
Oh, tolong katakan pada Lisa! Apakah ada lelaki yang lebih menyebalkan lagi dari seorang Farhan?
Merenggut masam, Lisa berjalan mengikuti langkah kaki Farhan kemanapun. Gadis itu membawa payung selagi Farhan mengelilingi area proyek pembangunan yang baru setengah jadi. Terik matahari yang menyengat menimbulkan keringat Lisa berjatuhan dari tubuhnya. Terjun dari area pipi hingga jatuh ke tanah.
"Apakah bahan-bahan produksi bangunan kita sesuai? Kau sudah memastikannya?" Farhan bertanya selagi ia mengedarkan pandangannya.
"Sesuai, Tuan," jawab Rico logis.
Lisa menggeram kesal. Meratapi nasibnya sambil bertanya-tanya kapan tugas menjadi ojek payung ini selesai.
"Apa kau lelah?" Farhan menoleh pada Lisa. Tentu saja dengan pandangan mata mengejek. Bukan sebuah kalimat pertanyaan bernada perhatian.
"Saya masih kuat, Tuan. Bahkan jika Anda menjemurku dua selama dua hari," sindir Lisa sinis. Tak lupa melemparkan senyum yang penuh dengan kepura-puraan.
Ck. Farhan tersenyum smirk. Anggaplah itu karma karena telah menolak Farhan tadi malam. Meski karma tak seenak korma. Begitulah isi pikiran Farhan saat ini.
Satu jam berlalu, penderitaan Lisa berhenti saat waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Kini ia sedang duduk di tempat peristirahatan Farhan. Sebuah ruangan berukuruan 6 m x 9 m dengan kaca transparan. Ada aneka makanan di atas meja. Lebih dari cukup jika harus dinikmati oleh tiga orang.
Tertegun menelan saliva, Lisa memperhatikan sosok bapak tua yang tengah duduk di bawah beton bangun. Matanya terus mengikuti pergerakan bapak tua dengan bekal yang ia bawa. Sebungkus mie goreng instan dengan alas mangkuk plasti di depannya. Tangan bapak tua itu sedang kepanasan memegang bungkus mie instan yang baru saja ia siram dengan air panas.
Lisa ingat, betapa tidak enaknya memakan mie instan tanpa direbus. Ada bau khas mie instan bercampur aroma plastik yang menguar. Dulu Lisa pernah melakukan hal yang sama seperti bapak tua itu. Saat ia dihukum bibinya tidak diberi makan, diam-diam Lisa mencuri satu bungkus mie instan di dalam kulkas, lalu menyiramnya dengan air panas. Dan kabur ke luar rumah agar dapat menyantap mie yang rasanya setengah matang itu. Persis seperti bapak itu, tangannya juga kepanasan saat membawa sebungkus mie instan dengan air panas yang memenuhi isi dalamnya.
Ya, namanya juga lapar. Apapun yang dimakan akan terasa lezat. Dulu Lisa juga tidak peduli seperti bapak itu, demi mengizi perut, ia mengabaikan bahaya efek samping dari plastik tersebut. Acuh tak acuh dengan larangan menyiram air panas ke dalam wadah berbahan plastik.
Karena lapar itu menyakitkan. Itulah yang Lisa rasakan.
Gadis itu kembali mendekat ke arah Farhan dan Rico. Mereka sepertinya sedang mengecek data-data tidak valid yang terdapat pada anggaran biaya pembangunan.
"Tuan," lirih gadis itu dengan mata polos.
"Bolehkah saya minta makanan bagian saya yang ada di atas meja?" Wajah Lisa penuh harap. Selayaknya anak kecil yang minta jajan pada ibunya.
"Ambilah," ucap Farhan dengan gaya datar.
Gadis itu merubah ekspresi wajahnya. Nampak sumringan dengan tangan lihai yang menyomoti lauk-pauk. Setelah di rasa cukup, Lisa segera bangkit dan hendak ke luar. Namun Rico mencegah dengan pertanyaan,
"Mau kemana kamu, Lis?" tanya Rico saat ia melihat Lisa kesusahan mendorong pintu kaca yang ada di depannya. Gadis itu kesusahan karena dua tangannya penuh dengan makanan.
"Biarkan saja," ujar Farhan. Pria itu membiarkan Lisa berbuat sesuka hatinya. Kasihan juga kalau terus mengerjai gadis itu.
"Saya mau makan di luar saja, tidak enak mengganggu kalian," tawa garing Lisa pecah. Gadis itu mendorong pintu dengan tubuhnya. Lantas menghilang dari jangkauan mata Rico.
"Bolehkah kita bertukar makanan? Sepertinya makanan Bapak enak?" Lisa ikut duduk di alas tikar yang digelar oleh si bapak.
"Eh jangan, Non!" Bapak itu memundurkan sedikit duduknya. Ia hendak meraih makanannya, namun terlambat! Lisa sudah lebih dulu meraih semangkuk mie yang tak di masak di atas kompor itu. Lalu dengan cepat ia menyantapnya tanpa permisi. Sengaja.
"Enak, Pak!" seru Lisa dengan nada bicara tertahan.
"Tapi, Non!" Bapak itu menelan saliva. Ilernya hampir keluar melihat makanan enak yang hampir jarang ia rasakan.
"Makan dong, Pak. Nanti dihinggapi lalat." Lisa menyodorkan makanan yang ia bawa tadi lebih dekat ke arah si bapak.
"Kalau begitu makasih ya, Non! Bapak makan nih." Si bapak menyambutnya dengan senyum haru.
Hati Lisa miris teriris-iris. Dengan pekerjaan seberat itu, sebungkus mie instan tidak akan mampu mengganjal perut si bapak. Lisa yakin setengah jam kemudian si bapak akan merasa lapar kembali. Apalagi ia tahu bahwa orang Indonesia tidak bisa makan mie tanpa nasi. Ugh, relung hatinya menjerit ngilu. Kenapa pula bapak tua ini makan sebungkus mie instan? Apa dia bertubuh baja? Apa tenaganya tidak bisa habis? Menjadi kuli bangunan bukanlah pekerjaan enteng, Pak.
Ada banyak kata yang berputar-putar di kepala Lisa. Ingin sekali ia menceramahi si bapak. Namun semua itu tertahan di relung hatinya. Bagaimanapun juga itu bukan urusan Lisa. Kecuali jika si bapak mau berkeluh kesah atau sekedar berbagi rasa dengannya.
"Terima kasih banyak, Non! Makanannya enak sekali." Sambil mengelap mulutnya.
"Sama-sama, Pak. Mienya bapak juga enak. Saya sudah lama tidak makan mie instan model seperti ini. Jadi inget jaman SD dulu," ucap Lisa bernostalgia agar si bapak tidak berpikir macam-macam.
Namun, bapak itu sudah paham betul isi pikiran Lisa. Sudah tidak heran dengan kebaikan orang sekitar.
"Halah, bilang saja kamu kasihan melihat bapak makan pakai emi." Bicara bapak itu tercekat. Dadanya seperti terhimpit selaksa sesak yang tak kasat mata.
"Serius, Pak. Saya dulu juga sering makan ini, hehehe."
Alih-alih percaya pada Lisa, bapak itu malah bercerita,
"Bapak hampir setiap hari makan seperti ini, Non! Tidak masalah. Sama seperti kamu, teman kuli yang lainnya juga suka berbagi makanan." Bapak menatap Lisa dalam-dalam. Sorot matanya menganduh rasa terima kasih pada gadis baik itu.
"Makannya bapak lebih suka ngumpet di sini. Bapak tidak tega jika melihat yang lainnya harus menyisihkan bekalnya untuk bapak. Mereka semua pasti memiliki kebutuhan hidup sendiri. Bapak tidak enak jika harus merepotkan terus," lanjutnya.
Lisa masih diam, ia ingin menangis, namun di tahan sebisa mungkin. Agar bapak itu tidak merasa dikasihani olehnya.
"Istri bapak mengalami kecelakaan saat berjualan jamu dengan sepeda. Kakinya lumpuh—sudah sembilan tahun lebih. Itu sebabnya bapak harus berhemat untuk menebus obat kakinya tiap minggunya. Obat apotik yang bapak beli di luar BPJS miskin, istri bapak kurang cocok dengan obat yang ada di puskesmas. Mungkin ia butuh dosis yang lebih manjur," ujar si bapak dengan tawa yang dipaksakan.
"Lis!" Rico berseru dari jarak sepuluh meter dari posisi duduk Lisa dan si bapak.
"Iya sebentar!" seru gadis itu.
"Sudah sana pergi. Bosmu memanggil, tuh. Terima kasih ya, sudah mau dengar cerita bapak. Terima kasih juga untuk makanannya," ulang bapak itu lagi.
"Iya, Pak! Maaf ya, jadi nggak bisa cerita-cerita."
"Tidak papa, bapak juga mau lanjut kerja lagi. Jam makan siang sudah habis," ujar bapak tua itu sambil merapihkan bekas makannya, lantas menyerahkan piring keramik itu pada Lisa.
Gadis itu mengeluarkan lembaran uang dari saku celananya. Tidak banyak, hanya dua ratus ribu. Lalu mengepalkan uang itu ke tangan si bapak.
"Saya tidak bisa membantu, besok beli makan yang layak ya, Pak!"
Gadis itu bergegas pergi sebelum ada kata terima kasih keluar dari mulut si bapak.
Bapak itu menatap kepergian Lisa dengan haru biru. Lalu mengucapkan puji syukur sebanyak-banyak pada Yang Maha Kuasa. Tak lupa ia mendoakan yang baik-baik untuk gadis penolong berhati mulia itu.
"Ya Tuhan, kadang saya suka malu kalau baru meminta langsung di kabulkan seperti ini. Engkau begitu baik pada orang hina seperti saya. Sementara ibadah saya saja masih suka tertunda-tunda."
Pas sekali, sebelum Lisa datang, si bapak menyempatkan diri untuk memanjatkan doa sederhananya. Ia kebingungan karena obat istrinya sudah habis, dan gajiannya minggu ini belum keluar.
Ada banyak orang yang bernasibnya miris seperti si bapak. Bahkan jauh lebih parah dari itu. Lisa memang tidak dapat membantu seluruh orang kesusahan yang ada di bumi. Tapi percayalah, jika kita benar-benar tidak mampu membantu....
Cukup kita merasa kasihan ketika melihat orang lain kesusahan, itu sudah menunjukkan bahwa kita memiliki hati nurani.
Jangan lupa mendoakannya juga.
***
Jika kalian suka cerita ini, jangan lupa komen, like, dan bagi-bagi poinnya ya..
matur tengkiyuuu.