
Sementara di sisi lain, Tuan Haris sedang bersenang-senang di sebuah kedai es krim bersama tiga bocah imut kebanggannya. Ia langsung jatuh cinta begitu melihat pembawaan Malika yang tampak kalem dan penurut. Jiwanya di jaman Siti Nurbaya langsung meronta-ronta ingin sekali menjodohkan Malika dan Cello kalau sudah besar nanti. Apalagi semenjak Reyno meninggal tuan Haris mulai bersahabat baik dengan pak Farik. Jadi alasan persahabatan bisa menjadi daya tarik utama yang mendorong kegiatan perjodohan itu. Namun, keputusan penuh tetap ada di tangan Farhan. Pria itu tidak memiliki ketertarikan apa pun dalam bentuk perjodohan, jadi semua kembali pada takdir. Tuan Haris hanya bisa mengusulkan tanpa berani mengatur.
Oh ya, ngomong-ngomong soal persahabatan, pasti aneh kenapa para bapak tua itu bisa bersahabat. Itu karena pak Farik adalah orang penting yang ikut berperan merubah anak kesayangan tuan Haris yang manja jadi pribadi yang hebat. Meski umurnya pendek lantaran Tuhan berkehendak lain, namun tuan Haris tetap bangga tiada tara dengan kepribadian Reyno yang luar biasa.
Kegiatan berlanjut, setelah menghabiskan cup es krim, tuan Haris mengintrogasi Malika dan Cello. Awalnya mereka tampak ketakutan kecuali Cello yang biasa-biasa saja dalam menanggapi situasi. Namun lama-lama mereka biasa saja karena tuan Haris terus membangun jiwa ngobrol santuy ala anak-anak.
“Jadi kalian sudah tunangan nih ceritanya?” tanya tuan Haris, sebisa mungkin ia menahan tawanya agar tidak keluar.
Cello menjawab kesal. “Pertunangannya 'kan batal, Grandpa! Malika nggak mau pakai cincin dari aku. Katanya dia mau temenan aja.”
“Ah, begitu. Sayang sekali ya, padahal Ello tampan ya, Cill?”
Cilla mengangguk saat sapuan lembut tangan tuan Haris mendarat di puncak kepalanya. “BENER BANGET! Kak Ello itu ganteng, pinter, dari kecil udah mapan karena dia anak orang kaya.” Cilla begitu membanggakan sang kakak seolah Rafathar belum lahir ke bumi dan masuk dalam daftar anak-anak sultan terbaik lainnya.
Malika yang sedari tadi diam menoleh, bibirnya bergetar lantaran sang ayah tak kunjung kembali setelah menemui Farhan. “A-ayahku kok belum kembali, ya? Om tadi ngga akan ngapa-ngapain ayah ‘kan, Kek?” Bertanya pada tuan Haris dengan sebutan kakek.
Malika sungguh tidak peduli dengan bualan Cilla dan kakeknya. Otaknya dipenuhi nama sang ayah. Malika takut ayahnya dilukai oleh Farhan. Karena Malika sempat melihat gaya Farhan yang menyeramkan saat ditemui ayahnya tadi, Malika jadi berprasangka buruk pada si batu bernapas yang kalau sudah marah tidak pandang bulu apalagi melihat situasi.
“Ayah kamu baik-baik saja. Cuma lagi ngobrol sama om Farhan dan tante Lisa,” ucap tuan Haris menenangkan anak itu.
Cilla ikut berceletuk. “Ayah Hanhan baik kok. Paling ayah kamu dikasih duit sama ayahku.”
Oh, Malika semakin tidak paham. Entah di mana letak baiknya om garang tersebut. Ada Malika saja dia berani menyentak pak Farik, bagaimana kalau tidak ada?
Di tengah-tengah situasi rumit dan kebingungan, tiba-tiba Malika menangkap sosok sang ayah yang sudah babak belur. Wajahnya di penuhi luka-luka, ada bekas sayatan di tangan kiri yang tak hentinya mengeluarkan darah.
“Ayaaaahhhhh!” teriak Malika saat melihat ayahnya ambruk sebelum sempat mendorong pintu masuk kedai di mana mereka sedang berada.
“Panggil ambulan … panggil ambulan.”
"Darahnya tidak mau behenti keluar! Bagaimana ini?"
Teriakkan para pengunjung kedai yang panik mulai menggema di mana-mana. Malika sudah menjerit-jerit histeris melihat ayahnya tak sadar diri bersimpah darah. Tuan Haris langsung menyuruh orang agar ke rumah sakit menggunakan mobilnya saja.
Apa yang dilakukan Farhan, apa ia menyuruh bodyguard untuk memberi pelajaran pada pak Farik?
Batin tuan Haris dipenuhi tanda tanya dan kecemasan. Ia segera menggendong Malika ke tempat duduk semula agar jangan melihat keadaan ayahnya. “Kalian bertiga tunggu di sini. Grandpa dan yang lain harus mengantar ayah Malika ke rumah sakit. Nanti Grandpa akan menghubungi ayah Farhan dan Bunda Lisa agar datang ke sini.”
“Gak mau! Malika mau ikut ayah!” jerit anak itu histeris sekali.
Cello mencoba menenangkan Malika dengan cara memegangi dua tangannya. "Kamu di sini aja Kecap, nanti kalo ikut malah tambah repot!"
"Gak! AKU MAU AYAH!" Malika berteriak ngilu seperti orang kesetanan. Membuat orang yanh melihat jadi kasihan terhadap anak itu.
Sang ayah sudah di bawa ke mobil tuan Haris oleh sebagian orang. Namun tidak mungkin tuan Haris membawa tiga bocah sekaligus dalam keadaan genting seperti ini.
“Kamu yang tenang ya, Nak! Ayahmu pasti baik-baik saja! Nanti kamu bisa nyusul sama om Farhan dan tante Lisa.” Tuan Haris langsung menitipkan tiga anak tersebut pada pelayan toko. Hari ini terasa nahas bagi tuan Haris, ia tidak membawa satu pun bodyguar atau supir bersamanya, tapi malah mendapati kejadian tak terduga seperti ini.
Mobil segera melaju cepat menuju rumah sakit terdekat. Tuan Haris langsung menghubungi nomor Farhan dan Lisa, namun tak ada satu pun yang menjawab lantaran keduanya sedang mantap-mantap di kamar mandi. “Apa yang sedang kalian lakukan siang-siang begini? Kenapa tidak ada yang menjawab panggilanku sama sekali,” geram tuan Haris kesal.
***
Kalo banyak yang kasih hadiah bunga dan kopi aku up lagi. Kan artinya banyak yang nunggu dan semangatin. hehe