HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 59 : (Season 2)



Titian keringat Farhan jatuh membasahi sebagian wajah merah Lisa. Tepat di atas kepalanya, Farhan mengungkuh tubuh pasrah itu dengan pacuan cepat yang menghantam-hantam permukaan lembab di bawah sana.


Keringat mereka berdua menyatu menjadi adonan sempurna. Penuh rasa semangat dan membangun gairah yang membara hebat.


Kini Farhan mulai kehilangan pertahanan diri setelah durasi ranjang itu berlangsung selama delapan belas menit.


Pria itu sudah mulai memacu kegiatannya dengan hentakkan-hentakkan sedikit kasar. Hingga tepat di menit ke 19, Farhan menyudahi pertarungannya dan berguling ke samping ranjang.


Gagang gayung itu tercabut dengan kepuasan paripurna dari kedua belah pihak. Membuat si pemiliknya setengah merem melek menikmati sisa rasa nikmat di ujung sana.


"Terima kasih," ucap Farhan meraih tubuh Lisa ke dalam pelukannya kembali. Ia menarik selimut hingga sebatas dada. Lantas melayangkan kecupan sayang di mana-mana sampai Lisa ingin berteriak girang.


"Mainnya pelan-pelan. Dasar menyebalkan!" decak Lisa sok dibuat manja-manja.


Farhan beralih mengusap penghuni perut yang tidur anteng di bawah sana. "Maaf ... maafkan ayah ya," ujar pria itu sedikit merasa bersalah.


Ia terlalu kalap lantaran jatahnya sering sekali dikurangi. Jadi tubuh Farhan yang babak belur dihajar rindu tanpa sengaja mengkhianati pemiliknya dengan bergerak sesuka hati dalam adegan mengeksekusi.


Lisa terdiam memulai keheningan. Tak menjawab karena sedang menunggu reaksi Farhan berikutnya.


Kita lihat, apakah kamu akan memenuhi janjimu untuk tidak tidur setelah melakukan?


"Kita mau ngobrol atau mau apa?" tanya pria itu sedikit bingung saat membuka percakapan. Jelas Farhan bingung, karena ia sudah terbiasa tidur sambil memeluk Lisa setelah melakukannya.


Bahkan, kini rasa kantung efek dari hormon kebahagiaan yang terlepas dari tubuhnya mulai menjalari aliran darah. Membuat Farhan harus berusaha keras terjaga demi janjinya kepada Lisa.


"Lima menit. Aku hanya ingin disayang lima menit, setelah itu kamu boleh tidur."


"Apa tidak terlalu sedikit?" tanya Farhan pura-pura kuat.


"Waktumu sedang berjalan, cepat lakukan sebelum bangunan di dalam matamu roboh!" sergah Lisa yang mulai emosian.


"Oke! Oke!" Farhan sedikit gugup. "Apa kamu suka pelukan seperti ini?" Mengeratkan pelukannya cukup kuat hingga Lisa nyaris dilanda sesak napas. Gadis itu sontak memukul-mukul bahu Farhan.


"Perlakukan aku dengan lembut, Bodoh!" sentaknya melengung. "Untuk ukuran pasangan yang sudah menikah tahunan, kamu itu masih terlalu kaku banget Mas! Cobalah bersikap santai. Kita itu pasangan suami istri sungguhan, jadi buatlah segalanya menjadi nyata! Kita bukan artis film porno yang sedang beradu bakat akting di atas ranjang tahu ...."


"Aduh! Langsung jelaskan saja Lis, kamu mau diperlakukan yang seperti apa? Aku mana paham isi hatimu!" protes Farhan setengah menahan pusing di kepalanya.


"Hmmm."  Menjawab tanpa kata, Farhan mulai mengerjakan tugas barunya. Namun, lama-kelamaan ia bosan dan berpindah tempat mengelus benda lain yang menurutnya lebih enak untuk dikerjakan. "Sebenarnya aku lebih suka yang ini!"


Tangannya bergerak lincah mengelus benda favorit di bawah sana.


"Duh, kalau yang itu namanya bukan disayang-sayang, bisa jadi kode kalau kamu minta nambah jatah!" gertaknya menepuk punggung tangan Farhan. Pria itu menatap Lisa dengan mata menohok. Sialan, ternyata Lisa sudah tahu sebelum sempat ia memulai.


"Dasar pelit." Tangannya beralih mengelus punggung mulus Lisa di belakang sana. "Begini saja ya," ucapnya lirih. Setengah bermalas-malasan dalam melakukannya.


"Mas! Itunya jangan bangun lagi donk, maruk banget! Baru juga selesai."


"Ehm!" Sontak Farhan mengangsur tubuhnya ke belakang agar tidak bersentuhan dengan tubuh Lisa. "I-itu bukan salahku, kita dalam keadaan polos seperti ini! Kalau mati artinya aku tidak normal," gerutunya.


"Ck. Tidak normal itu tiga menit maksudnya?" goda Lisa mengingatkan masa lalu sekaligus menjatuhkan harga diri Farhan yang sudah lama terlupakan. Tapi Lisa tidak pernah lupa akan hal itu.


Farhan yang tidak terima langsung menyergah. "Kamu mau kusiksa dengan cara apa?" ancamnya seraya meremas pada bagian bawah sana hingga Lisa memekik sedikit sakit.


"Awkk!" Tangannya menepuk bahu Farhan lagi. "Aku sedang hamil anakmu, darah dagingmu, tega-teganya kamu bersikap seperti itu! Sudahlah! Batalkan saja acara sayang-sayangnya, aku mau tidur."


Wanita itu berbalik memunggungi Farhan hingga pria bodoh itu panik. "Aku tidak sengaja, niatnya mau bercanda, salahmu kamu dulu yang memulainya."


Lisa menepis tangan Farhan yang hendak melingkar di pinggangnya. "Jadi semua salah aku ya? Wanita memang selalu salah si!"


Kata itu kembali diberlakukan oleh Lisa setelah lama terhapus. Ia masih ingat betul di awal-awal mereka berkenalan. Apa pun yang terjadi, Lisa selalu menjadi pihak yang salah di mata Farhan.


Farhan memaksakan tangannya agar terus melingkari pinggang itu dari belakang. "Ibu hamil jangan marah-marah, tidak baik untuk kesehatan."


"Stttt. Diam Mas, ayo kita tidur aja!"


"Oke!" Farhan memeluk Lisa dan mulai terpejam di belakangnya. Kembali seperti semulai, mata Lisa terjaga sempurna seakan baru bangun dari tidur panjangnya.


Heran aku, kenapa si aku bisa sayang banget sama suami model baja lempeng seperti ini?


****


Tunggu 1 Bab lagi menyusul, ya. Kasih hadiah dulu donk, jangan pelit-pelit ama Lisa parlan. Wkwkkw. macihh smua.