
Acara yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sunatan Cello si anak sultan akan digelar dengan meriah tepat jam 7 malam nanti sebagai puncak acara sesungguhnya.
Farhan sengaja mengadakan pesta besar-besaran sebagai bentuk rasa syukur kehamilan Lisa yang dinilai lama dan sangat dinantikan oleh semua pihak.
Acara sunatan sekaligus syukuran empat bulan yang akan berlangsung nanti malam dijamin mewah meriah. Namun, sebuah kejadian tak terduga datang tak diundang. Tersaji di depan mata saat Cello hendak melangsungkan proses pemotongan burung cicicuit minimalis miliknya.
"Gagal lagi, biarkan mereka tenang dulu," ucap dokter menghembuskan napasnya pelan saat baru keluar dari kamar Cello. Senyumnya masih mengembang, mencerminkan kesabarannya sebagai dokter sunat yang hampir setiap hari menghadapi anak-anak saat mengamuk hendak disunat.
"Maafkan anak kami, Dok! Kami juga tidak menyangka akan begini jadinya. Ini di luar perkiraan kami," ucap Farhan sedikit tidak enak hati. Ia yakin dokter itu sudah hampir putus asa.
Hari ini, tepat jam 10 pagi, di mana dokter sirkhumisi khusus yang Farhan pesan sudah datang ke rumah sejak jam 8 pagi. Seluruh keluarga juga sudah terkumpul menunggu proses itu berlangsung. Termasuk Gibran sepupu Cello yang sudah disunat terlebih dahulu sejak umur 4 tahun. Semuanya ketar-ketir menunggu hasil.
"Gimana ini, Mas? Dia sama sekali tidak bisa dibujuk!" Lisa terlalu panik. Takut acara yang sudah disiapkan jadi gagal total. Beberapa keluarga lain juga ikut panik dengan kejadian tidak terduga ini.
"Aku juga tidak tahu, aku pikir Cello akan mengamuk karena dia paling takut disunat, ternyata malah Cilla yang bertingkah!" tukas Farhan.
Sejak jam lima pagi, Cilla terus duduk di samping kakaknya dengan dalil menemani. Sementar Cello enggan membuka sarung yang ia kenakan dengan alasan malu pada adiknya. Ia hanya mau disunat bersama dokter pria dan asistennya saja. Tidak boleh ada sepasang mata perawan walau ia tahu bahwa mata itu milik adiknya.
Dan jam sepuluh pagi ini, sudah menjadi aksinya dokter yang keempat kali. Beliau sampai lelah karena Cilla terus mengganggu proses itu berlangsung seakan tak rela melihat burung kakaknya dipotong.
"Potongnya gak sakit kan, Dok?"
"Enggak, Kok! Kamu keluar dulu ya, Kakaknya tidak mau disunat kalau ada anak perempuan," ucap dokter lembut.
"Iya ... nanti aja keluarnya. Cilla mau tanya-tanya dulu sama Pak Dokter!"
Dan puluhan pertanyaan pun dilontarkan untuk memperlambat proses pemotongan itu. Andai pemotongan terus dilanjutkan dengan keadaan adiknya yang cerewet dan mengganggu konsentrasi dokter, mungkin Cello bisa mati, pikir si dokter dalam hati.
Akhirnya dokter itu memutuskan keluar sebentar. Memberi kelonggaran pada dua anak kembar itu untuk saling berdiskusi.
Farhan dan Lisa mengernyit saat dokter dan asistennya keluar lagi dengan peralatan medis yang masih utuh tanpa disentuh. "Gagal lagi, Dok?" tanya Lisa kelima kalinya.
Sementara di dalam, dua anak piranha itu sedang beradu mulut sama-sama ngotot.
Cello yang ingin segera melaksanakan kewajibannya, tampak dibuat dongkol dengan tingkah adiknya yang begitu posesif dan enggan keluar meninggalkan kamar sedikit pun sejak pagi tadi.
"Dek, ya ampun! Pergi dong!"
"Ngapain aku pergi? Pokoknya aku mau di sini terus nemenin Kakak sampai selesai!" Tangannya bergelayut manja di pundak sang kakak.
"Ya gak bisa, kamu dari tadi gangguin dokternya terus. Entar kalo dokternya salah potong gimana? Kalo ituku dipotong semua gimana?" Cello melotot sebal. Hidungnya kembanga kempis menahan rasa sebal.
"Kali ini aku diem, aku gak akan teriak kayak tadi," ujarnya. Ia takut dengan peralatan dari dokter, tapi ia berat jika harus meninggalkan kakaknya seorang diri bersama dokter sunat mengerikan itu.
Cilla dapat merasakan bahwa sebenarnya Cello juga takut terhadap peralatan medis yang dibawa dokter dan asistennya itu.
Ingin menyerah, Cello sampai mendesah marah.
"Dek, aku tuh nggak mau kalo ada kamu di sini! Peka dikit dong, masa kamu mau liatin itu aku dipotong! Kan malu!"
"Eh?" Cilla terlonjak. "Aku udah pernah liat juga bentuk burung kamu yang aneh, kecil and keriput itu! Ngapain harus malu, Kak? Biasanya juga kita mandi bareng!" Anak keras kepala itu tetap tidak mau pergi.
"Mandi bareng dulu waktu masih TK! Sekarang kita udah gede! Gak boleh anak cewe liat-liat itunya cowok! Kalo kamu di sini terus, bisa-bisa aku gagal disunat!" sungutnya.
"Kakak kok gitu? Aku cuma mau nemenin kakak di saat-saat terberatmu!" Dengan bibir cemberut, Cilla mengucapkan potongan kalimat yang ia serap dari drama keluarga yang sering ditontonnya bersama Lisa.
Cello mencibir. Tangannya mendorong bahu sang adik cukup kasar.
"Nemeninnya nanti aja abis disunat. Aku gak mau kamu liat. Pergi sana, ah!" bentaknya.
***