
“Apa kamu baik-baik saja?” Usapan lembut tangan Farhan jatuh tepat di puncak kepala Lisa. Wanita itu mengerjap, segera bangun dan mendudukkan diri sambil bersandar.
Lisa mengucak dua matanya dengan tangan. "Tidak papa Mas, cuma tadi sempat pusing nyium bau rumah sakit. Mungkin karena sudah lama tidak ke sana kali ya?"
"Mungkin!" Pria itu menyentuh dahi Lisa untuk mengecek suhu tubuhnya. Kemudian duduk di tepian tempat tidur seraya memijit pelipis Lisa dengan gerakan pelan.
Lisa pun menyandar di dada Farhan.
"Tapi beneran gak papa?"
"Iya Mas! Tadi udah dibuatin teh sama anak gadis kita yang lagi bobo tuh!" Sambil melirik Cilla yang sudah tidur lelap di sampingnya.
Farhan terus memijat kening dan pelipis Lisa. Bukan memijat sih, lebih tepatnya mengelus seperti pada Milo kucing kesayangan si kembar.
"Apa jangan-jangan kamu hamil ya?"
"Uhuhkk!" Sontak Lisa terbatuk dengan mata menohok. Keningnya berkerut penuh keterkejutan. "Jangan sembarangan bicara!"
Farhan mengedikkan setengah bahunya. Matanya menatap Lisa yang sedang melotot serius ke arahnya. "Biasanya orang hamil tidak suka mencium bau-bau aneh, 'kan?" tebak pria itu dengan ekspresi wajah mengarah senang.
"Iya .... Tapi aku tidak mau terlalu berharap. Apalagi kita baru saja mencoba program kehamilan. Jangan mikir aneh-aneh dulu. Metode yang Sashi anjurkan saja baru mulai kita praktikan," ujar wanita itu menegaskan bahwa ia tidak mau terlalu berharap lebih.
“Tapi bisa jadi kamu sudah hamil sebelum kita melakukan program kehamilan,” sangkal Farhan tak mau mengalah dengan asumsinya. Bagi Farhan tidak ada yang tidak mungkin kalau tuhan sudah berkehendak.
Namun, buru-buru Lisa menghalau ucapan Farhan dengan muka tertekuk sebal seraya menghempaskan tangan Farhan dari pelipisnya. “Apaan sih, Mas? Haidku selalu datang tepat waktu. Bulan ini aja udah keluar sebelum waktunya. Ya, walau agak aneh sih, cuma dua hari dan gak terlalu banyak.”
Farhan memilih diam pada akhirnya. Ia tidak tahu masalah haid itu karena bukan merupakan jadwal buka warungnya. Lantas pria itu berkata, “Ya sudahlah, maaf kalau begitu. Jangan terlalu dipikirkan, toh kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Lebih baik kita pikirkan cara agar rumah tangga makin harmonis."
Harmonis versi Farhan itu simpel; Ialah, ketika dia bisa mendapat jatah buka warung yang banyak dari istrinya. Maka Farhan menarik dagu Lisa secepat kilat. Melabuhkan bibirnya pada benda merah muda basah milik wanita itu tanpa kata permisi.
Suami datar yang satu ini memang suka kurang ajar. Berani-beraninya dia melakukan hal senekat itu disaat ada anak kecil tidur di samping Lisa. Jadi serba salah 'kan! rasanya antara gemes pengin mutilasi tapi masih sayang banget.
“Cuma sedikit, lagi pula adek sedang tidur.” Tentunya si mulut sialan itu langsung mencari pembelaan tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Kalau tiba-tiba dia bangun gimana? Kamu ini ya, gak tau tempat dan kondisi,” kesalnya lagi.
Ia melirik Cilla. Untung gadis kecil itu sedang berposisi membalikan tubuh. Jadi Lisa sedikit tenang dengan harapan Cilla belum bangun atau mendenger percakapannya.
“Memangnya kalau aku ajakin kamu pindah tempat di kamar tamu mau?" tanya Farhan tidak tahu diri.
"Gila ya, tadi siang memang kita habis ngapain kalau bukan itu-itu? Bisa-bisanya kamu ngajakin kaya begituan lagi padahal udah dikasih jatah!" Satu jeweran melayang di telinga Farhan.
Lisa semakin dibuat geram dengan sikap Farhan yang makin lama semakin kelewatan. Memang mereka sedang dalam tahap program kehamilan. Tapi kelakuan pria itu terlalu over hingga menyalahi aturan.
Farhan menjawab ketus. "Aku cuma bercanda si!" kemudian memutuskan berbaring di samping Cilla tanpa ganti baju terlebih dahulu. "Ah, di ruang tamu ada anaknya pak Farik. Coba kamu tengok, takutnya mereka berantem."
"Oh ya?" Lisa tampak berbinar mendengarnya. Entah kenapa ia sangat penasaran dengan anak itu. Hilang sudah kesalnya pada Farhan setelah mengetahui ada Malika di rumah.
"Aku mau liat dia dulu, deh!" Wanita itu berlari girang ke luar kamar.
Membuat Farhan kesal lantaran belum disiapkan baju ganti sejak dari acara pemakanan di pantai tadi. Kegiatan menginap mereka di hotel juga gagal total karena pak Farik kecelakaan.
Untung Farhan sudah dapat jatah buka warung duluan. Kalau tidak si gagang gayung bisa ngamuk sambil jungkir balik di bawah sana.
***
Yang baca kasih hadiah bunga dan kopi dong. Komen dan like semangatnya juga boleh. Biar aku mangat up lagi. Bete banget aku up dri hari Sabtu gak lolos. Jadi sad nungguinnya.