kesal karena menjadi orang kepo dan mendengarkan semua curhatan Lisa pada mantanya tadi siang.
Jika pria itu bukan Farhan, mungkin sudah marah-marah tidak jelas saat mendapati istrinya menghubungi mantan pacar. Tapi berhubung Farhan tidak tahu bagaimana caranya mengapresiasi rasa cemburu, ia hanya dapat menahan semua itu di dalam hati.
Menyimpan kedongkolannya rapat-rapat seolah hatinya sedang baik-baik saja. Sesak, frustasi, pusing, dan bungkamnya mulut bodoh Farhan.
Cemburu, satu kata yang selama ini Farhan anggap sebagai bentuk kekanak-kananan para mahluk hidup.
***
Gengs, bagi votenya donk. Biar nangkring di rank 😋. Terima kasih.