HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Kuwali Time



Banyaknya masalah yang terjadi di perusahaannya membuat Farhan nyaris mendekati stress. Para investor mengancam untuk mencabut saham mereka akibat kejadian tak terduga itu. Farhan sudah menjelaskan bahwa semua yang terjadi adalah bencana. Namun, para penaruh saham di proyek provinsi X terlalu berotak rupiah. Mereka mau bekerja sama dengan Farhan karena tahu kemampuan perusahaan Farhan selalu di atas rata-rata. Giliran mendapat kendala seperti ini, para investor langsung mengedikkan bahu dan memilih undur diri dengan entengnya.


Beruntung, Rico dengan sigap menjelaskan isi surat perjanjian kontrak yang mereka tanda tanda tangani ketika menerima tender kerja sama. Di mana penaruh saham akan mendapat denda sebesar 35 persen jika mereka sampai mencabut dananya di tengah-tengah perjanjian. Keadaaan kembali pulih, menutup buku harian kerja semua karian di hari Jum'at.


Saatnya liburan, Farhan mengajak si kembar dan Lisa ke Bandung untuk menikmati sekedar indahnya hidup. Mencari sebuah rutinitas di hari weekend yang sering disebut orang sebagai quality time. Sesuai permintaan istrinya, Lisa. Karena Farhan tidak mungkin mau jalan-jalan kalau tidak dipaksa terlebih dahulu.


"Ayaah ... Cilla mawuu gendong, dungs. Tapek nich!" Cilla sudah mengepangkan kedua tangannya, manja. Farhan meraih anak itu, menaruhnya di atas lengan seraya merangkul pundaknya. Sementar Cello, dia sedang tidur nyenyak dengan empeng kesayangannya di atas kereta bayi.


"Manja banget sih, kamu? Kapan bisa ngomong benar? Sudah empat tahun loh. Bukannya tambah pinter malah makin centil." Sebuah cubitan lembut tangan Farhan melayang di kedua pipi Cilla.


Wajah gadis kecil itu merah padam. Matanya berputar sebal. Persis seperti almarhum papa Teddy kalau sedang ngambek. "Cilla udah pinteng ngomong, kok! Bica ngitung kuwe, buwah, toklat uga bisyaa. Ayah gak tayang Cilla agi, makana gak peduyi," sungut gadis kecil itu dengan nada protes.


Lisa mencubit perut Farhan seraya berbisik, "Jangan digodain, sudah tahu kalau ngambek dibujuknya susah kayak bikin candi sehari semalam. Kamu tuh ...."


Cilla yang mendengar bisikan Lisa ikut memarahi Farhan dengan gaya orang dewasa. "Ayah memang nackal, Bundaah! Kalau nackaal nanti Cilla lapolin kek mama Panda, luuh."


"Gimana caranya?" tanggap Farhan pura-pura penasaran.


"Lewat mimpi dung. Setiyap mayam sebeyum bobok, nenek syelalu ajalin doa. Doa buat mama Panda dan Papa teddy ke Tuhan. Kalau lajin doa, nanti balu bisya temu mama dan papa yewat mimpi."


Farhan tertegun menelan saliva. Anak itu selalu berhasil membuat mata orang dewasa berkaca-kaca. Hati Farhan selalu sesak setiap kali mendengar si kembar membicaran orang tuanya.


Seonggok daging itu jadi ambyar saat nama mendiang Reyno dan Jennie disebut-sebut. Tokoh baik memang selalu dikenang, apalagi di hati anak-anaknya. Reyno And Jennie Forever, kata si kembar jika sedang membanggakan kedua orang tuanya.


"Mas, kamu jagain mereka dulu ya, aku mau tukerin tiketnya sama minuman gratis di depan, lumayan. Sekalian beli koin buat pesen makanan, hehehe." Lisa tersenyum jenaka. Menjadi istri orang kaya sama sekali tidak merubah jiwa iritnya yang sudah melekat sejak dulu kala. Malahan, Lisa bertambah gila setiap kali lihat barang diskonan atau gratisan.


"Jangan lama-lama, Ello nangis kalau bangun gak ada kamu."


"Iya, Ayah!" Wanita itu berlari riang. Meninggalkan Farhan yang duduk di samping danau buatan sambil memangku Cilla. Tangan yang satunya cekatan, menggoyang-goyang kereta bayi Cello agar anak itu jangan bangun dulu.


Farhan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ramainya pengunjung di floating market itu tak membuat kesejukan kota Bandung lenyap begitu saja. Bandung adalah tempat yang terlalu indah dan sejuk untuk dinikmati.


Bandung.


Sebuah tempat bersejarah di mana Cilla dan Cello diproses lima tahun yang lalu. Di sebuah kontrakan sempit, kurang layak, mereka dibuat dalam sekali jadi.


Sejarah berlalu, Farhan masih menunggu Lisa yang mengantri minuman gratisan di lobi depan. Pria itu menggerutu dalam hati karena Lisa tak kunjung datang. Bahkan, Cilla sudah mulai terlelap dipangkuan Farhan. Terlalu lama, pantat Farhan nyaris menjamur, tahu begitu ia tidak usah mengizinkan Lisa menukarkan tiket dengan minuman gratis. Bukannya sombong, tapi Farhan terlalu canggung dilihat ibu-ibu yang lewat. Mereka berbisik-bisik, senyum-senyum sambil menjuluki Farhan dengan sebutan 'Duren'.


Pergi ke tempat ramai seperti ini bukan kebiasan Farhan. Andai Lisa tahu, pria itu nyaris syok saat harus menukarkan uang sungguhan dengan koin khusus yang disediakan oleh pengelola tempat pariwisata.


Trik pemasaran sudah meluas, padahal Indonesia sudah memiliki mata uang rupiah. Sungguh, Farhan mengakui bahwa dirinya terlalu kolot layaknya kodok yang hidup di bawah batok kelapa.


"Dor!" Lisa datang mengejutkan. Wanita itu membawa kantong plastik putih dengan empat minuman hangat di dalamnya.


"Kamu liatin apa sih, Mas?"


Mata Farhan masih tertuju pada kerumunan orang yang lalu lalang dengan jarak sepuluh meter. Lisa sampai harus menepuk bahu Farhan tiga kali. Nyaris ia berpikir bahwa Farhan kesambet mahluk halus lewat.


"Tadi aku lihat Rico."


"Mana?" Lisa celingak-celinguk. Mencari sosok pria jangkung berwajah jenaka yang selalu menggodanya dengan berbagao tingkah. Namun, tidak ada tubuh indah yang mencolok di matanya. "Kamu jangan ngaco deh, Mas! Mana mungkin Rico ke sini."


"Sungguh, aku benar-benar melihat Rico dengan seorang wanita," ucap Farhan membenarkan. Matanya masih mencari sosok orang yang mirip Rico. Sudah menghilang di balik ramainya para pengunjung. "Kalau Cilla tidak tidur aku sudah mengejarnya dari tadi," lanjutnya lagi.


"Mana mungkin, Sayang. Rico kan jones. Memangnya kamu melihat jelas wajah Rico dan perempuan itu?"


"Aku hanya melihat punggungnya saja. Menurutku mirip Rico."


"Ya ampun. Punggung orang 'kan banyak yang mirip. Yang punya tubuh bagus seperti pak Rico ada banyak, Mas. Kamu minum kopi nih, biar matanya bisa fokus."


Lisa mengulurkan segelas kopi untuk Farhan. Pria itu memilih diam dan merima kopi pemberian Lisa. Tidak mau membantah pernyataan Lisa, dan memilih larut dalam pikirannya sendiri. Tapi sungguh, sebagai kekasih yang terpisahkan oleh persamaan jenis kelamin, Farhan sangat hafal lekuk tubuh Rico meski hanya melihat punggungnya dari kejauhan.


***


Yang gak paham Reyno dan Jennie baca Suamiku Anak Mami aja ya, ada sejarah Farhan Lisa di sana


Makasih buat yang vote, nanti aku up lagi kalau yang vote banyak tapinya. 🤣