HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 64 : (Season 2)



Cilla menatap tajam ke arah Cello dengan wajah merah padam semakin bengis. "Mulai sekarang kamu gak usah ngomong sama aku lagi, deh. Detik ini juga kita udah bukan kakak adek!"


Sontak Cello membola hebat. Alisnya menukik dan tanpa sadar bibirnya membentak, "Kamu apa-apaan sih, Dek. Kita itu kakak adik selamanya sampe mati!"


"Bukan! Kamu bukan kakakku lagi!" teriak Cilla menyulut emosinya sendiri.


Ia menahan napasnya yang naik turun tak beraturan. Matanya yang sejak tadi memerah telah menumpahkan cairan kesedihan, membuka lubang yang membuat hatinya melolong bak anak serigala ditinggal mati oleh ibunya.


"Ka-kamu kenapa?" tanya Cello mulai terbata-bata saat memperhatikan perubahan ekspresi wajah adiknya dari emosi menjadi sedih.


Anak yang tengah dilanda kalut itu lekas membanting tubuhnya ke atas ranjang, kemudian meraung di dalam bantal yang tengah di peluknya erat-erat. Cilla mulai berteriak histeris dengan kaki yang terhentak-hentak ke permukaan kasur.


Tak sengaja mendengar percakapan Cello dan Lisa saat ia tidur tadi membuat hidupnya seketika jatuh ke dalam kubangan mimpi buruk. Keinginan yang Cello ungkapkan begitu mengejutkan sampai Cilla tak mampu berkata-kata lagi. Terlalu mendadak dan tidak mudah diterima begitu saja oleh nalarnya.


Ia sampai bingung harus marah atau menangis. Yang jelas semua rasa sakit dan pahit bercampur menjadi satu adonan yang menghancurkan semangatnya untuk hidup.


Melihat adiknya yang menangis terisak-isak membuat Cello mendadak panik. Ia naik ke atas ranjang, berusaha menenangkan kehisterissan adiknya yang semakin jadi.


"Dek ... adek ...!" Cello mulai takut tangis adiknya didengar oleh orang luar. Ia mengusap-usap punggung bergetar Cilla agar anak itu berhenti menangis.


"Jangan deket-deket aku!" teriaknya dengan isakkan. "Kakak jahat!"


Anak itu masih terus menepis Cello di tengah-tengah bahunya yang masih bergetar dalam tangisan.


Cello mendesahkan napasnya putus asa. Tangannya bergerak cepat menarik Cilla hingga terpisah dengan bantal yang dipeluknya. Hatinya mulai terasa sakit melihat adiknya menangis sampai separah itu.


Cello mulai mendekap Cilla seerat mungkin sampai adiknya nyaris tak bisa bergerak. "Maafin kakak ya," lirih Cello, ia masih dalam keadaan bingung memikirkan letak salahnya di mana. Namun hatinya dapat merasakan bahwa Cilla pasti mendengar sesuatu yang tak disukainya. maka dari itu bisa menangis sampai segila ini.


"Jangan nangis, maafin kakak!"


Cilla berusaha memberontak. "Kakak jahat, kakak mau ninggalin aku pergi! Padahal kakak janji mau jagain aku selama-lamanya. Mana buktinya? Pembohong!"


Cello terdiam. Bibirnya tercekat mendengar raungan adiknya yang terasa begitu menyayat. Dengan napas tersendat ia bertanya, "K-ka-kamu udah denger obrolan aku sama bunda, ya?"


Cilla memilih bungkam. Dipukulnya dada sang kakak sekuat tenaga untuk melampiaskan semua perasaannya saat ini. Demi apa pun Cilla ingin sekali membenci sosok yang sedang memeluknya sekarang. Namun, ia tak dapat memungkiri bahwa sayang itu tidak bisa hilang sekeras apa pun ia berusaha melenyapkannya.


"Dengerin aku dulu, jangan nangis kayak gitu, ini 'kan baru rencana, aku juga nggak akan ninggalin kamu sendirian. Itu nggak mungkin."


"Tapi tadi kakak bilang ke bunda Lisa kalau kakak tetep mau pergi. Itu artinya kakak mau ninggalin aku ke Amerika!" Cilla masih tetap marah, apa pun alasannya ia tidak akan mau ditinggal oleh Cello begitu saja.


Cello mengajak adiknya bangun untuk mendudukkan diri. Mereka berdua masih dalam posisi saling memeluk di mana Cilla merasa begitu takut kehilangan kakaknya.


Beberapa saat setelah keadaan tenang, Cilla mulai berbicara kembali. "Kita itu udah ngga punya orang tua, kata nenek kita harus bisa saling menjaga."


"Aku janji, aku gak akan pergi ninggalin kamu begitu aja, Dek."


Mendengar itu Cilla mendongak. Tatapan penuhnya mengarah pada wajah Cello yang terlihat serius sekali saat berbicara kepadanya. "Aku cuma punya kakak, kalau kakak pergi aku sama siapa?"


"Iya sama aku lah, Dek. Kita akan selalu sama-sama. Makannya dengerin aku dulu. Siapa juga yang mau ninggalin kamu?" tangannya mengelap tepian pipi basah Cilla dengan cekatan. "Berhenti dulu nangisnya, nanti nenek denger aku yang repot."


"Tapi janji dulu, jangan pergi tinggalin aku!"


Cilla ikut mengelap wajah basahnya. Menarik sisa ingus yang nyari keluar melalui lubang hidung. "Terus kenapa tadi kakak bilang ke bunda kaya begitu? Malahan Kakak sampe nyuruh bunda bilangin ke ayah segala!"


"Jadi bener dugaan aku, tadi kamu udah denger semuanya? Kamu cuma pura-pura tidur?" sergah Cello dengan tatapan menyelidik penuh.


"Iya, aku cuma pura-pura," ucapnya tak mau berkilah. "Aku benci banget denger kakak ngomong gitu!"


"Iya Maaf."


"Aku gak butuh maaf, aku maunya kakak tetep di sini," ujar anak itu dengan wajah memaksa.


Cello yang tadinya sudah memikirkan cara sempurna untuk merayu Cilla menjadi pusing. Rencananya gagal total lantaran Cilla sudah terlanjur tahu terlebih dahulu.


"Kakak bakalan batalin rencana itu, kan?" tanya Cilla memastikan.


"Ehmmm." Bibirnya kembali kelu. Otak Cello terus berputar memikirkan berbagai cara untuk menjelaskan tentang rencananya pada sang adik. "Sebenarnya gini ...."


"Sebenarnya apa? Masih mau pergi juga? Udah gak sayang lagi sama adeknya?" potong Cilla cepat.


Bukan begitu!" Cello menggenggam kedua tangan Cilla. Ia menarik napasnya dalam-dalam sebelum mulai bicara.


"Sebenarnya aku mau kamu ikut ke sana juga. Biar kita bisa sama-sama belajar di sana. Jadi kita gak perlu pisah-pisahan kayak yang kamu takutin."


Cilla terlonjak. Namun sedetik kemudian ia dapat menguasai dirinya kembali.


"Kak!" decak Cilla tak menerima usulan kakaknya begitu saja. "Aku ngga mau tinggal di Amerika kalau ngga ada ayah sama bunda. Lagian aku betahnya di sini, aku suka sekolah di sini, meskipun aku gak pinter, tapi guru-guru sayang sama aku karena aku berbakat jadi model. Dan aku mau jadi model yang terkenal kalo udah gede nanti."


"Di Amerika juga ada sekolah model tau, Dek. Kamu bisa sekolah di sana sama aku. Lagian kita di sana tinggal sama Grandma dan Grandpa, mereka akan jagain kita selama kita di sana. Makannya aku mau sekolah di Amerika."


Cilla menggeleng penuh penolakan. "Emangnya kamu gak kasian sama ayah dan bunda? Mereka pasti sedih banget kalau tau kita pergi!"


"Ya kasian, tapi aku lebih kasian lagi sama papah dan mamah kalau sampe aku gak bisa jadi anak yang membanggakan. Kata Grandpa aku satu-satunya harapan pengganti papah. Jadi aku harus mulai dilatih kuat dari sekarang, biar bisa cepet-cepet gede dan ngelindungin semua keluarga. Terus mimpin perusahaan dan disegani banyak orang kayak Granpa."


"Harus banget di Amerika?"


Cello mengangguk. "Iya harus, kata kakek pendidikkan di sana lebih bagus."


"Kalau aku nggak mau ikut ke sana, apa kakak akan tetep pergi gitu aja?"


Dia menggeleng. "Aku ngga akan pergi tanpa kamu. Makannya aku mau ajak kamu ke sana juga. Mau ya ...."


Cilla melipat bibirnya ke dalam. Sebagai anak yang terlahir dari keluarga bangsawan, ia sangat paham seberat apa tugas seorang laki-laki di keluarga Tuan Haris. Dia sudah sering diberi tahu oleh nyonya Dina tentang apa yang akan dilakukan Cello ketika besar nanti. Di sisi lain ia tidak ingin tinggal di Amerika, tapi ia juga enggan jika harus berpisah dengan kakaknya.


"Kalau kamu sayang sama Kakak, sayang sama mamah, sayang sama papah, kamu pasti bakalan ngerti kenapa aku harus banget belajar di luar negri. Aku pengin ngelindungin kamu, dan buat ngelindungin kamu, aku harus jadi orang hebat dulu."


***


Jangan yupaa kasih Like komen dan hadiah. Up lagi kalau like dan komennya udah banyak.