HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Gagang Gayungnya Ngambek



Di balik semua yang Lisa katakan, ada kata insecure yang tumbuh semakin besar di hati Farhan. Tak terasa sudah seminggu lebih gagang gayung itu ngambek, tidak mau bernaung di goa milik Lisa sekalipun hujan badai melanda jiwa.


Total gabungan durasi 6 menit 10 detik itu sukses membuat Farhan malu. Ya, memang semenyedihkan itu kemampuan Farhan. Ia sendiri juga tidak ingin seperti itu andai Lisa tahu. Maka yang bisa Farhan lakukan hanyalah merenungi nasibnya. Berhenti menyentuh Lisa walau yang di bawah sana selalu meronta-ronta.


Kasus Farhan membuktikan dengan jelas, bahwa tidak semua lelaki bertubuh bagus kuat di atas ranjang. Tapi ....


Percayalah, mahluk seperti Farhan memiliki hasrat yang sama dengan pria normal lainnya. Hanya saja batrai daya di tubuh Farhan selalu low bat. Atau mungkin sudah melempuh hingga membuat kebocoran daya di tubuhnya.


Bagaimana dengan Lisa? Sungguh wanita itu merasa tidak enak hati karena telah merendahkan harga diri suaminya sendiri. Seburuk apapun Farhan, tak seharusnya Lisa menghujat pria itu dengan kata-kata kasar. Yang artinya Lisa sama saja dengan netizen nyinyir di luar sana.


Waktu tidak bisa diputar. Maka yang bisa Lisa lakukan adalah memberi semangat. Meminta maaf ribuan kali, walau Lisa tak tahu bagaimana caranya melelehkan es batu di kutub utara.


***


Mobil melaju dengan kecepatan normal menuju rumah pribadi Farhan. Tempat di mana Cilla dan Cello tumbuh besar semenjak orang tuanya meninggal. Farhan mengikuti permintaan bunda untuk tinggal di apartemen Lisa, dan sudah satu minggu ia tidak bertemu dengan si kembar. Rindu mulai menyeruak di dada. Canda tawa mereka selalu membayangi pikiran Farhan selama tidak melihat wajah si kembar. Sepertinya jiwa ayah sudah melekat kuat di hati Farhan.


Melirik ke arah Farhan, Lisa mencoba merayu suaminya yang selama satu minggu ini selalu diam membisu. Bisa dibayangkan seperti apa ngambeknya. Di saat tidak ngambek saja pria itu selalu irit bicara.


Tepat saat lampu merah menyala, Lisa melompat ke bangku sebelah. Duduk di pangkuan Farhan yang tengah mengemudi.


"Mau apa kau?" Akhirnya Farhan bicara setelah tujuh purnama.


"Duduk," goda Lisa, tangannya melingkar erat seraya menaruh kepalanya di dada Farhan.


"Kembali ke tempat dudukmu. Ini berbahaya," gertak Farhan. Mobil di belakang mulai membunyikan klakson saat lampu hijau menyala. Mau tidak mau Farhan melajukan mobilnya sambil memangku bayi besar Lisa.


"Aku tidak mau bunda curiga, berhentilah marah." Lisa masih terus bergelayut manja. Di mana Farhan terpaksa menepikan mobilnya demi ke selamatan bersama.


"Turun dari pangkuanku!" gertak Farhan kesal.


"Big no!" Lisa menjawab tak mau kalah.


"Apa yang kau inginkan dariku, Lisa?" Farhan mendesah frustasi. Selalu ada saja tingkah Lisa yang membuatnya kesal. Apakah Farhan menikahi orang yang salah? Mengingat usia mereka terpaut jauh sekali. Lisa sama sekali tidak mencerminkan istri. Terlalu tengil bersanding dengan Farhan yang notabene adalah pria kalem.


"Aku hanya ingin kita baikkan. Menjalani kehidupan suami istri selayaknya pasangan suami istri normal lainnya." Lisa menatap lekat wajah Farhan.


"Ayolah, jangan marah lagi. Kasihanilah wajah tampanmu. Masa tidak pernah diajak senyum." Sambil merangkum wajah sang suami bangga.


"Anda sangat tampan Tuan Farhan yang budiman. Bahkan aku tidak melihat adanya keburikan di segala sudut." Sayangnya hanya bertahan tiga menit, lanjut Lisa dalam hati. Ia jadi tersenyum geli saat membayangkan hal itu. Sisi hatinya menolak lupa meski Lisa sudah berusaha mengikhlaskan semua yang telah berlalu.


"Intinya saja. Kau mau apa?" Bola mata Farhan berputar sebal. Hidung mancungnya mendengkus, malas meladeni tingkah Lisa yang aneh-aneh.


"Cih! Siapa yang berkecil hati? PEDE sekali dirimu, Lisa!"


"Ayolah!" Lisa menggengam kuat tangan Farhan. Sudut matanya menyipit dengan bibir yang tersungging miring. "Anda tidak pernah mau menyentuhku lagi, padahal aku sudah selesai datang bulan. Bukankah itu menandakan bahwa Anda sedang berkecil hati?"


"Jangan banyak omong kosong, Cilla dan Cello sudah menungguku. Turun dari tubuhku. Ini perintah,"gertak Farhan yang mulai meradang.


"Tidak mau! Sebelum ada kata baikkan," ujar Lisa menolak.


"Lagian, kata temanku memang begitulah pemula. Goa original yang belum pernah di masuki oleh siapapun rasanya pengap dan sempit. Wajar jika penghuni pertamanya keracunan. Langsung muntah-muntah dan tidak betah lama-lama di dalam goa."


Seketika wajah Farhan merona malu. Lisa benar-benar sesuatu. Beraninya membicarakan hal seperti itu di dalam mobil.


Mendengkus kesal, Farhan yang emosinya sudah naik ke ubun-ubun reflek mendorong tubuh Lisa agak kasar. Namun ternyata tangannya salah sasaran. Hingga tanpa sadar Farhan menangkupkan kedua tangannya di dada Lisa hingga wanita itu teriak,


"Dasar mesum!" Lisa kembali duduk. Memegangi dadanya yang sempat terdorong oleh Farhan.


"Ma-maaf. Apakah itu sakit?"


Kini giliran Lisa yang merona malu. "Ayo jalan. Si kembar sudah menunggu,"kilah wanita itu. Farhan sedikit tersenyum melihat tingkah Lisa yang menghadap ke arah Jendela—menyembunyikan rasa malunya di sana.


Lembut, batin Farhan. Masih tersenyum memikirkan apa yang baru saja ia pegang tadi. Otaknya merasa tergelitik, membuat pikirannya buyar dan membayangkan sesuatu yang indah-indah.


Dua kali kejadian yang mereka lalui terjadi begitu saja. Tidak terlalu ada kesan istimewa di sana. Hanya suami yang kebingungan melihat istri kesakitan di malam pertama, dan yang kedua sang istri ngambek tanpa sebab.


Ya, hanya itu yang Farhan ingat. Meskipun ia sendiri sudah pernah menjamah semuanya, namun menyentuh dengan kesadaran penuh terasa lucu. Ada hasrat aneh yang menggelitik sukma sampai pikiran Farhan menjadi gila.


Apakah ini yang dinamakan hasrat lelaki normal? Menyalanya sebuah fantasi aneh karena hal yang tak terduga.


...***...


...Jangan protes sedikit-sedikit. Itu udah banyak bagiku....


...Terima kasih atas dukungannya...


...❤...


...~Anarita~...