HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Eksekusi Istri



Mati aku ... mati aku ...


Lisa terus mengulang kata-kata itu seperti lagu. Di dalam toilet yang sempit dan pengap, ia tak hentinya berpikir mencari solusi terbaik. Mbak Vivi sudah pergi terlebih dahulu karena sudah memasuki jam kerja. Meninggalkan Lisa yang gunda gulana di dalam toilet sendirian. Ah, andai mbak Vivi tahu suami Lisa yang sesungguhnya adalah Farhan. Pasti mbak Vivi tidak akan sebodoh itu bercerita di hadapan Farhan ataupun Rico.


"Apa aku bunuh diri saja? Lalu menulis permintaan maaf dengan sepucuk surat? Aishhk!" Lisa menjambak rambutnya frustasi. Hidupnya seperti di ambang dua pilihan, antara mati sendiri, atau menunggu Farhan datang menggorok lehernya.


"Tuan Farhan pasti sangat malu." Mengingat pria itu sangat menjunjung tinggi harga dirinya. "Haishhh!" Lisa mendesah emosi. Anak itu membenturkan jidatnya sebanyak tujuh kali.


Tak seharusnya ia menggosipi keburukan sang suami pada orang lain. Apakah ini semacam azab untuk istri yang durhaka pada suaminya? Ah, Lisa sungguh menyesal. Ingin rasanya ia mengelem mulut nyinyirnya. Ia tidak terima dengan peribahasa nasi sudah menjadu bubur. Muanya ada mesin waktu yang bisa dipakai pergi ke masa lalu. Sayangnya Lisa bukan Nobita yang memiliki sahabat Doraemon.


"Bagaimana ini?" Wanita itu kembali membenturkan jidatnya ke tembok. Sakit tapi tak berdarah. Hanya ngilu sedikit.


"Andai waktu bisa diputar kembali." Lisa mendongak seraya menerawang masa depan. Otaknya terus berkerja mencari sebuah solusi.


"Aku harus segera kabur ... ya! Aku harus kabur sebelum terlambat. Jangan harapa Farhan si jelmaan Fir' aun itu mau mengampunimu, Lisa! Abaikan status istri, dia terlalu jahat untuk berbelas kasih." Lisa buru-buru keluar dari dalam toilet, namun bahaya lebih besar sudah menghadangnya.l terlebih dahulu.


Terlambat.


Rico dan Farhan tepat berada di di depan toilet. Menunggu Lisa dengan tatapan menyalang tajam. Keduanya nampak serius, tidak main-main.


"Ehem." Rico berdeham.


"Astaga!" Lisa memegangi dadanya kaget. Apakah dua mahluk ini adalah pasangan suami istri di masa lalu? Kenapa berduaan terus? batin Lisa dongkol.


"Hello, my Boss!"


Lisa melambaikan tangannya kikuk. Mata jelinya mencari cela untuk lepas dari dua monster mengerikan itu. Tamat sudah riwayatnya. Lisa sungguh ingin menggigit jari mbak Vivi sampai putus. Bisa-bisa, ya! Memberikan kartu nama sialan itu di hadapan Farhan.


"Apa kau sudah siap?" tanya Farhan pada Lisa. Muka datarnya terlihat sangat menyeramkan. Seperti ada ribuah pisau yang siap menusuk tubuh Lisa sampai jadi rica-rica.


"Mas Al!" Lisa berlutut meminta pengampunan. Abaikan harga diri. Lisa belum ingin mati.


"Kau panggil aku apa?" Farhan dan Rico sedikit terkejut.


"Mas Alan!" Lisa memegangi kaki Farhan seraya mendongak. Memelas seperti kucing kelaparan yang berharap diberi tulang ayam.


"Dari mana kau tahu nama itu?"


"Tentu saja aku tahu, nama itu adalah nama asli Anda yang diberikan bunda di masa lalu. Alan kakak Jennie."


"Ishkk!" Sungguh itu pertanyaan yang tidak penting. Lisa harus segera berdamai dengan Farhan.


"Ah, kau sedang merayuku dengan panggilan itu. Jangan berharap lebih, Lisa!"


"Baik, Tuan." Lisa meronta-ronta saat Rico memutar kedua pergelangan tangannya. Lalu memborgol wanita itu seolah dia adalah maling.


"Bedebah, mau apa kalian!" teriak Lisa, mulai berani melawan demi pertahanan diri.


Tak ada kata ampun, Farhan berjalan angkuh menuju lift pribadinya. Rico menyeret Lisa mengikuti tuannya. Wanita itu terus meronta-ronta sampai Rico harus menutupi tangan Lisa yang diborgol dari belakang menggunakan jas kerjanya—agar tidak dilihat orang lewat.


Memasuki ruang gelap dengan minim cahaya, bola mata Lisa membola seketika. Sebuah ruang dengan berbagai macam senjata. Terlihat mengerikan karena suasana dingin mencekam. Lisa terus mengedarkan pandangannya ketika Rico mendudukkan wanita itu di sebuah kursi kayu.


"Apa Anda akan membunuh istrimu sendiri, Tuan?"


Tak ada jawaban atau pernyataan apapun dari Farhan, namun melihat koleksi senjata sebanyak itu Lisa sudah bisa menebak ending-nya akan seperti apa. Mati dieksekusi, mayat dibuang, lantas Farhan menikah lagi tanpa tanpa harus dipenjara. Kisah Lisa akan tenggelam. Begitulah isi pikiran wanita yang baru dinikahi Farhan belum genap seminggu.


"Ya Farhan! Apakah kamu tuli?"


Rico dan Farhan sama-sama membelalak saat Lisa seberani itu memanggil Farhan dengan kalimat tidak sopan seperti itu.


"Kau akan membunuhku, bukan?" Lisa berteriak keras sekali lagi. Hidung mancungnya mendengkus, menambah kesan imut di mata Farhan.


Mari kita bermain-main sejenak wahai Istri, batin Farhan sambil menyeringai.


Wanita itu terus meronta-ronta. Mencoba melepas belenggu borgol baja yang mengikat kedua tangannya. Sial, sekuat apapun Lisa meronta, borgol itu akan terus menyakiti dirinya sendiri.


"Bisakah Anda mengampuniku?" Lisa memelas sekali lagi.


"Tidak!" jawab Farhan logis.


Sebuah tali gantung terjun tepat di atas Lisa.


Ya Tuhan, aku akan digantung? Lisa merinding takut.


"Ah, kalau begitu. Izinkan aku mengeluarkan semua unek-unekku selama ini. Setidaknya, Anda harus mendengar jerit hatiku sebelum mati."


"Silahkan," ucap Farhan.


Tolong Lisa, jangan katakan apapun. Atau acara mengerjaimu akan segera berubah menjadi upacara kematian. Rico membatin dalam diam. Menepuk jidatnya sambil menggelengkan kepala.


Mengerjaimu adalah ideku, tapi jika Tuan Farhan marah lagi, aku juga akan ikut dikubur hidup-hidup bersamamu.


***


Tenang dulu gengs, emang begini bentuk cinta jelmaan Usermatree. Wkwkwk.