HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Perjalanan



Mobil melaju dengan kecepatan normal menuju alamat klinik mister Tong Jay yang tertera di kartu namanya. Lisa melirik sang suami yang tampak tenang mengemudi, kembali lagi jadi Farhan si batu prasasti yang selalu irit bicara.


Kalau Lisa sering melihat suami-istri yang selalu manis di depan umum, lain halnya dengan suaminya—Farhan. Pria itu masih sama kakunya seperti dulu walau ranjang mereka sudah lebih hangat dari sebelumnya. Bahkan, tak ada kata cinta atau sayang yang pernah terucap dari bibir Farhan. Entah hubungan mereka layak disebut seperti apa. Mau bilang tidak cinta, tapi Farhan begitu menikmati setiap persenggamaan mereka. Dibilang cinta, Farhan tidak pernah mengakui hal itu sama sekali. Mungkin hanya bisa menunggu waktu yang entah kapan datangnya.


Terkadang, Lisa merasa iri dengan tokoh-tokoh wanita yang ada di dalam drama dan novel. Yang selalu dimanja dan di sayang oleh suami. Meskipun ia sudah tahu watak Farhan yang hatinya sedikit kurang normal, Lisa tetap saja masih berharap suatu hari nanti suaminya akan berubah.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Farhan melirik sedikit, menangkap basah Lisa yang sedari tadi terus memperhatikannya.


"Aku sedang memikirkanmu," jawab Lisa apa adanya.


"Aku ada di sampingmu, untuk apa memikirkanku? Katakan saja apa yang kau mau dariku!" tukas Farhan. Ia tidak mau basa basi, katakanlah sesuatu yang jelas jika ingin berbicara dengan Farhan.


"Kenapa diam?" tanya Farhan tidak sabaran. Lisa menggeram sebal dengan pandangan bengis.


Kalau aku mau cinta, apa kamu bisa memberikannya? batin Lisa menahan ucapannya.


"Aku cuma mau tanya, selain bunda dan si kembar, apa ada orang lain yang mengetahui pernikahan kita, Tuan?" tanya Lisa, sekedar iseng untuk mengalihkan hatinya yang sedang berkecamuk.


"Tentu saja ada, bunda tahu, Felix dan Bryan juga sudah kuberi tahu."


"Benarkah?" Entah mengapa Lisa sedikit senang mendengar Farhan menceritakan pernikahannya pada orang-orang terdekatnya. Ada sensasi lega tersendiri yang menunjjukan bahwa pernikahan mereka tidak terlalu sembunyi-sembunyi.


"Iya benar. Keluarga besar orang tua angkatku juga akan segera tahu, karena Cilla dan Cello pasti akan memberitahu jika mereka main ke rumah utama."


"Ah, begitu ya?" wanita itu tertunduk—jengah.


"Iya. Apa kamu ingin segera melakukan resepsi pernikahan?" tanya Farhan menawarkan.


"Untuk sekarang belum," jawab Lisa. Karena ia ingin mengadakan resepsi pernikahannya jika Farhan sudah mengatakan cinta padanya. Wanita itu pun kembali diam dan melamun. Sampai Farhan memberanikan diri untuk bertanya,


"Kenapa melamun? Apa ada hal lain yang kamu inginkan?"


"A-aku mau es kelapa dingin," balas Lisa sekenanya.


Farhan mengedarkan pandangannya ke sisi jalan kanan dan kiri. Melihat apakah ada tukang es kelapa yang berjualan di pinggir jalan. "Es kelapanya tidak ada. Kalau kamu sabar menunggu kita cari restaurant terdekat, lalu mampir sebentar untuk minum es kelapa," ujar Farhan.


"Eh, tidak usah. Sebentar lagi jam makan siang, takutnya kita datang ke sana telat, jadi harus menunggu sampai jam makan siang selesai kan!" ucap Lisa mengingatkan. Kepalanya mengggelenga, menolak dengan wajah sok imut ciri khasnya.


"Ya sudah, tunggu pulang dari sana, baru kita cari es kelapa yang kamu mau," ujar Farhan.


Lisa yang merasa tidak menginginkan es kelapa hanya pura-pura mengangguk setuju.


Hening sejenak.


Lisa membuka ponselnya untuk mengecek pesan masuk. Ternyata kosong seperti rumah hantu yang tak ada penghuninya. Kecuali grup SMA dan grup kampus yang selalu ramai dengan obrolan-obrolan tidak jelas.


Lisa menoleh pada Farhan kembali. "Mas Al," panggil Lisa sok imut. Suaranya mengalun lembut. Membuat Farhan sedikit gugup mendengar panggilan yang masih asing ditangkap telinganya.


"Apa?" jawab Farhan datar seperti biasanya.


Lisa melipat bibirnya ke dalam. Hidungnya sedikit mendengkus karena Farhan selalu saja ketus. "Aku hanya mau memastikan sekali lagi, apa kamu serius mau ke klinik itu? Secara orang kayak kamu gitu, loh. Jadi aku mau tahu apa alasan kamu bersikeras datang ke tempat seperti itu? Padahal aku sudah melarang dan bilang tidak perlu."


"Kamu Alasannya."


"Aku melakukan itu untuk istriku. Memangnya untuk siapa lagi?" Farhan berkata dengan mata memicing sinis agar Lisa paham dengan apa yang dia ucapkan.


"Ah, untuk istrimu ya ...." Lisa meremas jemarinya. Merasa sedikit malu mendengar pernyataan Farhan budiman. Tidak ada nada romantis di sana, namaun sukses membuat hati Lisa melayang-layang hingga langit ke tujuh.


"Kalau begitu aku mau lihat reviuw para pengunjung Klinik mister Tong Jay dulu. Jangan sampai kita menyesal pas sudah ke sana." Lisa membuka layar ponselnya untuk mencari informasi tentang akurat dan tidaknya klinik itu.


"What?" Wanita teriak tiba-tiba. Membuat Farhan ikut terkejut dan menghentikan mobilnya ketepi jalan.


"Ada apa?" tanya Farhan bingung. Mobil sudah menepi sempurna, beruntung mereka sedang melewati kompleks sepi. Jadi tidak masalah jika berhenti sebentar.


"Mahal." Lisa menyeringai kuda.


"Apanya?"


"Ini loh, berdasarkan reviuw yang aku baca, katanya untuk satu kali konsultasi ke mister Tong Jaynya langsung sampai 12 juta. Tapi ada beberapa asisten yang membantu. Kalau sama asistennya agak miring harganya," ujar Lisa menerangkan. Jiwa irit khas emak-emaknya mulai berkembang pesat. Meskipun Farhan orang kaya, Lisa tetap merasa sayang kalau harus melepas uang sebanyak itu hanya untuk satu kali pertemuan. Apalagi tempat itu hanya berkedok klinik.


Farhan mendekat, ikut melihat layar ponsel Lisa sambil mencubit pipi anak itu—gemas. "Jangan lihat harganya. Coba cek reviuw akurat dan kepuasan pelanggannya mereka dulu."


"Eh iya." Lisa mulai men-scroll ke bawah. Membaca satu persatu kesan dan pesan para pelanggan klinik Mister Tong Jay dengan teliti.


"Coba lihat ini." Lisa mengarahkan layar ponselnya ke muka Farhan. "Katanya klinik ini cukup terkenal, ada level 3 sampai sepuluh dalam melayani pelanggannya. Kalau tiga, itu khusus kelas bawah, dan kalau level 10 itu khusus kelas atas di mana pasien ditangani langsung oleh pemilik klinik—mister Tong Jay. Banyak artis dan pejabat yang berobat ke sana juga, dan katanya privasi mereka aman terjaga."


"Kalau begitu kita pilih yang level 10 saja. Jangan memikirkan harganya."


Lisa mengangguk tanda setuju. Ia mulai membaca reviuw lain di website klinik itu.


"Katanya klinik itu juga bisa mengencangkan dan membesarkan buah dada loh, Mas!" Lisa menoleh pada Farhan yang sudah memasang seatbeltnya kembali.


"Terus?"


"Boleh tidak aku ikut membesarkan buah dada?"


Seketika mata Farhan melotot. "Jangan macam-macam. Apa kamu ingin berkeliling membawa dua buah biji kelapa?" gertak Farhan tidak terima.


Baginya itu sudah cukup. Terlalu besar akan mencolok dan menyita perhatian lelaki lain. Farhan tidak suka, dan tidak ingin hal itu sampai terjadi.


"Bukannya bagusan yang besar? Ukh, dasar Tuan Farhan budiman yang kikir," ejek Lisa kesal.


"Kita kesana hanya untuk mengatasi keluhanku. Kamu cukup jadi ajudan setia yang ada di belakangku," balas Farhan tak kalah sinis.


"Jangan coba-coba membesarkan tanpa seizinku," ancam Farhan, matanya melotot dan nyaris copot. Menyeramkan seperti mata Da'jal di dalam lukisan.


"Iya ... iya. Gak akan dibesarin, mending aku kempesin sekalian biar kamu merasa kehilangan," sungut Lisa sebal.


Farhan terdiam. Kaku dan kembali menjelma jadi batu bernapas.


***


Maaf ya, aku lagi sakit, jadi belum bisa up rutin kayak biasanya. Jangan lupa kasih vote, biar aku seneng 🤩🤩