HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Undangan Horor



Rico menerima sebuah email dengan nuansa darah dan bertema devil. Pria itu mendengkus kesal setelah membaca undangan party itu secara seksama. Ia melirik Farhan yang nampak tenang di singgasananya.


Apa lebih baik tidak usah kuberi tahu saja?


Bimbang, Rico kembali menatap undangan aneh itu. Ia pikir, si pengundang sudah lupa dengan kegiatan satu tahun sekali yang rutin dia adakan—karena sudah satu tahun lebih Rico tidak pernah menerima undangan palsu bertema ulang tahun tersebut. Ternyata, si pengundang yang tidak lain adalah biang rusuh, mengundang Farhan untuk menghadiri pesta ulang tahunnya.


Rico sudah hafal betul, bahwa undangan itu merupakan undangan ulang tahun palsu. Setiap tahunnya, si pengundang selalu mengundang Farhan dengan tanggal dan bulan berbeda. Namun, temanya tetap saja bertakjub merayakan ulang tahun.


"Anda mendapatkan sebuah undangan ulang tahun, Tuan." Akhirnya Rico memberi tahu Farhan dengan berat hati. Wajahnya ditekuk sebal saat mengatakannya.


"Dari siapa?" tanya Farhan masih bergeming menatap layar monitornya.


"Saya sudah mengirim undangannya ke alamat email Anda, silahkan dicek saja." Ketus, Rico berkata. Sampai ekor mata Farhan melirik untuk memastikan bahwa pria itu tidak berubah jadi wanita PMS.


Farhan membuka undangan via email yang ia terima. Pria itu tersenyum, ia sudah paham kenapa Rico mendadak ngambek melihat undangan tersebut. "Kosongkan jadwalku untuk nanti sore sampai besok." Sebuah perintah tanpa bantahan diturunkan.


Kalimat yang tidak ingin Rico dengar keluar dari bibir Farhan. Namun bukan Rico jika tidak berani menyergah dengan bantahan. "Jadwal Tuan sangat padat besok pagi, tidak bisa dikosongkan. Lebih baik lain kali saja menghadri acaranya."


"Masih ada kau," jawab Farhan enteng.


"Tapi Tuan, firasat buruk selalu menghantuiku setiap kali Anda menghadiri acara ulang tahun itu. Lagipula, aku juga tahu kalau undangan itu hanya taktik dia semata. Aku bahkan mencatat undangan yang dia berikan setiap tahunnya. Tanggal dan bulannya selalu berbeda," ucap Rico penuh harap. Berharap bossnya jangan mau mendatangi undangan tidak penting seperti itu.


"Lalu apa kau pikir aku tidak adakan datang karena laranganmu?" Farhan bertanya sambil memasang wajah datar. Matanya galak penuh ancaman.


"Baiklah, saya akan mengosongkan jadwal Anda dari sore sampai besok." Memilih patuh dan membiarkan bossnya berjalan ke jurang. Biarkan saja, toh Farhan yang akan menerima konsekuensinya.


"Bagaimana dengan hadiah yang aku minta waktu itu? Apa kau sudah menyiapkannya? Ini sudah waktunya aku menepati janjiku." Farhan kembali menatap Rico. Tangannya bertaut di depan muka sambil menunggu jawaban pria itu.


"Sedang dalam proses Tuan"


"Percepat! Bagaiaman mungkin aku datang ke sana tanpa membawa apa yang sudah kujanjikan?" tanya Farhan kesal. Giginya bergemeretak menahan geram.


"Akan saya percepat Tuan, besok saya akan mengantarkannya pada Anda langsung."


"Baiklah ... jangan sampai lupa." Farhan kembali menatap layar monitor untuk melanjutkan aktifitas yang tertunda.


"Tapi, Tuan? Dia juga meminta nona Lisa untuk datang. Apa Anda yakin mau membawa nona Lisa juga?" Meyakinkan sekali lagi agar Farhan membatalkan acaranya sepihak.


"Tidak masalah, sekalian aku memperkenalkan istriku."


Harapan pupus. Rico hanya bisa menghela napas sambil mengelus dadanya agar lebih sabar.


***


Hayo siapa yang penasaran Farhan mau ke mana? Jangan Lupa vote ya, aku mau crazy up hari ini loh.