
Suasana tengah malam yang sunyi mendadak berubah menjadi kegaduhan di hotel pribadi milik keluarga Haris. Farhan marah-marah lantaran dokter jaga perempuan yang ia cari tidak ada. Lobi yang menjadi tempat berkumpulnya para staff yang mendapat jatah jaga shiff malam, disulap mencekam dan mengerikan layaknya rumah kosong angker.
Farhan berkacak pinggang tanpa rasa malu. Ia menatap satu-persatu wajah ketakutan para staffnya. Emosinya tidak stabil dengan dada naik turun tak terkontrol. Walaupun ia menggunakan baju piyama, tak membuat aura horor di wajah tegasnya memudar. "Bagaimana mungkin kalian lalai seperti ini? Apa kalian sudah lupa moto hotel kita?"
Hening. Tidak ada yang menjawab sepatah kata pun.
"Jawab!" bentak Farhan murka. Semuanya berjinjit ngeri. Seolah mereka sedang menunggu giliran untuk dimakan bulat-bulat.
"Tamu adalah raja kami. Memberikan pelayan paling sempurna adalah tugas kami." Manager hotel yang berjaga malam memberanikan diri untuk menjawab. Kepalanya menunduk tanpa berani melihat ke arah Farhan.
Farhan mendesah berat. "Moto sebagus itu tidak ada gunanya jika tidak dipakai. Apa kalian tidak tahu bahwa hotel ini dikhususkan untuk orang-orang penting?" Mata Farhan menatap manager yang mengatur berjalannya operasional hotel. Dia masih terus tertunduk dengan hati kalut sekaligus takut.
Ditengah-tengah ketegangan, tiba-tiba lengan Farhan ditarik cukup kuat. Lisa muncul dari belakang Farhan bagaikan kesatria baja hitam.
"Mas!" Lisa menatap pria itu penuh hardik. "Ayo ke kamar. Jangan marah-marah tengah malam. Kasian mereka ... mereka gak salah apa-apa, Mas."
Farhan tidak memperdulikan omongan Lisa. Pria itu langsung menyergah kata yang menunjukkan bahwa ia sangat khawatir. "Apa gatalnya bertambah parah? Tahan dulu, dokter wanita sedang dalam perjalanan."
"Tidak usah, Mas. Aku baik-baik saja."
"Kalian dengar! Jika istriku sampai kenapa-napa ... bersiaplah mendapatkan hukuman.
"Sudah ayo, jangan berlebihan."
Farhan kembali murka mendengar ucapan Lisa yang terkesan meremehkan.
Wanita itu langsung mengajak Farhan menjauhi mereka. Melihat wajah para staff pucat pasi membuat wanita itu merasa tidak enak. Karena semua masalah disebabkan olehnya.
"Fiuhhh!" Semua staff menghela napas lega begitu Farhan dan Lisa lenyap di balik pintu lift. Melihat Farhan yang marah secara membabi buta, membuat mereka semua tahu betapa besar rasa cinta Farhan pada istrinya. Farhan tidak pernah semarah ini sebelumnya. Apalagi yang menyangkut dirinya sendiri. Tapi kali ini, Farhan begitu murka saat istrinya terkena masalah yang tidak seberapa.
Sekembalinya ke dalam kamar hotel, Farhan langsung membanting tubuh Lisa di sofa. Kasar dan terlihat menakutkan.
Lisa yang tidak terima langsung melawan perlakuan Farhan dengan mulut petasannya. "Sebenarnya kamu lagi perhatian apa lagi mau bunuh aku sih, Mas? Jujur aku bingung, tadi kamu kayak yang khawatir banget. terus berubah kasar gini."
Mata menyalang Farhan menatap Lisa lekat.
"Bisakah kau tidak menyusahkanku? Bisakah kau berhenti melakukan hal yang membahayakan dirimu sendiri? Terkilir, kepentok meja, kaki terkena beling, pingsan karena makan mie instan expired, insiden lipstick kedaluwarsa, kenapa kau suka sekali membuat orang panik dengan hal-hal aneh yang kau lakukan, Lisa?" Farhan mencengkeram leher Lisa sampai wanita itu terbatuk-batuk. "Bisakah kau menjaga dirimu sendiri, hah?" Dihempaskannya tubuh ketakutan itu sekali lagi.
"Uhuk ... uhuk ..." Lisa terbatuk. Napasnya hampir habis karena cengkraman Farhan. Seluruh tubuhnya menggigil ketakutan. Ia memeluk diri sendiri di pojok sofa. "Ma-maaf. Aku sungguh tidak papa. Se-se-telah dibersihkan dengan a-a-air su-sudah lebih baik!" Wanita itu terbata-bata, nyaris kehilangan kata.
Jelas kekhawatiran Farhan sudah melebihi batas rata-rata. Namun, sikap kasar pria itu membawa dampak kesalahpahaman yang cukup dalam. Tidak ada perlawanan, mulut nyinyir, atau guraian yang keluar dari bibir Lisa lagi.
Gadis itu menangis dalam sejuta pikiran. Ini adalah kedua kalinya Farhan berbuat kasar kepada Lisa. Lebih parah lagi, masalah yang Lisa timbulkan tidak seberapa.
Lisa merasa, ia sedang tidak melukai orang kesayangan Farhan. Kenapa harus semarah itu?
Brugh!
Farhan langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai dengan posisi gajah duduk. Tanpa mengeluh, ia seperti merasakan siksaan yang menyakitkan di kepalanya. Lisa yang melihat langsung panik kebingungan.
Apakah suamiku kesurupan aing macam?
Lisa langsung berlari melihat tingkah Farhan yang aneh dan tidak biasa. Merasa keselamatannya terancam, ia meninggalkan Farhan yang masih terpuruk di ruang tamu sendirian. Pria itu masih memegangi kepala, pandangannya semakin nanar tatkala Lisa sudah menghilang di balik pintu.
***
Tahan dulu, tahan dulu .... jangan pada emosi ya. 😝