HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 52 : (Season 2)



Kini Farhan sadar bahwa masa-masa indah bersama dua anak kesayangannya yang telah ia lalui takkan pernah bisa terulang kembali. Ia menyesal karena telah mengabaikan dua mahluk yang paling disayang Tuhan itu hingga mereka memilih pergi.


Entah apa yang harus ia katakan pada Lisa sepulang ke rumah nanti. Hati Farhan benar-benar hancur berantakan sekarang.


Ia terlalu gegabah dan menggampangkan sesuatu dengan dalil mampu. Wataknya yang sedikit keras tak membiarkan siapa pun membantu mengurus si kembar. Farhan terlalu berambisi bahwa dirinya mampu mengatur semua urusan yang ada di dalam keluarganya. Hingga kini ia mulai sadar bahwa keegoisannya telah melukai hati polos mereka. Mengabaikan dan lalai akan tanggung jawab penuhnya.


Pria itu tengah menengadah dipenuhi rasa salah. Bersandar di dinding kamar manding dengan sebagian wajah basah. Ia membiarkan titik-titik air diwajahnya jatuh begitu saja mengenai sebagian tubuhnya.


Tadi Farhan sudah berusaha mengetuk kamar dan merayu keduanya. Namun yang ada di dalam sana memilih diam meringkuk di pojok kamar lantaran terlalu takut menemui ayahnya.


Di saku jas pria itu tersimpan sepucuk surat yang ditulis oleh mereka berdua. Beberapa kali Farhan mengambil dan menaruh lipatan benda tipis itu lantaran takut membaca isi di dalamnya.


Setelah memantapkan diri, mengembus dan menghela beberapa kali. Tangan Gemetar Farhan merogoh saku jasnya kembali, menari kertas itu dan memandangnya cukup lama.


Perlahan ia mulai membuka dan melihat isi surat tersebut. Di atas selembar kertas putih yang di penuhi emot dan bunga-bunga hasil dari jari-jemari lincah Cilla dan Cello, Farhan menajamkan penglihatannya.


Yah, ... ayah ...


Kenapa sekarang ayah jadi beda? Sejak bunda Lisa hamil, ayah udah ngga peduli lagi sama kita. Padahal kita udah berusaha rajin belajar biar ayah sama bunda seneng.


Tapi ayah selalu marahin kita. Apa karena kita bukan anak kandung ayah dan bunda? Makannya ayah galakin kita?


Marcello.


Serangkai kata dengan tema terus terang yang Cello tuliskan cukup menyayat hati pria itu. Tujuan dan niat pernikahan mulia yang ia dan Lisa lakukan waktu itu seakan gugur. Matanya beralih ke bawah, membaca pesan Cilla yang bahasanya sedikit manis, namun masih tetap membuat hati Farhan terkoyak-koyak.


Kita nggak lagi ngambek apalagi sampe benci sama ayah, kita berdua sayang banget sama ayah dan bunda. makannya kita mau ayah bunda bahagia sama dedek bayi dan bunda Lisa.


Pokoknya kita ngga mau ngerebut ayah dan bunda dari dedek bayi.


Cilla.


Farhan mendekap kertas tersebut untuk meredam rasa sesak yang menyeruak di dada. Sore itu ia pulang ke rumah dengan tangan kosong. Tak ada suara cempreng di jok belakang yang selalu aktif saat berkendara. Tak ada tawa-tawa renyah dan ajakkan mampir ke suatu tempat yang biasa mereka lakukan setiap melakukan perjalanan.


Farhan melirik jok mobil belakangnya yang terasa kurang. Hingga tanpa sadar air mata kembali lolos menerjang pipi. Ia menghentikan mobilnya sejenanak ke tepian jalan.


Ia mengambil sebuah foto polaroid yang tersimpan rapih di dalam dasbor. Foto pria itu bersama si kembar saat pertama kali bertemu beberapa tahun lalu yang sempat terabadikan sebelum Reyno dan Jennie pergi.


Di dalam foto itu, mereka berdua tampak bahagia duduk dipangkuan pamannya. Si kembar mencium kedua sisi wajah Farhan, dengan Jennie juga ikut berdiri di belakang sambil merangkul pundak kakaknya.


Ada Reyno yang melirik tak suka dengan tangan terlipat di dada karena cemburu melihat isrtinya bergelayut pada tempat yang tak semestinya.


Tangan pria itu mengusap selembar foto dengan gerakan pelan, tersenyum getir karena itu merupakan momen terakhir kebersamaan mereka.


Dan untuk pertama kalinya, Farhan takut pulang ke rumah. Farhan tidak berani menemui Lisa. Farhan bingung harus menjelaskan yang bagaimana kepada wanita itu.


***


Sedikit dulu ya gengs, Anna lagi kurang sehat. Makasih untuk semua yang mau mengerti dan dukung lewat hadiah.