HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Besok Nikah?



"Kamu tidak ingin kerja? Enak sekali santai-santai di ruang boss!" Mode nynyir Rico diaktifkan. Pria itu menatap Lisa yang duduk di sofa seraya menjenggut rambutnya sendiri. Gadis itu sedang gulang-guling sedari tadi. Ingin keluar dari ruangan Farhan, tapi malu masih belum bisa reda. Apalagi Lisa baru saja merendahkan harga dirinya di depan Farhan.


"Aku mau mengundurkan diri saja," jawab gadis itu sebal.


Rico tergelak kencang. Ia ingin tertawa jika melihat ekspresi canggung Lisa saat Farhan bertanya mana cincin lamarannya.


Gadis itu seperti dejavu untuk pertama kalinya. Lisa pernah menanyakan pada Farhan mana cincin lamarannya saat mengajak nikah, sekarang gantian Farhan bertanya pada gadis itu tentang cincin lamaran.


Farhan juga menggoda Lisa, bahwa gaya melamar Lisa tidak keren. Untungnya ia mau menerima lamaran Lisa. Tidak ada JAIM seperti Lisa waktu itu.


"Mana cincin lamarannya?" Begitulah Farhan bertanya dua jam lalu. Pertanyaan yang sukses membuat bibir Lisa kelu seketika. Gadis itu terbengong heran. Detik itu juga ia baru sadar telah mempermalukan dirinya sendiri karena telah melamar laki-laki tanpa sadar. Kata-kata yang sudah keluar tidak dapat ditarik kembali. Lisa sudah terlanjur melamar Farhan dan langsung diterima.


"Ah, sepertinya karma yang datang padamu begitu instan." Farhan menyunggingkan senyum tipis. Lantas kembali duduk di atas kursi panasnya.


Apa yang terjadi dengan Lisa? Saat itu juga ia merasa harapannya hancur. Lisa adalah gadis hobi menghayal yang menyukai kisah pangeran dan putri. Jelas ia ingin dilamar oleh pria yang ia cintai dengan suasana romantis. Sebuah cincin melingkar di jari manis. Alunan musik mengalun indah. Juga tepuk tangan meriah dari para hadirin yang menyaksikan acara lamaran. Semua itu sudah tidak ada lagi. Lenyap bersama sejarah malu yang harus ia tanggung.


Ah, sudahlah! Lisa sudah terlanjur melamar pria secara dadakan. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang perlu disesali. Toh pria itu adalah si batu bernapas.


"Tuan!" panggil Lisa, bibirnya mencebik kesal karena Farhan terus-terusan cuek sedari tadi.


"Apa?" jawab Farhan tanpa mengalihkan pandangannya pada layar laptop.


"Kita sudah resmi pacaran 'kan?" tanya Lisa mengkonfirmasi. Heran sekali dengan pria aneh macam Farhan. Pasalnya tak ada perubahan apapun pada pria itu. Seolah tidak ada yang terjadi dengan hubungan dia dan Lisa barusan.


"Besok kita menikah."Jawaban Farhan membuat jatung Lisa terjun bebas ke dasar perut.


"Apa?" Tubuh Lisa seperti terkena aliran listri dua ribu mega volt mendengar kata 'besok kita nikah'.


"Ke-ke-kenapa cepat sekali?" tanyanya terbata-bata.


"Lebih cepat bukannya lebih baik, kan? Kau tidak perlu khawatir dengan masalh resepsi pernikahan." Pandangan Farhan memicing. Menoleh ke arah Lisa dengan raut wajah terpaksa. "Kau ingin gaya pernikahan yang seprti apa?"


"Ja-jangan besok, Tuan. Nikah itu butuh persiapan. Ya ampun, kita mau menikah, Tuan. Bukan jalan-jalan santai," tegur Lisa sambil berdoa agar bossnya berubah waras.


"Suka-sukaku," jawab Farhan enteng.


"Oke baiklah. Tapi kita akan membuat kontrak perjanjian nikah 'kan?" tanya Lisa dengan polosnya.


Farhan termangu, lantas menoleh pada Rico dengan tatapan penuh arti. Cukup mendapat satu kali lirikkan mata, Rico langsung paham apa yang tuannya mau. Ia pun menjelaskan,


"Nona Lisa yang cantik dan juga baik, sepertinya kamu terlalu banyak membaca novel ala-ala jaman sekarang. Mana ada pernikahan dengan perjanjian kontrak di kehidupan nyata. Adapun yang seperti itu, hanya satu banding seribu," terang Rico.


"Biasanya CEO seperti itu 'kan? Apalagi kita menikah demi si kembar. Harusnya ada S dan K yang harus kita patuhi demi kenyamanan bersama," ujar Lisa.


Farhan yang duduk di kursi panasnya menggeram kesal. Sementara Rico terbahak-bahak dengan tangan yang memukul meja kerjanya.


"Berhentilah memikirkan hal yang bukan-bukan. Jadilah istri yang penurut, bahagiakan suamimu. Sukur-sukur—"


"Tunggu dulu!" Lisa memotong nasihat Rico yang tak ia gubris sama sekali.


"Kita tidak akan tidur satu ranjang 'kan? Bagaimana dengan masalah kontak fisik?" tanya Lisa yang ingin memastikan. Sebab, ia tak lagi berhasrat pada tubuh kekar itu semenjak Lisa tak sengaja membuat si kembar hilang. Bayangan wajah Farhan yang mengerikan terus berputar-putar di pikirannya. Bahkan ia sering mimpi buruk jika mengingat kegalakan Farhan.


Canggung. Rico melirik sekilas ke arah bossnya. Tak ada kode rahasia yang berarti Rico dapat menjawab sesuka hatinya. Sekalipun itu nyinyir.


"Untuk masalah itu tanyakan langsung saja pada Tuan Farhan. Lagian, kau belum sah menjadi istri Tuan Farhan, tapi sudah membahas adegan aye-aye. Ah, Lisa! Aku jadi tidak konsentrasi kerja gara-gara pembasanmu." Sebuah bantal sofa melayang ke wajah Rico.


"Mode galak mulai," decak Rico dengan tawa pecah memenuhi seisi ruangan.


Ya Tuhan, Lisa mau mati saja rasanya. Ia belum siap jika harus tidur satu ranjang dengan es batu. Bisa dibayangkan malam-malamnya akan berakhir dingin. Ia tidak mungkin bisa berisik di kamar. Nonton drama sambil nangis. Makan indomi di atas kasur. Tertawa melihat stand up comedi.


Huuh. Lupakan semua itu. Gila bersih akan murka. Ada banyak hal yang harus Lisa tanyakan daripada mengurusi hobinya yang tidak penting.


Gadis itu bangkit dari acara main-mainnya. Lantas menghampiri Farhan dan duduk di depan meja kerjanya.


"Bolehkah saya mengajukan dua permintaan soal pernikahan?" tanya gadis itu.


"Silakan," jawab Farhan sok arogan.


"Pertama, saya mau kita menikah hanya ke dinas pencatatan sipil saja. Tidak mau ada acara resepsi terlebih dahulu. Karena Cilla masih kurang suka denganku, biarlah aku melakukan pendekatan pada mereka. Yang terpenting, hak asuh si kembar segera terkonfirmasi. Jadi Tuan Farhan tidak perlu takut ada yang merebut si kembar dari tangan kita."


"Yang kedua?" tanya Farhan yang berarti ia setuju dengan permintaan Lisa.


"Si kembar akan sah menjadi milikku jika kau memiliki wanita lain."


"Ya!" Farhan menatap Lisa dalam-dalam. Wajah pria itu berubah kesal. "Apa maksudnya jadi milikmu?"


"Jika kau selingkuh, si kembar akan menjadi milikku."


"Berani sekali kau!" gertak Farhan kesal. "Aku mau selingkuh atau tidak, itu urusanku."


Rico yang mendengarnya langsung emosi. Bisa-bisanya Farhan memancing bara api seorang wanita. Harusnya dia bilang 'aku akan selalu setia padamu, Lisa'. Begitulah jika Farhan masuk golongan manusia normal.


Selingkuh? Ck. Rico tidak pernah berpikir bahwa orang seperti Farhan mengerti istilah selingkuh. Masih diberi jodoh saja sudah sujud syukur. Untuk apa selingkuh?


"Kalau begitu aku tidak mau menikah denganmu. Percuma, aku akan kesal jika kau bersama wanita lain," jawab Lisa kesal.


"Kau cemburu?" tanya Farhan.


"Untuk apa cemburu. Saya tidak mau si kembar diurus oleh wanita lain. Jika Tuan selingkuh, aku akan mengurus mereka. Aku yakin Jennie tidak akan rela anak-anaknya disentuh oleg pria Lain.


Farhan terdiam mendengar nama adiknya tersebut. Ia paham bahwa di hati gadis itu hanya ada nama sahabatnya dan kedu piranha keturunan Reyno dan Jennie.


Tidak ada nama Farhan sama sekali sepertinya.


***


Ye, aku up bab ke 2 hari ini.


Kalobanyakyang vote aku upsatubab lagi. Kalo banyak banget, aku up 2... makasih gengs. Politik popularitas aku tuh