HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Berhenti Egois



Tutup botol Petrus 1988 itu terbuka sempurna di atas meja ruang kerja. Farhan menempelkan gelas kedua di bibirnya. Menghirup aroma pekat itu sejenak sebelum akhirnya mengguyur rongga mulut dengan pait manis dan keasaman dari kenikmatan meneguk wine. Lalu ia mainkan dengan cara berkumur sesuai tradisi hingga cairan beralkohol itu melesat masuk menuju kerongkongan.


Ceklek.


Seseorang membuka ruang kerja Farhan. Pria itu masih tetap bergeming, tidak berminat melirik siapa yang datang dan memilih sibuk menatapi gelas kosong.


"Mas!"


Langkah sepatu yang bergesakan dengan lantai semakin dekat. Daru suaranya sudah bisa ditebak bahwa yang datang itu pasti Lisa.


"Apa kamu mau mabuk di rumah?" Sergah wanita itu saat melihat botol alkohol di atas meja. Kepalanya reflek menggeleng kesal.


"Hanya iseng," jawab Farhan. Memang ia tidak ingin mabuk. Hanya sekedar menenangkan diri dengan menikmati minuman kesukaannya.


"Kembali ke kamar, Mas! Jangan minum lagi. Aku tidak mau si kembar melihat keadaanmu yang tidak baik." Lisa menarik tangan Farhan agar segera bangun. Pria itu tidak memberontak, justru menurut dan mengikuti langkah Lisa meninggalkan ruang kerjanya.


Sesampainya di kamar, Farhan langsung memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Dalam suasana gelap, Lisa dapat merasakan punggungnya yang mulai basah terkena air mata. "Kau menangisi dia lagi, Mas?" tanya Lisa dengan nada bicara kurang suka.


"Sayangnya kamu salah," sangkal Farhan lemah. Lisa memutar tubuhnya seperti gerakan dansa. Lalu merangkum wajah basah suaminya yang sudah berderaian air mata.


"Lalu air kesedihan apa yang kamu jatuhkan kalau bukan sedih ditinggalkan belahan jiwamu itu?" tanya Lisa lagi.


"Sedih memikirkanmu."


"Aku?" Lisa melotot heran. Mencari jejak-jejak kebohongan di wajah Farhan dalam kegelapan. "Sepertinya kamu sudah mabuk ya, Mas? Biar aku nyalakan lampu dulu." Dua tangan Lisa terlepas dari wajah Farhan. Wanita itu membelokkan tubuhnya menuju saklar lampu. Namun, rangkulan Farhan yang cukup kuat segera menghalau langkah kecil Lisa.


"Kamu itu kenapa sih, Mas? Gelap, aku mau nyalain lampu dulu, terus minta bibi bikinin sup pereda mabuk buat kamu."


"Aku tidak mabuk." Dibenamkannya wajah basah itu keceruk leher Lisa. "Aku hanya takut."


"Takut apa lagi?" Kali ini kaki Lisa melangkah menuju ranjang sebelum Farhan menjawab. Pria itu hanya mengikuti, dengan posisi tubuh yang terus bergelayut di tubuh Lisa seperti anak kecil. Lisa duduk di pinggiran tempat tidur, diikuti oleh Farhan yang duduk dengan posisi masih mendekap Lisa, erat.


"Aku tau hidup kamu berat." Tangan Lisa terulur ke nakas, menyalakan lampu kamar agar mendapat setitik cahaya penerangan. Lalu ia berbalik ke belakang untuk melihat wajah suaminya. "Tapi aku bukan Dilan yang bisa menanggung hidup kamu atas perpisahanmu dengan pak Rico. Silahkan dirasakan, tapi kalau bisa jangan terlalu dipikirkan."


Farhan menggelengkan kepala. "Aku sudah tidak memikirkannya lagi," ujarnya sedikit kesal. Bukan itu yang dia maksud.


"Bohong! Barusan kamu nangisin apa kalau bukan nangisin pak Rico? Tadi aku udah jenguk dia ke rumah sakit. Keadaanya sudah membaik, tapi aku tidak bisa membujuknya untuk kembali." Intonasi wajah Lisa diucapkan dengan sedih, tapi sepertinya Farhan sedang bersandiwara tidak peduli. Terbukti dari raut muka datar yang terus dipasang sejak tadi. Dan pria itu memilih diam tanpa komentar apa-apa.


Sebenarnya Lisa ingin sekali menceritakan Fakta yang sesungguhnya. Namun, ia takut masalahnya akan menjadi melebar ke mana-mana. Lebih baik disimpan dulu, sampai keadaan Farhan dapat terkontrol kembali.


"Cukup terakhir ini kamu nangisin pria ya, Mas. Besok jangan lakukan hal itu lagi."


"Sudah kubilang aku tidak menangisinya!" Bentakkan Farhan membuat Lisa terlonjak seraya memegangi dada.


"Aku kaget, kenapa kamu bentak-bentak aku dadakkan gini?" protes Lisa ikut kesal. Dari batu bernapas, cepat sekali berubah menjadi batu erupsi.


"Lalu kamu nangis karena apa, dong?"


Pertanyaan dejavu itu membuat Farhan malas menjawab. Lalu ia membanting setengah tubuhnya ke ranjang dengan kaki yang masih menjutai ke lantai. "Aku tidak akan menjawab dua kali. Cukup satu kali yang tadi."


Lisa yang penasaran ikut bergabung tidur dengan posisi tengkurap dan menopang wajah dengan kedua tangannya. Ia masih ingat ucapan Farhan, tapi untuk percaya rasanya tidak. "Kamu sedang ada masalah dengan pak Rico, lalu kamu bilang menangisi aku. Bukankah itu lucu? Kamu jadi aneh, Mas, sebenarnya berapa banyak sih alkohol yang kamu konsumsi?"


"Hanya dua gelas."


Lisa mencubit pipi Farhan, gemas. "Kalau hanya dua gelas kenapa kamu ngaco begitu ngomongnya? Sampai nangisin aku, memangnya aku orang penting?"


"Penting sekali!" Farhan langsung menarik Lisa ke dalam pelukkannya. Di mana mata Lisa membola sempurna dengan degub jantung yang mulai mengencang. "Kejadian ini membuatku sadar, bahwa kamu sangat penting."


Tak mau terbang duluan, Lisa menyangkal ucapan Farhan dengan asumsi negatif yang ada di otaknya. "Maksud kamu aku baru penting setelah pak Rico menghianatimu? Ibarat semut yang tertutup badan gajah. Aku baru terlihat setelah gajah itu menyingkir. Begitukah?"


"Tidak seperti itu," sergah Farhan. "Banyaknya orang yang pergi meninggalkanku membuat aku sadar. Bahwa aku bukan orang penting yang harus di pertahankan." Wajah teduh itu memancarkan jejak penyesalan yang amat dalam.


"Sama seperti kepada Rico, awalnya aku pikir kamu akan menjadi orang setia yang selalu mendampingiku. Tapi kejadian ini membuatku berpikir jauh, bahwa kamu bisa saja pergi meninggalkanku kapan pun seperti Rico yang lebih memilih menjadi musuh daripada sahabatku. Dan semua itu membuatku takut jika kamu menjadi orang selanjutnya yang meninggalkanku meski kita tidak dipisahkan oleh maut seperti Reyno dan Jennie."


"Mas!" Lisa membelai kepala Farhan penuh kasih sayang. "Jangan samakan aku dengan pak Rico, bagaimanapun juga dia memang sudah ditakdirkan memiliki kehidupannya sendiri. Kami berdua tidak sama."


"Ya, aku tahu itu. Maka dari itu aku berhenti egois dan melepaskan dia pergi," balas Farhan dengan malas. Lisa tahu masih ada kata tidak rela yang terselubung di hati Farhan meskipun ia bilang mau melepas. "Tapi jika suatu saat kamu melakukan hal yang sama dengan Rico, entah aku masih bisa bertahan atau tidak."


Lisa tersenyum memandangi wajah suaminya. Lagi, jemari-jemari lentik itu membelai setiap inci rahang tegas yang mempertampan sosoknya. "Di dunia ini aku hanya memiliki kalian, jika bukan karena mati, mungkin aku akan terus berada di sisi kalian."


Lalu kepala itu jatuh dan terbenam di atas dada Farhan. "Mas Alan, sudahkah kau mencintaiku?" tanya Lisa pelan.


"Aku sedang mencoba, semoga kamu sabar menanti sampai aku menemukan jawabannya," balas pria itu seperti biasa.


Jemari Lisa langsung mengepal kesal.


Dasar Pak Rico sialan! Mana cinta satu Triliyun persen yang kau bilang. Alan sialan ini masih stuck di angka 0, rutuk Lisa dalam hati.


Dia langsung bangkit dari posisinya. "Makasih atas jawabannya, semoga percobaanmu cepat membuahkan hasil ya, Mas." Dia tersenyum paksa. Lisa harus segera ke kamar mandi, ia butuh mengguyur kepalanya yang di penuhi amarah karena mau-maunya percaya dengan ucapan Rico.


"Badanku lengket sekali, kalau begitu aku mau mandi ya, Mas."


"Nanti dulu," cegah Farhan. Bola matanya menatap Lisa penuh arti. Lalu, kegiatan mandi Lisa tertahan karena ada hal penting yang minta segera dituntaskan. 🤭


***


Assalamualaikum.


Hanya mau mengucapkan terima kasih atas segala dukungan dan cinta kalian yang setia membaca sampai bab ini. Tunggu up berikutnya ya.🙏🥰