HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bunga Matahari



"Lisa ...!"


"Ayah Hermawan?" Mata Lisa membelalak sempurna saat melihat sosok pria paruh bayah yang ada di depannya. Ia membawa tote bag berisi sesuatu di tangannya. Farhan yang juga melihat kedatangan tamu tak diharap itu hanya bisa diam tanpa kata. Lalu berjalan angkuh menuju pintu rumah tanpa menegur ayah Hermawan terlebih dahulu. Serenggang itu hubungan sampai Farhan tak mau menegus suami dari bunda kandungnya.


"Mas!" Lisa sedikit berteriak, namun Farhan enggan mendengarkannya. Tanpa peduli, Farhan meninggalkan Lisa dan ayah Hermawan, lalu menghilang di balik pintu rumahnya.


Mungkin sekarang ia sudah sampai di dalam kamar karena jalannya yang cepat seperti kereta.


"Tidak udah di kejar, Lis. Ayah hanya kebetulan mampir, sekalian ngasih titipan dari bunda. Ini lauk-pauk kesukaan Farhan dan kamu, nanti tinggal dipanasin saja," ujar ayah seraya menyerahkan tote bag yang ia pegang pada Lisa.


"Terima kasih banyak, Ayah. Jadi ngerepotin bunda sama ayah 'kan." Lisa menerima makanan itu dengan senang hati.


"Tidak masalah, memasak adalah hobi bundamu," tutur ayah.


"Ayah sudah lama di sini? Maaf ya, tadi aku dan Mas Farhan ada perlu sebentar," ujar Lisa tidak enak hati.


"Ayah juga belum lama datangnya. Kamu apa kabar? Ngomong-ngomong selamat ya, akhirnya kamu menikah. Dan tidak menyangka kamu resmi jadi bagian keluarga kami." Ayah mengelus puncak rambut kepala Lisa. Memperlakukannya seperti anak kandung sendiri. Usianya yang seumuran dengan Jennie membuat beliau rindu pada anak semata wayangnya yang sudah berada di sisi Tuhan.


"Lisa baik, Yah! Kayaknya Ayah masih sama seperti dulu, ya. Awet muda, tidak bisa bertambah tua," ujarnya memuji.


"Bisa saja kamu nyenengin mertua."


"Hehehe. Masuk yuk, Yah. Kita ngobrol di dalam," ajak Lisa, tangannya menarik lengan ayah, namun pria paruh baya itu langsung menahan dan menolak ajakkan Lisa.


"Jangan. Ayah hanya mampir sebentar untuk melihat kabarmu," ucap ayah, wajahnya nampak sungkan. Seperti segan pada anak sekaligus keponakannya—Farhan.


"Loh, kok gitu? Pasti gara-gara mas Farhan angkuh, deh. Dia memang seperti itu, Yah. Tapi di balik semua itu, dia pasti sayang sama ibu dan ayah kandungnya." Lisa tetap memaksa sambil menarik lengan ayah agar mau masuk.


"Hubungan kami sedikit kurang baik. Karena saya bukan ayah kandungnya, Lis."


Ya?


Lisa mengerjap dan terlihat sangat terkejut. "Ma-maksudnya, Yah? Bukannya Mas Farhan anak kandung, Bunda?"


"Iya, tapi saya bukanlah ayah kandung Farhan. Farhan adalah anak dari kakakku Roni, Lis."


"Kok bisa, sih?" Lisa menggaruk kepalanya bingung. Masih belum menutupi keterkejutannya dari fakta yang ia dengar barusan.


"Maaf, ayah tidak menjelaskan masalah ini padamu. Tapi kamu boleh tanyakan semua ini pada suamimu."


"Eh, baik kalau begitu, Yah." Lisa menunduk cangggung. Bingung harus berkata apa.


Masalah keluarga Hermawan yang sekarang terlalu rumit, padahal dulu keluarga Hermawan sangat harmonis di mata Lisa. Entah mengapa, pisah dengan Jennie beberapa tahun mampu membuat keluarga itu berubah drastis dari semenjak yang ia kenal dulu. Termasuk kehadiran Farhan sebagai kakak Jennie yang dulu sempat di kabarkan mati.


"Kalau begitu ayah pulang dulu, kasihan bunda kerepotan ngurus si kembar."


"Emm, iya Ayah! Maaf merepotkan. Kami belum bisa menemukan pengasuh baru yang tepat untuk mereka."


"Tidak masalah, kehadiran si kembar mampu membuat dunia kami berwarna kembali," ujar ayah sambil melepas senyum terbaiknya. "Baik-baiklah di sini, sudah menikah tidak boleh seperti bocah ya, Lisa."


"Iya Ayah, masih inget aja kalau Lisa bandel kayak bocah." Lisa menyeringai. Lantas melambaikan tangan pada ayah yang sedang membuka pintu mobilnya.


"Hati-hati di jalan ya, Yah!" seru Lisa.


****


Selepas pertemuannya dengan ayah mertua, Lisa menyuruh asisten rumah tangga agar menghangatkan makanan dari bunda. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh sore. Waktunya makan malam sebentar lagi.


Dengan hati-hati, Lisa masuk ke dalam kamar. Mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru ruangan yang ternyata tidak ada sosok Farhan Budiman.


"Astaga!" Farhan mundur satu langkah saat melihat Lisa berdiri dengan senyum smirk yang mencurigakan.


"Apa yang kamu lakukan? Mengagetkan saja," ujar Farhan, ia berjalan ke arah lemari pakaian diikuti Lisa yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


Pria itu mendesah berat. Mencoba melepas belenggu tangan Lisa yang memeluk tubuh basahnya.


"Lepaskan, aku mau ganti baju." Farhan berbicara dengan gaya angkuh dan arogan, namun Lisa tidak mau melepas. Ia menghirup aroma sabun yang masih melekat di tubuh Farhan. Harum semerbak membelai bulu-bulu hidung Lisa. Di mana Lisa merasa mabuk kebayang dengan aroma khas prianya saat keluar dari kamar mandi.


"Kamu tidak boleh galak pada istrimu wahai, Tuan Farhanku. Karena aku bisa saja menghukummu jika aku ingin," ancam wanita itu. Lisa memutar tubuhnya hingga posisinya berhadapan dengan Farhan. Masih merangkul pinggang pria itu dengan erat.


"Kamu berani mengancamku? Dengan apa kamu mengancamku," ejek Farhan sambil menyunggingkan bibirnya—sinis. Ia merasa kuat, selama ini selalu berhasil mengalahkan siapapun. Namun, ancaman Lisa sukses membuat mata pria itu membola sempurna.


"Tentu saja dengan tubuhku. Kamu tidak akan kuberi jatah sebulan kalau terus-terussan jutek padaku."


Mendenyar itu, Farhan menelan saliva gugup. Sekarang Lisa sungguh memiliki senjatah ampuh untuk melawan Farhan.


Bagi seorang pria, ancaman itu terlalu berat untuk dilalui. Layaknya gunung yang menimpa punggung, begitulah yang pria rasakan jika tidak mendapat jatah selama satu bulan lebih. Dulu Farhan mampu bertahan hingga 32 tahun lamanya tanpa tergoda sedikit pun, namun keadaannya sudah beda karena ia sudah kecanduan gas beracun di dalam goa misteri milik Lisa. Farhan tak sanggup, sungguh tak sanggup bila itu sampai terjadi.


Menghela kasar, Farhan meraih dagu Lisa hingga wanita itu mendongak sempurna. "Apa yang kamu mau Kelinci betina?" tanya Farhan sambil menatap manik mata coklat milik Lisa.


"Ada masalah apa kamu dan Ayah Hermawan? Aku rasa hubungan kalian tidak baik-baik saja. Sebagai istrimu, aku harus tau semua tentang masa lalu kamu. Kamu juga sudah janji mau cerita waktu itu," protes Lisa tidak mau tahu.


"Ya, aku mau cerita, tapi izinkan aku ganti baju dulu. Tidak nyaman cerita sambil telanjang," ujar Farhan menyanggupi.


"Tidak masalah, aku nyaman," celetuk Lisa tidak peduli. Farhan bedecak heran seraya mencubit hidung Lisa kuat-kuat.


"Jangan membantah, aku tidak suka!"


"Kasih spoiler dikit, deh. Aku penasaran," bantah anak itu. Masih belum merelakan Farhan untuk sekedar ganti baju.


"Lepas!" bentak Farhan kesal.


Wanita itu memberontak, sampai tanpa sadar tangannya menyambar handuk putih yang melilit pinggang Farhan hingga lepas.


"Kamu!" bentak Farhan murka.


"Upss, maaf!" Mata Lisa menatap sesuatu yang ada di bawah sana.


"Apakah ini hasil maha karya mister Tong Jay?" Ia mengamati dengan cermat, membuat Farhan malu dan berusaha menutupinya dengan tangan.


Lisa iseng mendekati Farhan yang wajahnya sudah merona seperti tomat matang.


"Jangan gila kamu Lisa!"


"Aku cuma mau pegang!"


"Mimpi saja kamu!" Farhan mendengkus, segera berlari menuju lemari pakaian.


"Oh ya ampun, sepertinya dedek gemesmu sudah berubah ya, Mas. Tidak layu, lebih segar dan merekah kayak bunga matahari yang baru disiram air," seru Lisa tersenyum geli.


Farhan menutup telinganya. Tidak mau mendengar ocehan mesum Lisa yang tidak penting.


***


Up ke dua hari ini. Semoga vote kalian se'semangat aku yang mau nulis cepet buat nurutin mau kalian ya🥰.