HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 73 (Season 2)



Tapi orang dewasa juga suka ikut campur urusan anak kecil! Kenapa kita nggak boleh tahu urusan ayah sama bunda? Awas aja, aku gak mau cerita ke ayah sama bunda tentang malika lagi!"


Cello terlihat sangat kesal dan marah.


"Iya, Cilla juga nggak mau cerita tentang Evan ke ayah sama bunda! Malesin!"


Mereka melempar tatapan penuh peperangan. sampai Farhan pusing dan memijit batang hidungnya sedikit keras. Padahal letak pusingnya ada di kepala.


Lisa melirik Farhan, berusaha memintan bantuan. Ia yang biasanya pandai bicara, mendadak bungkam seolah logikanya terjun bebas ke dasar bumi.


Tenggelamkan aku ke danau saja kalau begini.


"Sebenernya kita denger semua obrolan Ayah sama Bunda, tapi kita pura-pura gak tau biar Ayah sama Bundanya jujur!"


Cilla mengucapkan kalimat pamungkas yang sering Farhan dan Lisa katakan saat kedua anak itu sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka. Entah itu kertas ulangan, masalah pribadi, ataupun benda lain yang menguji emosi Lisa dan Farhan.


Farhan menggeser duduknya. Ia mengambil posisi jongkok di depan si kembar yang tengah duduk. Mata mereka bertemu.


"Iya, tadi ayah bertengkar sedikit sama Bunda," jawab Farhan.


Lisa menggigit bibir bawahnya. Jantungnya bertalu-talu memikirkan rangkaian kata apa yang akan Farhan katakan pada mereka. Semoga saja bukan sesuatu yang menyudutkan Lisa. Karena sumber masalah utama ada pada dirinya.


"Ayah bentak-bentak, Bunda, Ell nggak suka," lirih Cello sedikit tercekat. Merasa tidak terima mendengar Lisa dibentak-bentak sampai menangis seperti tadi.


Satu tarikkan napas panjang menjadi jeda sebentar. "Iya, tadi ayah bentak Bunda karena Bunda-nya salah. Sama seperti Cilla dan Ello, orang dewasa juga sesekali bertengkar. Maaf ya, sudah membuat kalian mendengar hal yang seharusnya tidak didengar," ucap Farhan dengan edukasi terlembut yang mungkin dapat mereka pahami.


"Tapi Bunda dan ayah nggak akan pisah, 'kan? Kita nggak mau ayah dan bunda pisah kayak orang tuanya Elara, temen aku di sekolah. Dia setiap hari nangisin ayahnya karena ibunya nggak ngebolehin ayahnya pulang ke rumah lagi."


Membuat Farhan terenyuh. Lantas memandang wajah takut mereka seraya mengusap dua kepala kecil dari bocah-bocah yang menggemaskan itu.


"Itu tidak mungkin! Ayah sayang banget sama Bunda kalian. Sehebat apa pun kami bertengkar, ayah akan tetap pulang ke rumah, dan bunda Lisa nggak mungkin usir ayah."


Wanita yang duduk seraya menatap punggung Farhan sedari tadi nyaris menitikan air mata. Kalimat yang Farhan ucapkan pada si kembar memang tergolong kalimat berat. Namun jika tidak dijelaskan secara rinci, mereka akan ngambek dan marah pada ayah dan bundanya.


Seketika Farhan tersenyum saat Cilla mengucapkan bahasa orang dewasa lagi dan lagi. "Iya, ayah salah."


"Udah minta maaf sama, Bunda?" sambung Cello memasang gaya seperti orang dewasa.


"Udah dong." Ditariknya lengan Lisa agar ikut berjongkok di depan pangkuan mereka berdua.


"Beneran ayah udah minta maaf, Bun?" Cello bertanya pada Lisa untuk memastikan Farhan tidak berbohong. Farhan hanya memicing saat melihat kelakuan anak yang satu itu.


"Iya, beneran! Bunda dan ayah kalo berantem ngga pernah lama kok! Maaf ya, bunda jadi malu karena kalian dengar pembicaraan kita lagi bertengkar," seloroh wanita itu sedikit manja dalam bertutur kata. Bibirnya terlipat kedalam.  Wajahnya tersipu menahan rasa malu yang menggebu-gebu.


"Kita nggak marah, tapi Bunda janji ya, bakalan sayang sama ayah terus, jangan suka sama om yang lain. Tadi Cilla denger ayah sama bunda bahas-bahas mantan. Kata temenku, mantan artinya bekas pacar. Berarti bunda deket-deket sama mantan," celetuk Cilla menyimpulkan. Farhan melirik wanita itu seakan membenarkan perkataan anak gadisnya.


"Cuma salah paham, Sayang." Tangannya mencubit pipi Cilla gemas.


"Pokoknya Bunda nggak boleh deket sama anak cowo selain ayah Hanhan!" tukas Cilla.


Lisa terkekeh geli. "Kayaknya nggak bisa deh, itu mustahil!"


Sontak Cello dan Farhan melotot ke arah Lisa. 


"Maksudmu apa?" teriak Farhan kembali murka hingga membuat dua bocah itu tersentak dan membulatkan matanya sedikit takut.


"Ayah, jangan galak-galak! Katanya nggak mau galak lagi sama bunda?" Lisa tersenyum simpul. "Kalau dedek bayi di perut bunda laki-laki. Otomatis ayah kalian akan kalah saing. Pasti bunda lebih sayang sama dede ketimbang ayah. Benerkan?"


Cilla dan Cello tertawa. "Iya bener! Kita juga mau sayang sama dedek bayi aja. Ayah udah tua, ngga usah disayang lagi," ledek Cilla diiringi wajah masam Farhan yang masih ditekuk-tekuk seperti koran bekas lecek.


***


Ada yang pernah ngalamin di posisi Lisa dan Farhan gak, nih? Lagi berantem malah ketauan anak.


Satu bab lagi dalam proses. Tunggu ya.