
Tring ....
Ponsel yang tiba-tiba berbunyi nyaring langsung membuyarkan skandal Lisa dan Farhan yang baru saja hendak di mulai. Farhan menjauhi tubuh Lisa saat baru saja hendak menyentuhnya. "Sebentar, aku angkat telepon dulu. Takutnya penting."
"Berani angkat, mati kau Tuan Farhan!"
Ancaman Lisa tak menghalangi niat Farhan.
"Sebentar, kenapa kamu tidak sabaran sekali, sih?" Satu bantal sofa melayang. Mengenai kepala belakang Farhan saat pria itu sedang mengangkat panggilan telepon.
Hallo Tuan, saya sudah periksa. Syukur, penerus bangsaki tidak apa-apa. Dia sehat dan sudah pulih kembali, ucap Rico di balik sana. Ia sengaja memberi tahu agar Farhan tidak terlalu khawatir.
"Syukurlah kalau begitu. Apa kamu sedang ada masalah lain?" tanya Farhan yang tiba-tiba ingat status lawak Rico di akun sosial medianya.
Tidak ada apa-apa. Nanti sore aku akan mampir ke kantor untuk membawa pekerjaannku ke rumah, jawab Rico bohong. Ia ingin sekali cerita perihal masalahnya dengan sang ayah, namun Rico terlalu takut jika kehidupannya akan menambah beban pikiran Farhan.
"Tidak perlu, Lisa sudah mengerjakan semuanya. Lebih baik kamu istirahat di rumah. Kalau tidak ada urusan lagi, aku tutup panggilanmu sekarang."
Krup ....
Telepon ditutup. Farhan membalik badan dengan geraman mulut tak tertahankan. Emosinya bergejolak saat Lisa tak kunjung paham apa maksud di balik ucapan Farhan pada Rico barusan. "Apa kau itu anak-anak. Mengapa terus melempari punggungku dengan barang-barang?"
Bola mata Lisa berputat-putar sebal. "Siapa suruh kamu lama! Dan juga, aku paling tidak suka jika kamu tertalu perhatian pada Rico. Jelas-jelas tugasnya masih banyak, kan? Kenapa bilang tidak usah membantu?" protes Lisa murka. Birahi di dalam jiwanya turun drastis. Bukannya ingin bercinta, Lisa lebih bernapsu mengunyah daging Farhan dengan bumbu kecap.
Lisa menerima penjelasan masuk akal yang Farhan ucapan. Kemarahannya kembali larut. Berganti menjadi partikel-partikel birahi yang makin lama kian menuntut.
Penuh semangat, Farhan menjatuhkan wajahnya di atas dua bakpao hangat milik Lisa. Menikmatinya seperti bayi yang lebih suka susu formula dibandingkan susu sachet-an.
Lisa teriak kelojotan. Beruntung ruang kerja itu didesain kedap suara. Sehingga desahan Lisa tidak di dengar oleh orang lain. Intruksi Farhan pada manager divisi juga cukup meyakinkan. Semua kariawan berpikir bahwa Lisa dan Farhan sedang bekerja keras sampai tidak keluar di jam makan siang.
Nyatanya, mereka memang sedang berkerja keras menciptakan bayi hasil buah karya berdua.
Napsu semakin menyergap, Sofa terasa sempit dan tidak leluasa untuk pergerakan si gagang gayung. Farhan mencari alternatif lain, ia membopong tubuh Lisa dengan kedua tangan, mendudukkan wanita itu di atas meja kerjanya. Tak lupa Farhan menyingkirkan barang-barang pengganggu tanpa sadar. Beberapa alat tulis dan file terjatuh ke lantai. Pria itu hilang logika dan juga akal sehat. Pikirannya tertuju pada tubuh indah Lisa dan gagang gayung yang minta segera dipuaskan.
Tiga puluh menit berlalu, gagang gayung sudah mabuk parah. Ia sudah tidak tahan lagi diajak main wahana komidi putar. Gagang gayung itu langsung muntah-muntah di dalam goa milik Lisa tanpa izin. Membanjiri seisi goa dengan kecebong yang aktif lomba lari.
Farhan menjatuhkan satu kecupan di bibir Lisa sebagai tanda permainan berakhir. "Terima kasih," ucap Farhan dengan napas tersengal. Lisa tersenyum bangga. Lalu menjawab, "Sama-sama."
Penyatuan terlepas, sisa muntahan gagang gayung keluar hingga mengaliri meja kerja. Andai di antara kegiatan itu membuahkan hasil, anak Farhan dan Lisa sangat cocok diberi nama 'Tab' yang artinya table.
***
Jahat banget gak sih? Kalo dibaca jomblo. Menurutku si, engga. Wkwkkw.