
"Mas!" seru Lisa saat Farhan melangkah cepat menuju kamar.
Wajahnya tampak pucat kesi. Ia benar-benar menyesal karena pernah sekali meladeni mantan pacarnya bulan lalu.
Sebenarnya Lisa hanya iseng menerima panggilan itu karena rasa bosan yang melanda jiwa. Sungguh Lisa tidak menyangka bahwa perbuatannya berhasil memancing perdebatan dengan Farhan.
Brakkk!
Pintu digebrak kuat saat Farhan menutupnya. Lisa semakin panik. Ia berlari menyusul Farhan dengan langkah tergesa-gesa.
"Mas! Maafin aku, aku bisa jelasin ke kamu."
"Jelaskan!" bentak Farhan. "Berhenti di situ dan jelaskan!" Farhan berteriak saat Lisa hendak melangkah. Membuat wanita itu mundur selangkah untuk mengembalikan posisi berdirinya.
Lisa meremas jari-jemarinya yang sudah berkeringat cukup banyak. Matanya menatap punggung kokoh Farhan yang memilih berdiri membelakanginya.
Tampak dua tangannya mengepal. Punggungnya bergetar dan menahan emosi liar yang sedari tadi pria itu coba redam. Suaminya ini terasa dingin dan jauh.
"Jadi gini Mas, bulan lalu mantanku tiba-tiba menghubungi. Karena aku bosan, jadi aku mengangkat panggilannya. Tidak terasa kita ngobrol ngalor-ngidul hingga satu jam lebih. Tapi sejak saat itu kita tidak pernah berhubungan lagi, baru hari ini, pesan yang kamu baca itu."
Emosi Farhan meledak hebat. Bisa-bisanya Lisa melakukan kebodohan seperti itu. Sama sekali tidak ada waspadanya terhadap kedatangan orang ketiga. Meskipun Farhan tahu bahwa istrinya sangat mencintainya, tetap saja ia tidak suka dengan cara Lisa yang seperti menyepelekan suatu hubungan rumah tangga.
Ini tidak main-main, Farhan harus membuat garis pembatas agar wanita itu kapok bertingkah menjadi wanita polos-polos bodoh.
"Di mana aku saat kamu mengangkat panggilannya?" tanya Farhan mengetatkan gigi-giginya.
"Ehmm. Anu!" Lisa menggaruk kepalanya, semakin tidak enak hati. "Saat kamu sedang bekerja di ruang kerjamu."
Pria itu refleks berbalik. Matanya memerah. Entah hendak menangis atau marah, Lisa benar-benar tidak berani menatap mata itu lebih dari satu detik.
"Suamimu sedang bekerja, tapi kamu seenaknya mengobrol dengan laki-laki lain sampai ia merasa yakin untuk menunggu jandamu. Apa kalian pikir aku akan segera mati, hah?"
Pranggg!
Lampu tidur di atas nakas tersingkir dengan sekali gerakan tangan. Lisa memekik dengan nafas tertahan.
"Mas, ampun!" Sontak Lisa berlari dan memeluk Farhan dari belakang. "Aku tidak berniat mengkhianatimu, aku hanya iseng mengangkat panggilannya. Sumpah! Aku tidak memiliki perasaan apa pun pada mantanku!"
Wanita itu menggeleng. Bibirnya merengek di mana detik kemudian ia menangis terisak-isak. "Maaf Mas, aku sungguh tidak berniat melukai perasaanmu seperti ini. Tak dipungkiri aku khilaf, yang kemarin terjadi adalah kebodohanku. Kamu berhak marah, tapi jangan suruh aku melepas pelukan ini atau berkata hubungan kita akan berakhir. Aku tidak suka!"
"Tapi sikapmu tidak bisa dibiarkan!"
"Aku tahu!"
Punggung Farhan mulai basah oleh air mata Lisa yang merembes menembus baju.
"Marahi aku Mas! Bentak aku! Tapi jangan pernah bicara hubungan kita akan berakhir. Tolong maafkan aku setelah kamu puas memaki."
Farhan diam menahan getar sakit yang menusuk dada. Ia ingin sekali marah dan mengacak-acak seluruh isi kamar, tapi ia sadar bahwa wanita yang sedang memeluknya dari belakang tengah mengandung anaknya. Farhan tidak mau Lisa stress hanya karena memikirkan kemarahannya.
"Ngomong Mas, jangan diam, aku takut!"
Seluruh tubuh Lisa bergetar, tangisnya semakin pecah meluap-luap. "Aku salah ... aku salah," isaknya.
"Kamu masih menyukainya?" tanya Farhan sedikit tertahan. Menahan emosi yang meluap begitu dasyatnya.
"Engga Mas! Sumpah aku sudah tidak memiliki perasaan apa pun sama dia. Semua itu terjadi begitu saja tanpa aku sadari, Mas. Tolong kasih kesempatan untuk aku memperbaiki diri. Kasihan anak kita, ada anak kita yang sebentar lagi akan datang ke dunia," ujarnya.
Farhan berbalik setelah mendesahkan napasnya agak kasar. "Tapi apa yang kamu lakukan sangat mengecewakan. Seperti yang aku bilang, mantanmu tidak akan mengirim pesan seperti itu jika kamu tidak membuka pintu. Tidak mungkin ada kebakaran jika tidak ada apinya. Tidak mungkin ada harapan jika kau tidak memberikannya."
"Aku tidak memberikan harapan apa pun!"
"Panggilan telepon yang kamu ladeni adalah harapan baginya," telak Farhan.
Lisa membeku. Ia memilih tertunduk menatapi jari-jari basah yang tergenggam kuat di bawah sana. "Aku salah," lirihnya.
"Blokir nomornya. Ganti nomormu. Ini adalah kesempatan terakhirmu, sudah cukup selama ini aku menahan diri untuk tidak membalas teror mantanmu. Terakhir ... aku harap ini yang terakhir kalinya terjadi. Aku tidak ingin ada perdebatan soal mantanmu lagi!"
***
Jangan lupa tinggalkan komentar kalian sebanyak-banyaknya.