
"Gimana hadiah dari kami? Kamu suka, 'kan?" Felix tersenyum bahagia sambil mengusap-usap kepala kecil Cello. Masih pura-pura tidak peduli pada Farhan yang kesal dan marah di belakangnya.
"Keren sekali Om Felix ... aku sangat suka hadiahnya! Terima kasih banyak Om Bryan, Om Felix ... Ello suka sekali dengan helikopternya!" kata anak itu antusias sekali.
"Bun, Malika ... Aku sekarang punya helikopter loh!" pamer bocah itu. Lisa dan Malika hanya tersenyum samar untuk ikut menanggapi kebahagiaan Cello.
Walaupun pria kecil itu bisa membeli apa saja dengan uang keluarganya yang tak pernah habis, tapi diberi sesuatu oleh orang lain membuatnya senang. Mahal atau tidak, apa yang mereka berikan tetap menjadi lambang sebuah kepedulian.
Bryan yang berdiri mensejajari posisi Farhan di belakang Felix tersenyum seraya menepuk pundak Farhan.
"Anakmu menyukainya tuh," bisik pria itu pada Farhan.
"Kumaafkan kalian berdua karena dia. Jika dia sampai tidak suka mungkin besok kamu harus mencari sekretaris pengganti," telaknya.
Ck. Bryan tertawa geli. Sekretarisnya yang satu itu memang memiliki ribuan tingkah gila yang membuat dirinya terheran-heran.
Kadang Felix sangat menyebalkan, tapi baik dan merupakan sahabat kesayangan yang bisa diandalkan.
Setelah mereka berbasa-basi dan menyalami Lisa, Farhan mengajak Bryan dan Felix ke suatu tempat.
Lisa dan Malika tidak ikut, tetapi Lisa sengaja menyuruh Cello ikut agar tiga manusia mencemaskan itu tidak melakukan hal aneh-aneh yang bisa membuat bumi dan seisinya mengalami perang dunia ke lll.
Apalagi istri Bryan dan Felix tidak bisa ikut karena kesibukannya mengurus anak di rumah. Lisa memahami itu, jadi dia menjadi perwakilan Shea dan Chika untuk mengawasi kegiatan para suami-suami mereka.
Maka di sinilah mereka berempat berkumpul. Di sebuah ruang jamuan makan malam privasi agar mereka dapat lebih leluasa untuk mengobrol.
Namun sebebas-bebasnya mereka mengobrol tidak akan nyaman karena ada anak kecil yang siap merekam pembicaraan mereka untuk kemudian dihafal atau ditiru.
Bryan yang jenuh dan bosan dengan obrolan yang itu-itu saja menghampiri Cello, berjongkok di depan kursi roda anak itu sambil menatap kain penghalang yang menutupi bekas sunatan-nya.
"Mumpung di sini tidak ada perempuan, boleh om lihat?" ucap pria itu tersenyum geli.
Farhan dan Felix memperhatikan tingkah manusia yang satu itu sambil menyesap secangkir kopi di tangan mereka masing-masing.
Dua alis Farhan mengkerut tidak senang.
"Boleh!" Cello membuka kain penghalang miliknya. Bryan ikut membantu dengan membuka sendiri helm pelindung yang menutupi burung cicicuit milik Cello.
"Hasilnya bagus, seminggu lagi kamu sudah bisa lari maraton," seloroh Bryan jenaka.
"Benarkah Om? Asik dong kalau begitu. Sebenarnya Ello juga sudah malas duduk di kursi roda seperti ini."
Felix melirik sedikit dari kursi duduknya. "Ukurannya juga bagus, tuh. Kupastikan ayahmu kalah kalau kamu sudah besar nanti."
"Beraninya kau," geram Farhan melotot kesal ke arah Felix
"Memang begitu kan Bry? Di antara kita bertiga, punyamu yang paling minimalis lho, Han! Aku sering membandingkannya saat kita ke toilet bersama di jaman kuliah."
Cello hanya tersenyum siput mendengar Bryan dan Felix yang terbahak-bahak dengan pembahasan seru mereka.
"Betul-betul, aku ingat itu!" Bryan ikut menjadi kompor meledak agar suasana semakin seru
"Dasar tidak tahu diri! Kalian bandingkan keturunan orang Eropa dan Asia mana bisa," gerutunya.
Bryan bangkit dari posisi berjongkok. Lantas kembali duduk ke kursinya kembali sambil menatap wajah Farhan yang merona malu. Mereka berdua masih tergelak ria menertawai hal yang tidak penting sama sekali.
"Tapi punya anakmu pasti tidak jauh dengan milik kami. Kupastikan ayahnya kalah. Kamu memang Asia payah."
Mereka terus tergelak. Mem-bully Farhan adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Farhan memilih diam karena faktanya memang seperti itu.
Dasar manusia-manusia sialan! Beraninya kalian menjatuhkan harga diriku di depan anakku sendiri Awas saja kalian!
***
Up dua bab langsung. Jangan lupa komen dan like. Mau tau siapa aja yang bertahab baca sampai bab ini. Hehe