
Kertas ulangan dibagikan pada seluruh murid satu kelas. Ada perbedaan-perbedaan ekspresi dari total 30 murid saat melihat hasil ulangannya masing-masing. Sebagian ada yang senang mendapat nilai bagus, ada pula yang gemetar-gemetar takut memikirkan omelan sang ibu karena hasilnya tak sesuai ekspektasinya.
Sementara itu, perbandingan yang sangat kontras antara nilai Cilla dan Cello selalu menjadi sorotan baik dari sudut pandang guru maupun teman-teman sekelas mereka. Meskipun begitu, tidak ada yang berani mengejek lantaran Cilla termasuk anak populer dan cantik di kelasnya.
"Enam lagi?" Cilla membelalak kesal seraya melirik nilai ulangan kakaknya yang sudah dipastikan mendapat nilai 10. Bagi anak berotak minimalis sepertinya, belajar atau tidak hasilnya sama saja. Sekali pun sudah mati-matian menghafal materi ulangan, paling-paling hanya bertambah satu atau dua angka saja. Tidak pernah sampai mendapat nilai sepuluh seperti kakanya, Cello.
"Makannya belajar! Jangan kebanyakan nonton Balveer." Cello menarik rambut kepang gadis kecil itu sampai kepalanya nyaris membentur punggung kursi.
"Iksh!" Cilla berdecak. Lantas menaruh hasil ulangannya di dalam lipatan buku pelajaran sambil bersungut-sungut.
Dibalik nilai si kembar yang jaraknya bagai bumi dan langit, ada sosok wali kelas yang bangga pada karakter dua bocah kembar itu. Meskipun mereka berdua duduk bersebelahan, nilai Cilla tidak pernah mendapat angka yang sama dengan milik kakaknya, bahkan mendapat delapan saja jarang. Namun hal itu membuat bu Dian selaku wali kelasnya kagum. Menandakan bahwa dua wajah kembar berbeda jenis kelamin itu selalu sportifitas dalam menunjukan kemampuan belajarnya. Tidak ada acara bantuan-bantuan, apalagi contek-contekkan.
Kemampuan setiap anak memang berbeda-beda meskipun lahir dari bapak dan ibu yang sama. Mereka memiliki karakter dan keunikan masing-masing yang wajib kita mengerti tanpa harus dituntut untuk sempurna. Seperti Cilla yang tidak terlalu suka pelajaran, namun dia gemar sekali mengikuti kegiatan kelas modeling yang ada di sekolanya. Bahkan ia pernah mendapat juara 3 seibu kota kategori model fotogenik anak. Ia memiliki wajah dan tubuh yang menghasilkan potret menyenangkan jika diambil dari berbagai sudut pandang. Sehingga wajah imutnya berhasil masuk menjadi sampul majalan anak-anak yang cukup terkenal dan membanggakan nama sekolah.
Tett .... Tettt .... Tettt ....
Suara bell pertanda istirahat berbunyi. Semua murid mulai berhamburan keluar keluar kelas untuk mengistirahatkan diri.
"Kak, kalau ke kantin nitip siomay dong," rajuk anak itu sambil memangku dagunya di atas meja. Cilla adalah tipe anak yang malas bergerak. Selagi ada kakaknya, ia tidak perlu repot-perot keluar kelas hanya untuk sekadar mengisi perutnya.
"Mana uangnya?"
Gadis itu mengeluarkan pecahan uang sepuluh ribu dari dalam tasnya. Kemudian menyodorkannya ke meja Cello.
"Mana cukup! Harganya dua belas ribu Dodoll!" protes anak itu kesal. Boro-boro ongkos jalan, uangnya saja kurang.
"Bilang aja gak usah pake telor. Biasanya aku beli sepuluh ribu kalo gak pake telor."
"Pelit banget kamu, Dek!"
Cello mengambil pecahan uang itu sambil beranjak. "Tapi aku mau makan bekal dulu di belakang sekolah. Beli siomaynya kalo perutku udah kenyang," ujar anak itu seraya mengambil bekalnya di loker meja.
"Beliin dulu si Kak! Aku pen banget siomaynya!"
Cello mencibir jelek.
"Ogah! Kalau gak sabar jalan aja sendiri! Punya kaki, 'kan?" Cello lantas berlari sambil menenteng bekal di tangan kanannya. Meninggalkan Cilla yang berdecak kesal sambil meraih bekal roti isi miliknya dari dalam tas.
***
Taman tak terurus di belakang sekolah menjadi tempat ternyaman Cello saat menikmati roti isi buatan Lisa. Duduk di atas rerumputan, ia memakan bekal itu sambil memandangi para petugas kebersihan yang sedang menumpuk sampah di ujung pagar yang letaknya lumayan cukup jauh.
Pria kecil itu menutup kotak bekalnya rapat-rapat. Sekarang ia sudah menghabiskan semua bekal makan siangnya. Ia juga sudah membeli siomay sepuluh ribu pesanan sang adik.
Saat Cello hendak beranjak ke kelas kembali. Ia menangkap Malika yang sedang berdiri gugup di belakangnya.
"Ell," sapa anak itu malu-malu. "Aku disuruh minta maaf ke kamu sama ayah. Ayah ngga akan maafin aku kalo aku gak minta maaf sama kamu."
Cello memutar bola matanya, malas. Lantas menaruh dua tangannya di belakang punggung.
"Kalau kamu mau minta maaf sama aku cuma gara-gara ayah kamu mending ngga usah! Kata bundaku minta maaf harus dari hati. Bukan disuruh orang!" tukas Cello.
Ia hendak pergi meninggalkan Malika tanpa peduli, namun anak itu segera menarik lengan baju Cello agar jangan beranjak dulu. "Aku beneran serius minta maaf."
Malika sudah mengulurkan tangannya ke hadapan anak itu. Wajahnya tampak sendu dan penuh penyesalan. "Maafin sikap aku yang waktu itu Ell," lirihnya.
Cello terlihat ragu-ragu untuk menyambut tangan Malika. Tapi otak licik yang bekerja secara maksimal segera mendapatkan ide berlian.
Kejailan anak itu dimulai lagi. Ia mengucapkan sesuatu yang tidak pernah murni ada di dalam hatinya selama ini. Hanya sekadar iseng dan obsesi anak itu.
"Ka-kalau udah besar mau," ujar Malika tergugu-gugu. Ia memilih tertunduk menatap rumput-rumput dengan tangan yang masih terulur menunggu sambutan Cello.
"Awas ya, kalo udah gede kamu nikahnya sama orang lain!" Cello menyambut uluran tangan Malika dengan sorot mata penuh ancaman. Gadis kecil itu hanya tertunduk malu tanpa menjawab apa pun.
Yang penting dimaafkan dulu. Masalah jadi nikah dengan Cello atau tidak, itu urusan belakangan.
"Yaudah, aku ke kelas dulu! Mulai sekarang kita temenan lagi." Cello hendak berbalik menuju kelasnya, namun manik mata Malika menangkap sesuatu yang mesum berada tepat di balik pohon mangga berjarak 10 meter dari posisi berdiri mereka.
Sepasang anak SMA sedang berciuman mesra dan tentunya sangat menodai mata gadis kecil itu. Sekolah mereka adalah sekolah gabungan dari TK, SD, SMP, dan, SMA. Namun setiap tingkatan memiliki batas wilayahnya masing-masing. Entah bagaimana ceritanya anak SMA itu bisa masuk ke kawasan SD dan malah asik bercumbu di sana.
"Ada kakak kelas lagi ciuman. Kamu jangan balik badan dulu El," lirih Malika dengan pipi meronanya.
Malika menutup dua mata Cello agar anak itu jangan sampai melihat adegan berbahaya tersebut. Namun Cello yang penasaran tetap bersikeras berbalik dan langsung berteriak.
"Bu guru .... ada anak SMA ciuman!" teriak bocah nakal itu keras-keras.
Dua pasangan tersebut mulia panik. "Kita ketauan, Yank!" ucap si cewek tersebut.
"Kamu tunggu sini!" Si cowok berlari ke arah Malika dan Cello yang sedang berdiri terpaku memandangnya.
"Dasar anak recot! Ganggu aja kalian!"
Melihat anak SMA garang tersebut, tubuh Cello dan Malika mulai gemetar ketakutan. Cello yang tadi sempat berteriak mendadak bungkam lantaran dipelototi oleh manusia bertubuh besar yang ada di depannya.
"Ikut aku!"
Pemuda ini menarik paksa Malika dan Cello menuju tempat yang lebih sepi.
"kita nggak mau ke sana, Kak!" seru Cello dan Malika yang sudah reflek bergandengan tangan sambil diseret-seret oleh pemuda itu agar mau berjalan.
"Kalau gak mau dipukul nurut! Dasar sialan!" Pemuda itu menjambak rambut Malika dan Cello sambil terus berjalan. Mereka hanya bisa mengikuti pria itu dengan pasrah lantaran sudah terlanjur ketakutan dan tidak mungkin melawan.
Malik dan Cello di bawa ke pohon mangga tadi. Lantas dipaksa untuk saling berhadapan.
"Kalian berdua juga lagi berduaan, 'kan? Kenapa gangguin kami?" Pemuda itu berakting dengan nada membentak. Sementara si cewek tertawa puas melihat dua bocah itu gemetar ketakutan.
"Sekarang kamu cium cewek kamu itu! Biar kamu tau rasanya kayak apa!" Pemuda itu memegang dua bahu Cello. Lantas mendorong anak itu agar segera mencium bibir Malika.
"Jangan kak, gak boleh seperti itu, kita belum menikah," tolak Malika sambil memohon agar segera dilepaskan.
"Udah buruan ciuman! Masih kecil aja belagu, kayak tau nikah aja kalian!"
"Gak mau! Aku gak mau cium dia! Dosa!" teriak Cello terus memberontak. Tangannya bergerak-gerak memukul lengan pemuda bertubuh besar itu. Sekuat apa pun Cello melawan, apalah daya tenaganya tidak sebanding dengan kakak kelasnya itu.
"Jangan berisik! Cepetan cium, siapa suruh kamu gangguin orang dewasa pacaran!"
Malika hanya bisa menangis tertahan tanpa berani mengeluarkan suara. Pemuda itu terus mengarahkan Cello agar segera menerjang bibir Malika. Cello terus berusaha melepas cekalan kuat anak SMA tersebut. Sebisa mungkin ia memalingkan wajahnya ke samping agar jangan sampai bersentuhan dengan bibir Malika.
"Aku gak mau ... gak mau ... tolonggg!" teriak Cello penuh ketakutan.
***
Up kedua hari ini. Lagi rajin nulis ini. Kalo banyak yang kasih kopi dan bunga. Aku up lagi entar. Wkkww.