
"Mas, aku tidak kuat membaca surat itu."
Lisa melirih sesak. Jantungnya serasa di remas-remas kuat dan ditusuk belati tajam tak kasat mata. Ia tak menyangka bahwa Reyno yang selama ini manja pernah mengalami hal seburuk itu. Dan terlebih Lisa tak ada di samping Jennie saat sahabatnya tengah melewati masa-masa susah tersebut. Meskipun sejak kecil selalu hidup susah, entah kenapa Lisa begitu sakit saat mengetahui sahabatnya sesusah ini.
Sementara Farhan diam terpaku. Matanya masih tertancap pada sekeping kertas yang tengah dipegangnya. Sama halnya seperti Lisa, perasaan sesak juga bertamu dalam hatinya kini.
Detik berikutnya mereka saling berpelukan untuk sekadar menguatkan satu sama lain. Sosok Reyno dan Jennie seakan nyata berada di dekat mereka setelah membaca isi surat menyayat itu. Seonggok kertas dan coretan tangan biasa, namun terasa bernyawa saat mereka membacanya.
"Aku benar-benar kehilangan kata setelah membaca isi surat itu," lirih Farhan.
"Sama, aku juga ... rasanya seperti mendapat pukulan yang membuat kepalaku jadi limbung mendadak." Mereka masih dalam posisi berpelukan. Diam-diam Farhan menyeka air mata yang baru saja lolos melalui pipinya.
Lisa menyadari itu. Ia segera melepas pelukan dan mengusap air mata Farhan dengan ibu jarinya. "Kenapa? Kamu merindukan adik-adikmu ya?"
Farhan menggeleng. "Bukan seperti itu. Jika dibandingkan Reyno, aku sama sekali tidak ada apa-apanya. Aku merasa kesal pada diriku sendiri yang terkadang lalai akan tanggung jawabku sebagai seorang suami. Bahkan ibu kandungku sendiri sering membandingkan kami berdua. Entah apa yang kamu pikirkan saat menikah denganku, yang jelas aku sama sekali bukan tipe suami idaman, memberikan perhatian-perhatian kecil pada istri saja hampir tak pernah. Kadang aku benar-benar iri dan ingin sekali menjadi suami seperti Reyno, tapi tidak pernah bisa."
Curahan hati Farhan terurai sebagian. Itulah beban yang ia rasakan ketika statusnya berganti menjadi suami dan ayah sambung. 70 persen waktu dan perhatiannya lebih banyak didonasikan pada pekerjaan dibandingkan untuk keluarganya sendiri.
"Kamu tidak perlu menjadi Reyno, karena aku juga tidak pernah bisa menjadi Jennie. Tetaplah menjadi Farhan dan Lisa dengan segala kekurangan di dalam biduk rumah tangganya."
"Apa selama ini kamu tidak tertekan menjadi istriku?" ucap Farhan penuh tanda tanya besar di kepala. Matanya sedikit meneliti wajah Lisa seraya menunggu jawaban wanita itu.
Lisa mengecup kelopak mata basah Farhan. Lalu berpindah pada bibir dan menyesapnya sekilas. "Tertekan pasti ada. Tapi itu tidak seberapa. Kita sama-sama memiliki kekurangan. Yang penting kamu selalu sayang dan bisa adil pada si kembar, bagiku sudah lebih dari cukup."
"Apa yang membuatmu tertekan? Katakan padaku biar aku paham," tegas Farhan sedikit menggertak penuh paksaan.
"Emmm. Bagaimana ya?"
"Katakan!" gertak Farhan. "Aku ingin memperbaiki diri."
"Lalu aku harus bagaimana? Kadang aku lelah dan tak sadar tertidur begitu saja. Semua itu di luar kendaliku."
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Toh aku sudah tahu bahwa hal itu lumrah terjadi pada laki-laki. Memang menyebalkan sih, tapi dokter bilang laki-laki memang begitu. Awalnya aku marah, kesal, tidak terima, merasa menjadi sampah, tapi lama-lama aku paham bahwa laki-laki memiliki hormon yang membuat dia mengantuk setelah berhubungan."
"Kalau begitu aku minta maaf. Lain kali aku akan berusaha menahan rasa kantukku."
"Bagaimana jika kita coba sekarang?"
Sontak Farhan membola. Ia seperti mendapat serangan bahagia hingga tumpukan file pekerjaan yang memenuhi tas kerjanya tampak lenyap dari pandangan.
"Bukannya jatahku hanya bisa kembali jika si kembar pulang?" tanya pria itu memastikan.
"Hari inu terkecuali. Anggap saja hadiah istimewa untuk lelaki hebat yang selama ini selalu berusaha membahagianku."
Tanpa basa-basi, Farhan membopong Lisa menuju kamar.
Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatana yang datang. Persetan dengan semuanya.
***
Sedikit dulu ya. Aku lagi cibuk banget hari ini. Jangan lupa kasih hadiah, entar aku kasih hadiah yg uwu uwu lagi.
Buat yang gak sabar boleh sambil baca novelku yang lain. Dijamin ngakak-ngakak kok. Ini aku nobatkan sebagai novel terbaikku. Karena disini aku brani mengusung tema tidak pasaran. Alias bukan cerita orang kaya. Tapi tetep komedi.
MENANTU IDAMAN