HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Balon Tiup Jadi Perkara



Hari yang sangat melelahkan. Wekeend kali ini Lisa benar-benar puas karena dapat menghabiskan waktu bersama dengan keluarga tercinta. Farhan sudah menepati janjinya, ia mengajak Lisa dan titisan couple RJ ke sebuah taman hiburan. Kemudian bermain hingga waktu menjelang sore.


Mereka bertiga begitu bahagia menaiki setiap wahana yang ada di taman bermain. Juga sukses membuat Farhan muntah-muntah karena mengajak pria itu main komidi putar versi asli. Untungnya tidak muntah darah. CK.


Waktu berjalan cepat, sampai tak terasa sudah saatnya untuk beristirahat. Lisa kembali ke kamarnya setelah menidurkan dua bocah rewel yang maunya ditemani bunda sebelum tidur. Wanita itu membuka pintu kamar, lalu menatap jam dinding yang jarum pendeknya sudah menuju angka sembilan. Lisa sudah menguap-nguap sedari tadi. Begitu melihat kasur, dia langsung ambruk dan menarik selimutnya sampai ke dada.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka. Farhan datang dengan wajah polos. Kakinya melangkah mendekati tempat di mana Lisa sedang berbaring. "Bisakah kamu membantuku sebentar?"


Mata berbinar yang terkesan menyebalkan itu terus menatap Lisa. Ada benda mencurigakan yang ia sembunyikan di belakang punggungnya.


"Bantu apa?" tanya Lisa seraya mendudukkan tubuhnya kembali. Firasat buruk tiba-tiba datang menghantui. Lisa melirik sesuatu di balik punggung Farhan. "Kamu bawa apa? jangan-jangan kamu nyuruh aku makan rujak tengah malam?Please ya Mas, dari tadi aku udah muak banget makan rujak dua piring."


"Ini bukan rujak." Farhan ikut naik ke atas ranjang. Lantas menunjukkan benda yang ia sembunyikan sedari tadi. Wajahnya sangat menggemaskan saat berkata. "Bisakah kamu membantuku meniup mainan ini?"



"Balon tiup?"


"Ya, balon tiup ini mainanku sewaktu kecil. Aku mau kamu meniupnya untukku." Farhan begitu antusias saat memberikan benda itu ke tangan Lisa. Ketika saat seperti ini, wajahnya selalu berubah imut. Membuat Lisa hilang kantuk dan menuruti kemauan pria kolot itu.


Diraihnya balon tiup dan sedotan kecil yang biasa digunakan untuk meniup balon. "Kalau kamu suka, kenapa gak kamu tiup sendiri si, Mas?" Dikerjakan, tapi tetap ngedumel. Itulah yang disebut dengan virus jiwa-jiwa emak. Sudah melekat dan tidak akan hilang dari tubuh Lisa.


"Aku mau kamu yang melakukannya, entah kenapa." Farhan mengedikkan setengah bahunya.


"Kamu nyidam, Mas! Masih gak mau ngaku juga?"


"Aku hanya pengin, bukan nyidam!"


Hal inilah yang selalu menjadi perdebatan keduanya. Sulit bagi seorang Farhan untuk mengaku kalau dia sedang nyidam. Pria itu bilang, nyidam hanya untuk wanita. Titik no debat!


"Terserahmulah." Lisa memberikan satu balon tiup yang sudah ia tiup dengan susah payah. Namun, baru saja benda itu sampai, Farhan langsung menempelkannya pada wajah Lisa. Pria itu tertawa senang sekali sampai Lisa ingin memutilasi.


"Apa-apaan sih, Mas? Skin care-ku rusak gara-gara kamu, tau!"


"Balon yang kamu tiup terlalu kecil, aku tidak suka!" Bibir pria itu mengerucut. Tangannya bersidekap di depan dada dan sudah memasang wajah dingin kembali. "Tiupkan aku yang besar-besar, tempel dan kumpulkan jadi satu."


Ya Tuhan, kenapa kamu gak keluar angkasa aja si, Mas?


Lisa memilih diam dan menjerit dalam hati. Ini sih lebih parah dari mengurus anak kecil. Meskipun Lisa tahu itu adalah efek nyidam, tapi ia sungguh kesal dengan tingkah-tingkah aneh suaminya. Ngomong-ngomong, anak seperti apa yang akan dia hasilkan nanti? Semoga sifatnya jangan terlalu menyebalkan seperti curut yang ada di depannya saat ini.


Lalu, kegiatan itu pun berlanjut. Lisa sudah meniup banyak balon. Yang setiap kali jadi, Farhan slalu menempelkannya ke tubuh Lisa sesuka hati karena ukurannya terlalu kecil. Hal itu memacu darah di tubuh Lisa mendidih sempurna. Dilemparkannya sekotak bibit balon itu ke lantai sampai berserakkan.


"Aneh bagaimana? Memang balon itu ditiup, gunanya untuk dikempeskan. Kamu saja yang tidak pernah memainkan benda itu," protes Farhan sambil mendelik tidak terima.


"Dasar gila! Lama-lama tingkah kamu sama persis kayak penduduk Bikinni Bottom tau gak, sih?"


Farhan membola murka. Tatapannya yang semula hanya kesal berubah nyalang. "Beraninya kau menyamakanku dengan si kuning! Mau mati ya?"


"Bodo amat, aku tidak takut dengan ancaman palsu seperti itu!" Lisa melipat kedua tangannya di depan dada, lantas memalingkan wajahnya ke manapun asal tidak melihat muka Farhan.


Pria itu menarik bahu Lisa agar menghadapnya kembali. "Maafin aku," lirihnya dengan nada mengalah.


Katakan itu nyidam, tapi Farhan bukan anak kecil berumur lima tahun, Lisa tidak bisa mentoleransi kelakuan nyeleneh pria itu. Rasanya aneh.


"Tapi aku suka melakukannya." Wajahnya berbinar polos kembali saat menatapnya. Ukh, nyebelin! Lisa jadi luluh lagi, 'kan?


Wanita itu memutar bola matanya ke atas. Menarik dan mengembuskan napasnya berkali-kali sampai jiwanya bisa kembali. Sebelumnya sudah melayang ke satelit saking emosinya.


"Bagaimana kalau kamu melakukan kegiatan lain, Mas? Yang lebih menyenangkan. Seperti—""


"Kegiatan apa?" potong Farhan cepat.


Lisa tersenyum smirk. Lantas membuka baju dan mematikan sensor lampu dengan tepukkan tangan. "Nikmati aku sepuasnya."


Tanpa basa-basi, dia langsung menarik Farhan ke dalam dekappannya. Lantas membuka satu-persatu kancing baju Farhan dengan cekatan.


"Ini bukan jadwal kita, aku tidak mau!" Pria itu berusaha menolak. Tapi ereksi yang sudah terjadi pada gagang gayung tidak bisa berbohong. Gunung yang menabrak wajahnya sukses membuat penghuni mesum di bawah sana jadi bangun.


"Ayolah, ini gratis, kok!" tawar Lisa dengan bisikkan manja ciri khasnya. Karena sejujurnya, Lisa lebih suka berkeringat dalam hal desah-mendesah daripada harus kepanasan dengan tingkah aneh Farhan seperti meniup.


Pria itu masih diam. Antara mau dan ragu jadi satu. Kemudian, satu pertanyaan melayang dari bibir bodoh Farhan. "Kalau aku terima tawaranmu, apakah jatah kamisku akan dihilangkan?" tanya pria itu setengah tertarik.


"Tidak ... tidak! Lalukan sesukamu, nanti Kamis bisa minta lagi."


"Baiklah kalau kamu memaksa." Pria itu mulai menyerang tubuh Lisa di mana-mana. Memulai sebuah rangsangan yang membuat bibir Lisa reflek bersuara.


Entah kenapa, kata itu terdengar sangat menyebalkan karena kesannya Lisa yang merengek minta duluan, sementara Farhan memasang sikap selalu jual mahal walaupun hatinya mau banget. Tapi Lisa tidak punya pilihan lain, tetap membiarkan Farhan bergerak dan mengambil kendali pada dirinya setelah mengucapkan kalimat setan itu.


***


Gak ada yang wow di bab ini. cuma bonus chapter buat yang mau tahu proses mereka nyidam.