
"Eh" Lisa mengerjap-ngerjap. Tubuhnya sudah gemetar ketakutan tatkala membayangkan badannya akan segera ditindih oleh Gunung Es. "Ka-kamu mau apa, Mas?"
Lisa nyaris syok tidak percaya dengan apa yang Farhan lakukan saat ini. Pria itu sedang memijit tubuhnya, menyusuri setiap tulang-tulang ngilu yang semakin lemas setiap kali terkena sentuhan tangan Farhan.
"Memangnya siapa yang mau memakanmu? Kau saja yang terlalu percaya diri," telak Farhan agak emosi. Hidungnya mendengkus, namun tangannya masih cekatan memijit punggung Lisa lebih dalam.
"Ma-makasih, tapi sebaiknya tidak usah," tolak Lisa. Ia merasa ngeri dengan kebaikan Farhan. Takut ada udang dibalik batu. Kembali lagi menolak, Lisa berkata, "Kalau kamu baik begini malahan aku takut. Tidak biasanya kamu melakukan hal seperti itu. Apa yang lagi kamu pikirin, Mas?"
"Ini hanya ucapan terima kasihku untuk hari ini. Jangan banyak omong atau tulang punggungmu bisa patah!" Farhan berucap tegas dengan sorot mata menyala. Ada amara di dalam hati saat kebaikannya dianggap negatif.
"Ka-kalau begitu terima kasih. Aku akan diam menikmat." Menghembuskan napas lega, Lisa terpejam dalam balutan rasa nikmat. Tak dipungkiri, ia sangat menikmati tangan kekar Farhan yang bergerak lincah seperti tukang pijit profesional.
Aku sungguh harus menyembahmu atas keajaiban ini, Suamiku. Kadang kelakuanmu manis sekali meski bukan dengan cara trik pria bucin seperti pada umumnya.
"Bolehkah aku mengambil posisi tengkurap saja?" Lisa mulai bergerak, sedikit menggeliat karena tidak nyaman dengan sesuatu yang mengganjal dan menyabotase posisi duduknya. "Kasihan kamu keberaran nanti."
"Terserahmu sajalah."
"Makasih Sayang." Satu kecupan mendarat di punggung tangan Farhan. Dengan tawa garing Lisa yang terkesan ngelunjak. "Pijitan kamu enak banget, Tangan." Berbicara pada tangan Farhan tanpa melihat wajah pemiliknya.
Lisa mulai mengambil posisi tengkurap. Memamerkan tubuh setengah polosnya dan membuat Farhan menelan saliva susah payah. Punggung mulus itu terlalu beracun, membuat Farhan harus memfokuskan kesadarannya dengan cara buang muka. Memandang ke mana pun asal tidak melihat tubuh Lisa.
Kembali mendaratkan tangannya di punggung Lisa, Farhan menyusuri setiap tulang-tulang nyeri seolah ia paham di mana letak sakitnya. Farhan tahu, Lisa kelelahan meski ia tidak mengeluh sama sekali. Maka hati nuraninya bergerak, ingin memberikan sedikit sentuhan pada Lisa. walau Farhan sendiri jauh lebih letih sebenarnya.
"Pijitanmu profesional sekali, Sayang. Apa kamu pernah masuk sekolah pijat?"
"Jangan memancing amaraku, diam dan nikmati saja!"
"Akhp!" Lisa menutup mulutnya. Mendapat suami dingin seperti gunung es membuat dia suka tidak tahan sendiri. Bawaannya ingin terus menggoda dan membuat suaminya naik darah.
Sementara Farhan, ia masih terus memijit Lisa sambil melawan hawa nafsu yang terus menggebu-gebu. Menyingkirkan keinginan si gagang gayung yang hendak berkeliaran di dalam goa misteri. Darah nya berdesir kencang, tatkala melihat lekuk-lekuk tubuh Lisa yang kian lama makin menggoda. Seperti ada medan magnet berkekuatan besar yang terus menyiksa gagang gayung tanpa ampun.
Apakah niat baikku berujung penyiksaan untuk diri sendiri? Farhan terus bertanya dalam hati. Jantung dan napasnya naik turun tanpa bisa berbuat apa-apa. Selain harus memijit Lisa sampai tidur.
"Oh ya, Tuan, apakah Pak Rico pernah berpacaran?" Lisa membuka omongan, kembali membahas Rico karena masih penasaran.
"Tidak. Dia bilang akan menjadi jomlo berkualitas," ujar Farhan. Hatinya mulai teralihkan saat pembahasan Rico di mulai lagi. Panas, seperti ada yang terbakar walau tidak ada sumber apinya.
"Sayang sekali, padahal dia dijuluki pria terseksi dan tertampan di kantor."
Intinya Farhan marah, kesal karena Rico memberikan lapor bahwa Lisa akan menikahinya kalau sampai gagang pacul milik Rico tak berfungsi. Farhan tahu Rico asisten yang sangat setia, tapi laporan Rico kali ini sukses membuat Farhan merasa ada saingan.
"Tunggu dulu." Lisa langsung bringsut dari posisi duduknya, matanya menelisik wajah Farhan yang merah padam. "Kamu cemburu ya?"
Senyum jenaka muncul dari bibir Lisa. Alisnya meninggi satu, penuh arti.
"Siapa yang cemburu?" Farhan menendang selimut ke arah Lisa. Ia melengos sambil berbicara ketus, "Tidur sana, aku sudah selesai memijitmu!
"Hahaha." Lisa tergelak. "Bolehkah aku menganggap reaksi itu adalah tanda cemburu, Tuan?"
"Terserahmu!" Farhan sudah mengambil posisi tidur miring memunggungi Lisa. "Tolong matikan lampunya. Aku sudah ngantuk."
Ah, kamu imut sekali, Mas Alan.
Bukannya mematikan lampu, Lisa malah membuka paksa baju Farhan. Ia tidak bisa tidur gara-gara tingkah suaminya yang kebaran jenggot di tengah malam.
"Mau apa kamu?" Pria itu menelan saliva gugup. "Pakai piyamamu lagi." Farhan mengambil bantal dan menutupi wajahnya secepat kilat. Ia tidak mau melihat dua gunung kembar yang masih tertutup awan itu. Percuma dilihat kalau tidak boleh didaki.
"Aku mau gantian memijatmu. Aku tahu kamu juga capek."
"Tidak usah, aku ngantuk!" Farhan pura-pura memejamkan matanya. Sengaja ia lakukan agar gagang gayungnya tidak bereaksi lagi.
"Jangan menolak kebaikan seseorang. Kamu adalah pria pertama yang akan aku pijit tau," gerutu Lisa, ia, terus merayu sekaligus memaksa suaminya buka baju.
***
Mohon Maaf atas keterlambatan update, makasih untuk vote dan dukungan tak terbatas dari kalian semua. Jangan berhenti dukung aku ya. Nanti aku up 1 bab lagi.
Visual badan Rico:
kok badan aja, Kak?
Iya, mukanya ditebak aja sendiri. Atau kalian bayangin muka Rico. Intinya seksi😁