
"Huek .... Hueek ...." Rico memuntahkan isi perutnya begitu ia baru turun dari kereta. Pria itu bahkan tidak sanggup berjalan ke kamar mandi. Kepalanya sangat penat. Perutnya bergejolak hebat hingga apapun yang ada di dalam perutnya keluar semua.
Beberapa pasang mata tertuju pada Rico. Mereka memandang pria bertubuh besar itu dengan sorot mata geli.
'Ganteng-ganteng norak!' Begitulah gunjingan sinis para penumpang yang melihat Rico muntah di tengah jalan.
Farhan memijit tengkuk Rico pelan-pelan. Lalu mengajaknya duduk di kursi tunggu sambil menunggu bodyguard membelikan minuman hangat untuk pria itu. Tak lama kemudian, bodyguard suruhan Farhan datang membawa minuman hangat. Rico langsung menyambar dan meminumnya secepat kilat.
"Aneh. Biasanya tubuhmu tidak selemah ini, Rico." Farhan memastikan. "Apa kau sakit?"
"Saya baik-baik saja, Tuan. Mungkin ini adalah perkenalan wahanan baru. Ini adalah pertama kalinya saya naik kereta api." Pria itu memegangi bagian perutnya yang masih sedikit mual. Waktu kecil Rico pernah naik kereta patas, tapi di Jepang dengan waktu yang kurang dari setengah jam. Rico pikir rasanya sama. Makannya mau ikut ke Jogja bersama Farhan dan Lisa.
"Maaf karena telah merepotkanmu. Seharusnya kau berangkat terlebih dahulu menggunakan pesawat." Farhan merasa tidak enak hati.
Lisa yang malas melihat adegan itu langsung berkomentar dengan nada sinis. "Pak Rico tidak kenapa-napa, Mas! Dia hanya mabok perjalanan. Lebih baik kita segera pergi dari stasiun ini. Tidak enak dilihat banyak orang."
"Ya, aku juga ingin istirahat dulu. Waktu kita tidak banyak, nanti siang ada rapat." Kali ini Rico membenarkan ucapan Lisa. Meski pun wanita itu terkesan menyebalkan di matanya.
Perjalanan dilanjut menuju hotel yang tak jauh dari Malioboro. Beberapa mobil yang dipakai untuk menjemput mereka dan bodyguard berhenti tepat di depan gerbang stasiun. Mengalihkan perhatian beberapa tukang ojek dan becak yang sedang mengais rezeki.
"Mas ... Mas ... Nuwun sewu." Seorang wanita muda menepuk Rico dari belakang saat pria itu baru saja hendak masuk ke dalam mobil. Lisa dan Farhan ikut menghentikan langkahnya. Ketiganya berbalik menghadap wanita itu dengan tatapan bingung.
"Dia bilang apa?" Rico tersenyum kikuk. Lalu melirik Lisa untuk mendapatkan jawabannya.
"Aku tidak tahu Pak Rico. Aku juga kurang paham bahasa jawa." Lisa malah memandang Farhan, pria itu ikut menggeleng tanda tidak paham dengan bahasa yang digunakan wanita itu.
"Maaf, ada apa ya?" tanya Rico ramah tamah. Pria itu memang memiliki tingkat kesopanan di atas rata-rata. Apalagi senyumnya yang manis membuat sejuta kaum hawa meleleh.
"Njenengan-jnengan niku artis po, Mas? Elok tenan mobile."
Rico menggeleng tidak paham. Ia sampai menggaruk kepala bagian belakangnya, tapi tak mendapatkan jawaban yang dia mengerti.
Dari belakang punggung wanita itu. Mulai banyak berdatangan para manusia yang penasaran dengan kehadiran Farhan dan Lisa yang menuai perhatian warga. Rico langsung menyuruh mereka berdua masuk. Bermaksud ingin menyuruh bodyguard untuk menghadapi mereka.
"Wah ... gekgek mase wong sugih rep bagi-bagi duit yo? Koyok ning tipi-tipi kuwi," celetuk salah seorang bapak yang mendekat.
"Kalian ngomong apa sih? Saya tidak paham dengan bahasa jawa," seru Rico. Ia ingin kabur dan pergi dari tempat itu, tapi tidak enak melihat mata polos yang kebingungan melihat mobil mewah berderet di depan stasiun. Sepertinya kehadiran Rico dan kawan-kawan mengganggu aktivitas warga.
Rico makin bingung dengan banyaknya kerumunan orang yang mulai berdatangan. Salah satu bodyguar yang agak paham bahasa mereka, langsung mendekat ke arah Rico.
"Tuan, sepertinya mereka minta uang," bisik bodyguard itu.
"Uang?" Rico mengernyitkan dahi bingung. "Apa yang kalian ucapkan serius? Benarkah mereka meminta uang padaku?"
"Tadi mereka menyebut kata 'duit', Tuan. Artinya uang, bukan?" ucap bodyguard itu lagi.
Namun, mata mereka para wanita memandang Rico dengan sorot mata kagum. Seolah bukan uang yang menjadi tujuan utama.
Makin gila, para gadis berteriak saat Rico melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Selamatkan janjungku." Satu teriakan menggema atas ketampanan Rico yang di luar batas wajar mata wanita.
"Oppaaaaa! Love you."
Stasiun Lempuyangan gempar pagi itu.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf atas kesamaan nama tempat dan lain sebagainya. Mohon untuk tidak mengaitkan dengan kehidupan nyata karena latar dibuat dengan sedikit perbedaan dari aslinya. Dengan segala kerendahan hati, cerita ini tidak bertujuan menyinggung atau menghina suatu daerah, ras, atau kelompok.🙏