HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 91 : (Season 2)



"Selamat malam Tuan Farhan. Apakah Anda suami dari Nyonya Lisa?" Wajah dokter itu tampak sendu dan kelabu. Membuat Farhan panik mana kala terjadi hal buruk di dalam sana.


"Saya suaminya Dok, apakah istri dan bayi saya baik-baik saja?"


Dokter itu sedikit tersenyum. Namun jelas sekali bahwa wajahnya tengah melukiskan sebuah kesedihan. "Istri dan bayi Anda baik-baik saja. Namun ada hal buruk yang terpaksa harus saya sampaikan."


"Hal buruk?" Lutut dan tangan Farhan seketika gemetar. Iya nyaris melepaskan rangkulannya pada dua bocah yang kini masih tertidur pulas sambil menyandar kepadanya.


"Hal buruk apa dokter?" Farhan menatap dokter itu harap-harap cemas.


Tuan Haris dan ayah Hermawan yang mendengar sesuatu telah terjadi di dalam sana langsung mendekat ke arah mereka.


"Ada apa ini, Dok?" tanya tuan Haris.


Suasana di depan ruang operasi itu terasa semakin menegangkan tatkala wajah sang dokter makin terlihat berat.


Dokter itu membasahi bibirnya sedikit sebelum memulai bicara. "Jadi begini ...Kami baru saja selesai melakukan operasi pembedahan untuk mengeluarkan bayi Nyonya Lisa. Dan sebelumnya saya mau mengucapkan selamat, karena bayi laki-laki Tuan Farhan baru saja lahir ke dunia dengan keadaan sehat. Namun, saya menemukan sebuah keanehan pada dinding rahim bagian dalam istri Anda."


"Keanehan bagaimana, Dok?" Kali ini tuan Haris yang bertanya. Farhan terpaku diam dengan otak setengah linglung.


"Nyonya Lisa pernah memiliki riwayat operasi infeksi rahim di persalinan pertamanya. Dan bekas operasi akibat infeksi dinding rahim yang dulu ternyata tidak seratus persen pulih. Mungkin dari luar terlihat baik-baik saja, namun ternyata infeksi itu sudah merambat ke bagian rahim terdalam. Jika dibiarkan, kemungkinan hal ini akan memacu pada kanker dan tentunya bisa membuat keadaan lebih parah."


"Lalu jalan terbaiknya bagaimana?" Hermawan menyela, mewakili Farhan karena pria tak kunjung mengatakan sepatah kata pun.


"Bagaimana, Han?" tanya tuan Haris cemas.


Farhan masih diam seraya mengelus dua kepala kecil yang kini masih dirangkulnya dengan erat.


Tuan Haris berusaha bertanya lebih rinci. "Apa tidak ada cara lain? Misalkan melakukan terapi atau pengobatan lain tanpa mengangkat rahimnya? Kasihan Lisa, dia masih terlalu muda untuk melakukan pengangkatan rahim."


"Menurut saya ini cara terbaik jika tidak ingin mengambil resiko jangka panjang. Karena infeksinya ternyata cukup parah, saya takut Nyonya Lisa akan tersiksa menghadapi efek samping selama masa pengobatan. Dan keberhasilan dari pengobatan itu juga hanya sekitar lima persen. Bisa jadi malah bertambah parah karena infeksi dapat bermutasi menjadi kanker mematikan."


"Ya Tuhan!" Tuan Haris sedikit memekik tak kuasa. Tak terasa cairan bening mulai merembas di kedua pipi semuanya kecuali Farhan yang sedang berusaha menguatkan hati sebisa mungkin. "Bagaimana Han, kenapa kau diam saja?"


Farhan tertegun, belum bisa memutuskan apa pun. Lagi-lagi ia hanya menghela sambil menatap dua wajah mungil si kembar.


Sepertinya doa dan keinginan kalian dikabulkan. Ini adalah terakhir kalinya bunda merasakan sakit dari persalinan.


Farhan menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan sebelum berbicara. Setelah mantap dengan keputusannya, barulah pria itu mendongak untuk bicara kepada dokter yang sejak tadi menunggu jawaban.


"Bolehkan saya masuk ke dalam untuk menemui istri saya dulu?"


***


Jangan lupa like dan komennya dulu.