HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 57 : (Edisi Surat Spesial)



Farhan pulang ke rumah membawa wajah lelahnya. Sepeninggalannya dari sekolah si kembar, ia langsung ke kantor untuk mengambil beberapa file pekerjaan untuk digarap di rumah. Lisa yang sudah menanti sedari tadi langsung berlari membuka pintu begitu mendengar suara mobil Farhan berderung di luar sana.


"Bagaimana usaha kamu, Mas? Apa Cello dan Cilla mau diajak pulang?" sergah Lisa yang sudah berdiri menghadang di depan pintu seraya meraih tas kerja pria itu agar terkesan seperti istri perhatian.


Farhan mendesahkan setengah napasnya. "Entahlah ... aku pusing, Lis."


Dia berjalan dan berakhir mengempaskan tubuhnya di atas sofa.


"Jadi kamu gagal merayu mereka?" tanya Lisa kecewa.


"Bukan gagal." Farhan mendongak. Manik matanya tertuju pada Lisa yang tengah berdiri menunggu jawaban di atas kepalanya. "Cello sudah menujukkan gelagat ingin pulang ke rumah. Hanya saja dia sedang merajuk. Biarkan saja dulu, kita lihat sejauh mana anak itu ngambek."


"Maksudnya bagaimana si, Mas?"


"Entahlah, aku tidak mengerti isi pikiran anak jaman sekarang. Dia tidak mau disunat, mau langsung nikah aja katanya."


"Yang benar saja kamu Mas? Kalo ngga sunat ngga bisa main ranjang-ranjang dong? Percuma nikah!"


"Pikiranmu itu, ya! Lisa oh Lisa!" Farhan ikut-ikutan kesal mendengar jawaban Lisa yang cukup menohok baginya.


Lisa duduk dengan dahi mengkerut dalam. "Benar, 'kan? Tidak ada yang salah dengan ucapanku!" Sambil menunjul diri sendiri dengan jari telunjuk tanpa rasa salah.


"Memang tidak ada yang salah. Tapi kamu lihat dulu siapa objek yang berbicara seperti itu. Anak delapan tahun Lis!" Sambil meraup wajahnya kasar.


"Hehe. Aku 'kan ngomongnya sama kamu aja. Bukan ke yang lain. Ngomong-ngomong aku ada senjata lain yang bisa digunakan untuk membujuk Cello, lho."


"Senjata apa?" Farhan menoleh sedikit putus asa.


"Aku punya surat ala-ala yang ditulis papahnya di buku pelajaran. Aku dikasih surat itu sama Mami Dina tadi, katanya surat itu Reyno tulis saat mereka berdua belum lahir," ujar Lisa menjabarkan.


"Mana suratnya?"


"Tuh di meja. Aku mau baca, tapi nunggu kamu pulang dulu, kalau isi suratnya bukan yang aneh-aneh, kita bisa pake surat itu untuk membujuk Cello. Aku tahu kalau dia sangat terobsesi pada kedua orang tuanya." Lisa tersenyum bangga. Ia mengambil surat di atas meja, lantas meberikannya pada Farhan.


"Kenapa hanya ditujukan pada anak laki-laki saja, coba? Cilla akan ngambek jika membaca surat ini." Sambil setengah menggerutu, Farhan membuka surat itu perlahan.


***


Dear Anak lelaki papah yang tampan.


Saat papah membuat surat ini, itu artinya kamu belum terlahir ke dunia, bahkan belum dibuat sama sekali kami. Tapi hari ini papah tidak tahu lagi harus berbuat apa selain mengisi kekosongan waktu dengan menulis surat tak jelas ini untukmu. Papah ingin bercerita tentang beratnya hidup dengan takdir berjenis kelamin laki-laki.


Saat ini usia papah 19 tahun, papah baru saja menikah dengan mamahmu beberapa minggu lalu, dan sekarang kami sedang berada dalam titik terendah. Di samping papah ada mamah yang sedang berbaring di ranjang kecil menghadap ke tembok, kami berdua sedang menahan lapar dengan posisi papah yang hanya seorang suami pengangguran tak berguna. Hati papah begitu sakit melihat mamahmu kelaparan. Bahkan untuk membeli sebungkus nasi berlauk tempe goreng saja papah tak mampu.


Hari ini sudah pukul 13.00. Harusnya sih sudah makan dua kali, tapi papah hanya dapat memegang sebatang pulpen dan kertas. Duduk merenung di dalam kontrakan sempit 2 petak. Tepatnya di kota Bandung dengan udara di luar yang cukup panas. Beberapa pedagang cuanky sudah lewat minta di beli, tapi sekali lagi papah tak punya uang seperak pun untuk memberi makanan yang harganya tak seberapa itu. Bahkan persedian beras satu butir saja sudah tidak tersisa lagi di dapur. Sejak pagi kami hanya bisa minum air putih sebanyak-banyak untuk menahan lapar yang mengusik perut.


Di surat ini papah ingin bercerita, bahwa hidup manusia di bumi sangat berat untuk dijalani. Terutama untuk kita yang berjenis kelamin laki-laki. Papah hampir tak bisa menahan semua cobaan yang Tuhan berikan sampai-sampai rasanya ingin mati.


Apakah papah bahagia?


Tentu saja jawabannya adalah iya. Papah merasa menjadi anak yang paling beruntung karena tidak perlu merasakan kekurangan seperti anak kurang beruntung lainnya. Papah tidak pernah merasa lapar. Kepanasan. Kesusahan. Sampai suatu hari dunia papah mendadak dijungkir balikkan oleh Yang Maha Kuasa.


Papah yang selama ini tidak pernah diberi kesempatan untuk belajar menjadi orang dewasa, tiba-tiba diusir dan harus menghidupi istri dengan usaha sendiri. Sekarang papah benar-benar bingung, tamatan papah hanya SMP dan semua lowongan perusahan tak ada yang mau merekrut bocah tak berpengalaman seperti ini.


Papah benar-benar merasa kaget dengan perubahan status ini. Ternyata menjadi laki-laki dewasa sangat sulit. Papah sungguh takut jika tidak bisa membahagiakan keluarga papah nantinya.


Tapi kamu jangan khawatir Nak, papah masih akan terus berusaha, papah pastikan kamu hidup berkecukupan ketika lahir nanti. Setidaknya bisa makan dan tinggal di rumah hasil jirih payah papah sendiri tanpa bantuan kedua orang tua. Papah janji akan berusaha lebih keras lagi mulai detik ini.


Ah, sayanya semua ini masih menjadi wacana papah. Memangnya papah yang tidak berguna ini bisa apa? Kenyataannya papahmu belum melakukan apa-apa sampai detik ini, Nak. Selain hanya diam, pura-pura tidak melihat istri yang tengah kelaparan di pojok tempat tidur.


menyedihkah sekali bukan?


Papahmu ini pecundang, Nak!


Suami tak berguna yang layak dibenci dan dicaci.


Ah sudahlah, papah sedang menunggu kejaiban. Semoga besok pagi status papah sudah bukan pengangguran lagi. Doakan ya, Nak? Barang kali kamu yang masih di atas surga dapat mendengar ocehan papah.


Ngomong-ngomong surat yang papah tulis sudah hampir habis dua lembar, nih. Jadi mari kita akhiri curhatan papahmu yang tak berguna yang hanya bisa menghabiskan tisu untuk mengelap air mata.


Papah harap anak papah yang tampan dapat meneruskan amanah papah yang berharga. Jadilah sosok suami yang baik kelak. Jangan sampai bernasib seperti papahmu.


Kamu harus mulai belajar menjadi pria dewasa sejak kecil. Jangan sampai menjadi anak manja seperti papah jika tidak ingin melihat istrimu kelaparan.


Dan yang paling utama, ini adalah kegagalan yang belum bisa papah lakukan sampai detik ini, tolong lakukan hal ini untuk papah ya, Nak.


Siapa pun wanita yang akan kamu cintai suatu hari nanti, letakanlah kebahagiaannya di atas kepalamu. Jadikan dia prioritas utama sesulit apa pun hidupmu kelak. Terima kasih.


^^^Bandung, 20XX-XX-XX^^^


^^^Reyno Giovani^^^


Mari sejenak merenung setelah membuka aplikasi novelton, tatap wajah lelah suamimu selama 3 detik, peluk dan ucapkan terima kasih, karena dia telah meletak kebahagiaanmu di atas segala-galanya.


"Mas, Aa, Sayang, Abang, terima kasih telah bersedia menahan lelahmu selama ini. Begitu besarnya keberanianmu dalam meletakan kebahagiaan kami di atas kepalamu. Semoga Tuhan memberikan Surga terindah untuk suami hebatku."


Silahkan dicoba, Bundaa, untuk yang sudah menikah. 😭😭. Boleh di SS kalo cangung ngomongnya.


***


Spoiler cerita Cello versi dewasa ada di ig ya? Hayo siapa yang udah baca Cello dewasa ngamukin Farhan tua minta dikawinin? wkkw. Visual gambar Cello dewasa juga ada di sana. Silakan Cek di ig @anarita_be. Yang gambarnya sapi.