
"Aku pikir kamu tidak suka es krim," tanya Lisa saat Farhan baru selesai mengantri dari sebuah kedai es krim. Pria itu memegang dua cone ek srim di tangannya. Senyum Lisa mengembang cerah melihat Farhan yang beda jauh, lebih terkesan santai dan tidak bergelut dengan urusan pekerjaan.
"Aku tidak suka, tapi sesekali makan tidak masalah 'kan?" Farhan memiringkan satu alis dengan balasan sinis. Lisa tergelak, lalu mengangguk sebagai pengganti kata: iya.
Tempat yang akan mereka kunjungi belum mulai, jadi Lisa mengajak Farhan makan es krim agar mirip dengan anak muda jaman now. Tak disangka, Farhan mau mengantri saat wanita itu merajuk-rajuk minta dibelikan es krim.
"Terima kasih ya, Suamiku." Lisa tersenyum menanti es krim dengan mata lapar.
"Apa kita sudah seperti orang pacaran?" Farhan membalas senyum Lisa barusan, kemudian memberikan satu buah es krim pada Lisa. Pria itu ikut duduk dan menikmati es krim miliknya sendiri.
Lisa menatap Farhan dari ujung kaki ke atas kepala. Pura-pura menilai pria berbaju santai yang ada di hadapannya. "Tidak sama sekali! Hahaha." Tawa wanita itu pecah bersama es krim yang meleleh cantik di dalam mulut.
"Jadi seperti apa orang pacaran itu?" Akhirnya Farhan bertanya daripada penasaran. Saking penasarannya, ia sampai tidak sadar bahwa risleting celananya sedikit merosot. Bekas dari toilet tadi.
"Orang pacaran ya ...." Lisa mengedikkan bahunya geli. "Kurang lebih seperti ini. Tapi seharunya, si cowok menikmati setiap waktu yang mereka nikmati bersama pacar wanitanya."
"Jadi menurutmu aku tidak menikmati ... begitu?" Matanya menyalang tajam. Es krim ditangannya nyaris meleleh karena hanya di pegang saja sedari tadi.
Lisa menjawab santai. "Tadi kamu marah-marah, minta pulang, kesal, bete, itu tandanya kamu tidak menikmati acara kencan kita, Sayang."
"Huhh" Farhan tidak menyangkal karena yang dikatakan Lisa sepenuhnya benar. "Lalu apa lagi yang mereka lakukan, apa makan es krim dan duduk di bawah pohon beringin seperti ini termasuk dengan kegiatan kencan ala anak muda juga?"
Lisa tertawa siput dengan lagak malu-malu. "Iya Sayang. Biar bisa itu-itu," jawabnya dengan suara pelan. Tangannya saling bertaut menunjukkan peta kode 21+.
"Itu-itu apa?"
Ishk, repot juga nikah sama Kentang original, gerutu Lisa dalam hati.
"Beginiloh!" Lisa celingak-celinguk, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka berdua. Wanita itu memajukan kepalanya, lalu mengecup bibir Farhan secepat kilat.
"Ciuman?" Farhan terkejut bukan main.
"Iya ... hehehe."
Farhan mengulurkan es krim jatahnya pada Lisa. Wanita pecinta es krim itu menerima dengan senang hati. Sudah Lisa duga, pria itu sengaja membeli dua es krim hanya untuk pajangan agar terlihat keren seperti pasangan sungguhan. Untung es krimnya enak.
Lalu Lisa menjawab, "Ya begitulah anak muda jaman sekarang. Tapi tidak semua orang pacaran dengan gaya seperti itu. Ada juga yang sehat." Mulut anak itu terbuka lebar, dia meraup es krim milik Farhan sebelum jatuh di makan tanah. Lalu tertawa kecil menanggapi ucapannya sendiri.
Farhan memperhatikan mulut belepotan anak itu. Tapi tidak berniat membersihkan atau mengelap mulut Lisa. Selain malas, Farhan juga enggan melihat mode lebay seorang Lisa saat diberi sedikit perhatian. Karena akan membuat Farhan malu sendiri dengan reaksi heboh Lisa.
"Bagaimana dengan gaya pacaranmu dulu? Apa kamu juga berciuman di bawah pohon sepi seperti ini?"
Pertanyaan yang lolos dari bibir Farhan lebih horor dari hantu penunggu pohon beringin yang mungkin sedang memperhatikan mereka dari atas sana.
"Ya begitulah, Sayang. Aku tidak suka membohongi suamiku. Maaf ya," ucap Lisa malu-malu.
Sial, jadi aku mendapatkan bekas? Padahal semua yang kulakukan denganmu adalah pertama kali.
Setelah mendengar ucapan Lisa, Farhan diam tanpa kata seperti lagu viranya D'Masiv. Pandangannya menerawang jauh dan mulai mengabaikan Lisa yang memegang dua cone es krim.
"Sayang kamu marah ya?"
"Tidak!" Berkata dengan nada jutek level 1500.
"Tapi muka kamu kayak bungkus semen dikiloin, tuh. Lecek-lecek semua."
"Sudah kubilang, aku tidak marah," bentak pria itu dengan nada memaki. Level marahnya naik menjadi 7000. Setara dengan bon cabe oplosan yang terbuat dari bahan balsem.
"Yeyeye. Akhirnya bisa lihat suamiku cemburuuu!"
Lisa tertawa seperti bayi yang lahir tanpa cela dan dosa. Padahal, emosi Farhan sudah mencapai ubun-ubun saat ini.
***
Mentemen. Jangan vote pake aplikasi yg belum di update di playstore ya, sayang gak keliatan votenya. gak kepake koinnya. Update dulu kalau mau dukung Lis-Far๐. Terima kasih.