
"Astaga!" Lisa nyaris melompat kaget saat pintu kamar baru saja dibukanya. Sebuah penampakan langka terjadi di depan mata dan kini tampak menusuk indra penglihatannya.
Kena sindrom viral dari mana lagi suamiku?
Ia sampai harus mengucak kedua matanya beberapa kali lantaran masih syok dengan kelakuan aneh Farhan.
Tepat lima meter dari jarak pandangnya, Farhan sedang berbaring santai di tengah ranjang. Ia memakai masker wajah milik Lisa sambil menikmati lilin aromaterapi yang biasa dipakai perempuan untuk memanjakan diri.
"Mas!" panggil Lisa setengah memekik.
Ia mendekat sedikit takut, lantas membuka sebagian masker yang menutupi wajah pria itu itu sampai ia tersadar dari tidur nyamannya.
"Apa?" tanya Farhan bersuara datar.
"Kamu lagi ada masalah hidup apa? Kok tumben banget pake masker aku," tanya wanita itu dengan sorot mata menyelidik.
Farhan merapikan kembali maskernya tanpa menjawab.
Kalau bukan karena takut dipandang tua, aku juga tidak akan melakukan hal segila ini, batin Farhan yang tergiur iklan di cover pembungkus bahwa masker itu dapat membuat wajah kita 10 tahun lebih muda.
"Ini juga!" Lisa melirik minuman kolagen yang tinggal sedikit isinya di atas nakas.
"Kamu minum kolagen aku juga? Ya ampun Mas, ini ada apa sih?"
Lisa menggeleng keheranan. Sejak bertemu Zian, Farhan berubah total seperti bukan suami yang Lisa kenal sebelumnya. Padahal, Lisa sendiri tidak tahu bahwa pikiran Farhan sedang bergejolak ruwet saat ini. Ia begitu takut jika suatu hari nanti Lisa sampai berpaling ke yang lebih muda dan berakhir mencampakan dirinya begitu saja.
Wanita yang tengah hamil muda itu naik ke atas paha Farhan. Memaksa pria itu duduk seraya mencopot masker di wajah Farhan. Ia meletakkan benda tipis itu di atas nakas.
"Kolagen bagus untuk kulit tubuh, dan masker itu katanya bisa membuat wajahku 10 tahun lebih muda." Farhan menatap Lisa dengan mata malas. "Ada apa dengan dirimu? Aku hanya ingin melakukan perawatan, memangnya salah?"
"Ya ampun Mas! Sikap kamu yang ngga biasa kayak gini itu nakutin aku! Ngapain perawatan? Biasanya juga kamu cuek sama penampilan!" tukas wanita itu kesal.
Lisa mulai merasa ada yang tidak benar di dalam diri Farhan. Entah itu apa, yang jelas Lisa merasa ada sesuatu yang sengaja Farhan sembunyikan dari dirinya.
Ia menarik kepala Farhan ke dalam pelukannya. Mengelus punggung pria itu penuh kasih sayang agar Farhan mau terbuka.
"Maafin aku ya kalau tingkahku hari ini bikin kamu kesel. Aku juga sadar kalau akhir-akhir ini aku nyebelin di mata kamu. Semua yang aku lakukan adalah spontan bawaan hamil," lirih wanita itu.
Farhan hanya diam. Menikmati segala perlakuan lembut Lisa yang mulai jarang ia rasakan semenjak wanita itu hamil.
"Kamu sebenarnya lagi ada masalah apa, sih?" tanya wanita lagi.
Farhan bergeming. Pikirannya sudah mengembara akibat terlalu dekat dengan pegunungan yang permukaannya sudah berubah lebih besar dan padat dari beberapa minggu lalu.
Kini otak terkutuk pria itu sudah tidak sesinkron beberapa detik yang lalu. Seketika badannya memanas bersamaan dengan aliran hebar seperti listrik yang membuat pusat tubuh pria itu berdenyut ngilu.
Jika Lisa memberikannya sekarang, Farhan berjanji akan memaafkan dan melukapan pertengkaran mereka hari ini. Tapi kalau tidak, maka ia akan lanjut ngambek lagi sampai besok. Bahkan lusa bila perlu.
"Mas!" sentak wanita itu. Kemudian memaksa wajah Farhan agar mendongak menatapnya. Lisa menangkup dua sisi wajah Farhan dengan kedua tangannya. "Aku lagi nanya sama kamu!" ujar wanita itu kesal. Merasa terabaikan.
Farhan meraih pinggang Lisa dan memeluknya erat sekali. Wanita yang sedang duduk di pangkuan pria itu pun mulai sadar bahwa area berbaha di bawah sana sudah siap dipakai jungkat-jungkit.
"Aku cuma sedang kurang percaya diri. Makin lama wajahku terlihat tua. Aku takut kamu minder jadi istriku dan berakhir mencampakkanku suatu hari nanti!"
"E ... e ... eh? Asumsi gila dari mana itu? Mana ada wajah suamiku tambah tua! Yang ada dia semakin hari tambah tampan dan mempesona. Bahkan aku sampai harus pasang kuda-kuda waspada agar kamu tidak dicuri orang," tukas Lisa.
"Berlebihan!" ujar pria itu sambil merajuk. Ngambeknya kian meluruh. Berganti kilatan-kilatan nafsu yang sudah tampak membara di kedua manik matanya.
"Aku serius. Jika pikiranmu seperti itu, sebaiknya buang saja hal negatif itu sekarang juga. Perjalan kita untuk sampai titik ini sudah sangat panjang Mas! Aku adalah wanita bodoh jika sampai berpaling dari suami hebat sepertimu," ujar Lisa lagi.
Farhan hanya mencibir tanpa kata. Ia menyelusupkan satu tangannya lewat cela dress bawah yang Lisa kenakan. Dalam sekejap jari-jemari lihainya sudah membelai perut dan berakhir meremas benda kenyal yang masih berada di balik dress milik wanita itu.
"Boleh?" tanya pria itu sedikit malu-malu.
Lama tak menyentuh tubuh Lisa membuat Farhan kembali canggung. Rasanya ia seperti balik lagi pada jaman mereka baru menikah dulu.
Panas. Gelisah. Nyaris basah-basah. Dan membuat wajahnya sekita berubah merah.
"Boleh. Tapi kita harus baikan dulu." Wanita itu juga satu pemikiran dengan Farhan. Ia mau lelahnya hari ini tidak sia-sia dan menjadi berkah.
Farhan mengangguk pelan tanda setuju, lantas segera meloloskan dress milik Lisa lewat bagian kepala tanpa menunggu diperintahkan.
Dalam sekejap, pria itu langsung melucuti pakainnya. Lantas menyerbu dua santapan lezat yang ingin ia habiskan saat ini juga.
"Aku mau gaya belalang sembah atraksi kungfu, Mas!"
Farhan mengangguk ditengah-tengah aksinya. Lisa memejamkan matanya perlahan, tangannya merangkul pundak Farhan dan sesekali meremas rambut belakang pria itu. Ia mulai hilang kendali sampai tak sadar bibir mungilnya sudah melepaskan desahan-desahan kecil yang membuat Farhan bersemangat.
Farhan tersenyum singkat, kemudian melanjutkan pergumulan itu sesuai gaya yang Lisa minta sampai si gagang gayung mengibarkan bendera kepuasan.
***
Dah begini aja. Jangan ngeri-ngeri kasianilah si jomlo.
Btw kasih bunga dan kopinya dong mentemen. ðŸ¤ðŸ¤. Udah kerja keras nih. kwkwkw