HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Rumah Sakit



Untungnya, luka di kepala Ello tidak terlalu dalam. Hanya ada jaitan ringan di dahinya. Namun Farhan sudah terlanjur meresapi jiwa orang tua, ia menelepon mami angkatnya Dina agar segera datang ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan tadi, Lisa juga terus memperhatikan Farhan yang khawatir terhadap keponakannya itu. Gaya mengemudi Farhan tidak karuan, ia sudah seperti pembalap yang sedang berada di landas pertandingan. Meskipun jago mengemudi, tetap saja Lisa merasa seperti diajak senam jantung olehnya. Jangan tanyakan Cilla, gadis kecil itu suka sekali diajak ngebut-ngebut.


Memasuki rumah sakit, wajah Farhan semakin terlihat khawatir. Hanya dalam keadaan panik, batu bernapas itu bisa berubah wujud menjadi permen meledak kesukaan anak-anak.


Setelah melihat keadaan Ello, Farhan langsung menyuruh Lisa ke kantin rumah sakit bersama Cilla. Ia juga menyuruh Lisa agar tetap di sana sampai Farhan datang. Pria itu tidak mau mami Dina tahu soal Lisa. Yang namanya orang tua, pasti ada saja omongan kalau sampai melihat Farhan membawa perempuan di sisinya. Perjalanan Farhan masih panjang. Belum saatnya ia memperkenalkan Lisa pada orang tua. Terlalu berat, kecuali kalau Lisa sudah bersedia menikah dengannya.


Tepat sepuluh menit kepergian Lisa dan Cilla ke kantin, Mami angkat Farhan yang bernama Dina datang bersama adik angkatnya William. Mami Dina juga membawa cucu pertamanya Gibran, agar Cello tidak jenuh di rumah sakit. Anak kecil yang baru bangun itu langsung memeluk sang nenek, bermanja-manja sambil tangannya sesekali bergerilnya. Matanya sedikit terpejam karena ngantuk.


"Tuh, Mam. Ello mirip banget kayak bapaknya. Nggak bisa liat susu nganggur. Tangannya langsung ke mana-mana," sungut William. Mami Dina langsung memukul Bahu William kesal.


"Bener kan? Gibran gak pernah begitu, tidur sendiri, mandiri," ucap William membela anak kandungnya sendiri.


Diantara tiga cucu, memang yang paling terlihat disayang oleh neneknya adalah Cello. Anak itu sedikit menyerupai papahnya yang manja. Ada perpaduan dari ibunya Jennie. Membuat sifat Cello terlihat manja sekaligus nakal.


"Namanya juga anak kecil," terang sang mami membela.


Farhan hanya senyum-senyum melihat perdebatan anatara ibu dan anak. Bahkan, papa Teddy yang sudah tiada ikut bergabung menjadi pembahasan mereka.


Rasanya sungguh haru jika melihat pemandangan seperti ini. Semua keluarga sudah mengikhlaskan kepergian kedua orang tua si kembar. Tidak ada lagi tangis seperti dulu. Semuanya tersenyum bahagia selayaknya dua pasangan yang mungkin sedang berbahagia bersama Tuhan di atas sana.


"Gibran gak pengin kayak gitu," goda William sambil menunjuk Cello. Anak itu merinding jijik. Lalu menjawab,


"Gak mau, Yah, mau minum susu di gelas aja. Kan biar pinter," ujar anak itu.


Senda gurau berlanjut. Farhan menjadi pihak paling diam di antara semuanya.


Setelah Cello terlelap, mami Dina menaruh anak imut itu ke tempat semula. Menidurkannya dengan hati-hati agar jangan bangun lagi.


"Han, gimana? Apa sudah dapat baby sitter lagi?" tanya mami Dina.


"Belum, Mam. Masih proses. Mungkin sebentar lagi," jawab Farhan sambil menghela—pelan. Menaruh kepala bagian belakangnya di sandaran sofa ruang rawat Cello.


Ia juga hampir lelah mencari pengasuh si kembar.


Padahal Farhan sudah menaikan gaji cukup tinggi untuk menjadi baby sitter si kembar. 10 juta perbulan untuk satu orang, dalam catatan harus menguasai bahasa Inggris. Karena standar gaji pembantu model begitu kisaran 5 sampai 7 juta.


"Nanti mami bantu cari, deh. Soalnya kasihan, mereka kurang terawat kalau tidak ada sentuhan perempuan."


Entah mengapa, kata-kata mami Dina terdengar seperti sindiran untuk si jomlo ngenes Farhan. Kode keras agar pria itu segera menikah. Farhan hanya mengangguk diam, tersenyum kecut tanpa rasa beban. Disuruh menikah adalah hal biasa, Farhan tidak terlalu memikirkannya selama ini.


***


Satu jam berlalu, Lisa dan Cilla sudah sangat jenuh menunggu di kantin, tapi Farhan tak kunjung datang. Membuat dua gadis beda usia itu kelojotan karena bosan.


"Bosen hidup," gumam Lisa lirih, tak di sangka keluhan gadis itu didengar oleh telinga polos si kecil yang duduk sambil memakan sosis goreng.


"Kayo bocen jan idup. Gitu aja lepot," sindir Cilla menggunakan kekuatan mulut merconnya.


Astaga! Lisa ternganga heran. Anak sekecil itu mulutnya sudah pintar menjawab. Tidak salah juga yang ia ucapkan. Kalau bosan hidup ya jangan hidup. Ah, tapi rasanya aneh saja. Anak jaman sekarang tangkap kecerdasannya luar biasa.


"Ayah mana?" Pertanyaan Cilla yang ke sembilan belas kali melayang lagi. Gadis itu memangku dagunya—malas. Tidak terlalu suka dengan kehadiran Lisa.


"Gak ucah panggil cayang. Cilla gak cuka," gertak gadis kecil itu kesal.


Berbanding seperti dunia terbalik dengan kakaknya Cello. Sampai detik ini Cilla masih sebal pada Lisa gara-gara pernah dipelototi Lisa waktu di lift itu. Entah mengapa, bawaanya malas ketika melihat Lisa.


"Kakak kenapa deket-deket ama ayah teyus, cih?" sungut gadis itu dengan wajah penuh protes. Mungkin ada tanda tanya besar di dahi gadis itu.


"Karena kita kerja bareng," jawab Lisa logis.


"Kakak pen jadi bundanya kita, ya?" cecarnya lagi.


Lisa berdecak sebal dalam hati. Menatap gadis kecil itu dengan alis meninggi satu.


"Memangnya kenapa kalo iya?" tanya Lisa balik. Wajahnya dibuat garang untuk membalas perlakukan jutek Cilla.


"Gak boyeh, Cilla maunya punya bunda kayak tante Bianca Caca Malica. Dia baik, gak galak kayak Kakak," ejek gadis kecil itu. "Udah gayak, jeyek, baju uga jeyek, gak bagus kayak tante Bianca," imbunya kemudian.


Lisa menggeram kesal. Hatinya panas. Gadis itu terpancing oleh omongan pedas Cilla. Andai anak itu bukan keturunan sultan, Lisa sudah menjewer telinga gadis nyinyir itu. Dasar menyebalkan!


"Cantik itu relatif, kalau kakak kaya raya, kakak juga akan beli baju bagus yang bermerk seperti punya kamu," balas Lisa tak mau kalah. Tangannya menyentuh baju branded anak itu dengan seringai tawa.


"Belati kakak deketin ayah bial kaya? Ayah kan kaya! Cilla minta baju and mainan mahal celalu dikacih. Kakak mau minta baju ama ayah?"


Sial! Lisa menggeram dalam kedongkolan. Ia yakin, bertahan satu jam lagi bersama anak bermulut cabe setan itu, tamat sudah riwayatnya.


"Kamu nyebelin banget sih!" Sambil mencubit pipi Cilla gemas. "Siapa yang ngajarin begitu?" tanya Lisa.


"Aku pintel, gak ada yang ajalin!" jawabnya.


"Oh, pinternya! Siapa sih, nama mama dan papa kamu, kok kamu bisa nyebelin gitu?" tanya Lisa geregetan. Giginya sampai bergemelutuk saking geramnya.


"Mama Panda and papa Teddy, donk!" seru anak itu membela.


Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Lisa dari belakang. Gadis itu berbalik, mendongak seraya menatap tubuh tinggi yang berdiri tepat di belakangnya.


"Gadis beracun?" seru pria itu. "Hahaha. Benar kau gadis beracun, aku kira kamu sudah lenyap ke mana. Apa yang kau lakukan di sini?"


"Om William kenal sama kakak Lisa?" tanya Cilla terheran-heran. Menatap omnya yang baru saja datang.


"Tentu saja kenal. Kakak Lisa adalah orang pertama yang berhasil meracuni ayahmu dengan obat warung. Hebat 'kan?" William dengan bangganya memberitahu. Seolah Lisa telah melakukan hal mulia yang patut mendapatkan piala oskar.


"Apa kabar kamu? Ternyata Farhan masih memeliharamu ya, Hahaha!" William tertawa lebih keras lagi.


Lisa mengepalkan kedua tangannya geram. Jeleknya Lisa di mata Cilla makin totalitas. Gadis itu masuk daftar black list Cilla dalam misi mencari ibu tiri.


Ah, kenapa harus bertemu si menyebalkan ini, sih? Geram Lisa menahan emosinya agar tidak meledak.


***


Makasih buat yang udah bantu vote ya, aku terharu sama kalian yang rela bahu membahu. Entar aku up lagi ya. Jangan putus-putus dukungannya.😘