
Setelah memakai celanan dan pakaian yang pantas. Cello segera beranjak dan kembali lagi ke ruang tamu untuk menemui Malika. Anak itu memilih baju yang paling keren agar si Kecap tertarik padanya.
Akhirnya pilihan Cello jatuh pada celana hitam pendek dan kaos bergambar Iron Man kebanggaannya. Ternyata Malika sedang memakan kue pemberian bibi saat Cello datang. Karena merasa sungkan dengan kehadiran Cello, Malika langsung meletakkan kue itu kembali meski perutnya masih terasa lapar.
Buru-buru Malika memalingkan wajah malunya sebelum dilihat Cello.
"Kamu kenapa ke sini?" tanya Cello, ia lekas duduk di kursi dan saling berhadapan dengan Malika.
"Ayah kamu yang ngajakin, aku cuma ikut aja." Gadis itu menjawab ketus, tapi sumpah demi apa pun Malika ingin sekali menarik ucapannya tadi siang. Ia menyesal telah memutuskan pertemanannya dengan si kembar hanya karena masalah tuduhan kesalahpahaman.
Sekarang ia jadi canggung. Ibarat kata menjil*t ludah sendiri. Itulah yang Malika rasakan.
"Kalau bisa kita ngga temenannya mulai besok aja, deh. Sekarang masih bisa temenan."
Tiba-tiba Cello mengucapkan kalimat yang membuat dirinya tertohok. Sontak Malika menautkan kedua alisnya. "Kenapa begitu?"
"Kamu lagi di rumah aku. Kalau kita diem-dieman terus, nanti aku yang dimarahin ayah dan bunda."
Kini bibir Malika terlipat dalam. Oh, jadi ini alasannya! Malika pikir karena Cello masih berharap jadi teman Malika. Ternyata hanya karena takut pada orang tuanya.
"Ya udah," balas Malika ketus. "Hari ini kita masih bisa temenan," lanjutnya.
Cello beranjak dari duduknya. Kakinya mengayun nakal dan berakhir menjatuhkan tubuhnya di samping Malika. "Aku mau duduk sini aja."
Apa-apaan si ini anak?
Reflek Malika menggeser posisi duduknya hingga mentok pada pembatas sofa. "Adik kamu mana?" tanya anak itu sambil melirik ke sudut-sudut ruangan.
"Kan tadi aku udah bilang Cap, dia lagi tidur sama bunda." Cello mengambil kue dan langsung melahapnya. Membuat Malika menelan ludah seember melihat anak itu makan dengan santainya tanpa menawari. Malika juga mau sebenarnya.
"Oh gitu!" Bibir Malika membentuk huruf O lengkap dengan muka datar. Cello lanjut menghabiskan potongan kue di tangannya.
Suasa mendadak hening. Ada jeda sejenak di mana Malika terus memandangi kue menggiurkan di atas meja tanpa berani menyentuhnya. Malu pada si pemilik rumah yang sempat ia kasari tadi.
Sementara Cello mulai sibuk mencari topik menarik untuk dibicarakan pada Malika. Entah kenapa bibirnya begitu kaku saat berada di lingkungan rumah. Padahal kalau di sekolah Cello lancar sekali menggoda Malika.
"BTW kamu suka BLACKPINK gak?" Pilihan topik pada akhirnya jatuh pada girlband Korea yang biasanya digandrungi para kaum wanita dari umur 7 tahun ke atas.
Malika menoleh ke arah Cello kembali. "Gak terlalu, emang kenapa?"
Cello tersenyum polos. Sebenarnya ia ingin sekali ngobrol asik dengan Malika. Tapi setelah sekian lama memilah topik, yang ketemu malah pembahasan BLACKPINK. Ia juga tidak tahu apa yang disuka cewek kelas 4. Pastinya beda dengan cewek-cewek kelas dua yang sukanya membahas Ria Ricis dan aneka squisynya.
"Biasanya anak cewe sukanya sama Korea, 'kan?" lanjut anak itu.
"Aku wibu, sukanya nonton kartun anime dan dengarin lagu Jepang," jawab Malika. Bahkan ia sudah mulai les bahasa Jepang saking tertariknya. "Emangnya kamu K-Popers?" tanya anak itu.
"Bukan, sih. Tapi almarhum papah aku K-Popers. Dia suka banget sama BLACKPINK dan BTS."
"Oh ya?" Malika sedikit tertawa mendengar itu. Ternyata orang tua Cello cukup gaul juga.
"Iya. Sebulan lagi aku juga mau disunat."
"Terus?"
Cello mendekatkan wajahnya seraya berbisik pelan, "Kamu jangan bilang-bilang sama orang tua aku ya. Sebenernya aku takut banget disunat, makanya aku nyuruh ayah Hanhan supaya undang BLACKPINK sesuai keinginan papahku dulu."
Nah ... nah, Malika makin tambah bingung lagi. Memangnya kalau ada BLACKPINK jadi tidak takut? Anak cowok yang satu itu punya masalah hidup apa sih? Lagian Jisso dan kawan-kawan mana mau datang ke acara sunatan si burung minimalis.
Malika memilih diam sambil menahan perutnya yang lapar. Masa bodo dengan ucapan Cello yang tak ia pahami sama sekali.
"Kok kamu diem?" Dan Cello langsung protes tidak senang melihat ekspresi datar Malika.
Jujur saja, topik yang Cello bicarakan mendadak kurang enak didengar oleh telinga Malika. Ia sudah berusaha meladeni Cello dengan pura-pura antusias. Tapi membicarakan urusan pemotongan burung cicicuit minimalis bukan passion anak wanita. Malika bahkan malu mendengarnya. Tapi Cello mana paham ke arah situ.
"Aku gak paham sama obrolan kamu. Memangnya kalau kamu minta ayah kamu undang BLACKPINK jadi gak takut?" Akhirnya Malika mengeluarkan isi pikirannya.
"Ya nggak gitu juga, KECAP!" Cello menepuk jidatnya jengah. "Ayah bakalan kesusahan kalau ngundang BLACKPINK, bisa jadi aku gagal disunat. Itu yang aku mau!"
"Idih ... kok gitu? Kamu cemen ya, ternyata!" Satu ejekkan keluar dari bibir Malika. Gadis itu tidak menyangka bahwa Cello yang notabene nakal dan tengil ternyata takut disunat.
Merasa diremehkan, Cello menggeleng tidak terima. Wajahnya tertekuk sebal saat itu juga. "Ngga cemen, tapi takut liat alat-alatnya yang serem. Apalagi kalau liat tutorial di yutup. Kayaknya aku mending nggak usah disunat aja, deh. Lagian buat apa sih, kayak gini aja udah bagus kok. Pipisku lancar," ujar anak itu karena belum mengerti masalah yang akan ia hadapi untuk ke depannya.
Malika pun sama, ia belum paham apa kegunaan sunat intuk pria.
Dari arah kamar Lisa datang, ia sengaja mengintip di balik tiang karena penasaran sekali melihat mereka ngobrol sangat dekat. Kira-kira apa yang mereka bicarakan. Begitulah hati Lisa bertanya-tanya sambil tersenyum geli.
"Tapi kamu bakalan dapet banyak hadiah. Tetangga aku aja pas disunat dapat mobil-mobilan banyak. Emang kamu nggak pengin?"
Lisa manggut-manggut paham. Ternyata mereka sedang membicarakan acara sunatan Cello yang akan diadakan satu bulan lagi.
"Aku ngga suka mainan mobil," pungkas Cello.
"Terus sukanya mainan apa. Boneka?"
"Sukanya mainin kamu!"
Sontak Lisa yang mendengarnya langsung melongo terbengong-bengong. "Ya Tuhan anakmu kocak sekali Mas Al. Dari mana Ello mendapat kata-kata menjijikkan seperti itu?" Padahal Farhan yang sudah tua bangka saja tidak bisa menggombal seprti itu. Lisa jadi ingat acara melamar Farhan yang garing waktu itu, kan.
"Tadi kamu main remot kontrol. Dasar pembohong," sungut Malika tak mau kalah.
"Itu remot penyedot debu hadiah dari kakek. Dia bisa ngomong. Aku punya tiga. Yang cewe namanya Siti dan Shinta. Yang satu lagi cowok, aku kasih nama Taehyung. Kalau nanti dibeliin lagi aku mau kasih nama Jungkook. Kamu mau liat nggak?"
Malika mengangguk dengan rasa penasaran lima ratus derajat. Ia kepo sekali dengan koleksi penyedot debu Cello yang bisa bicara dan diberi nama seperti anak manusia. Ngomong-ngomong kalau Army tahu, mungkin Cello akan diracun pakai sate sianida karena telah menjatuhkan harga dan martabat Taehyung seenak jidatnya. Bagaimanapun juga penyedot debu itu tak pantas disandingkan dengan nama Taehyung si kebanggan Army.
***
Dahlah... gabut banget aku nulisnya.😝😝.
Btw buat yang nanyain novel Bima, nanti akan ku up kalau udah sempet ya. satu atau dua bulan lagi kalo novel ini tamat mungkin. Aku gak akan pindahin novelku kok. Asal kalian masih mau kasih vote hadiah bunga dan kopi. Aku gak akan pindah lapak. Kalian terlalu berharga. Biarpun novel gratisan, asal ada yang setia mendukung aku gak masalah.
Jangan lupa bagi-bagi hadiah ya, biar novelku masuk feed ig NT dan liat orang. Soalnya kalo ga masuk daftar rank gak akan kepromo novel recehan ginimah. Itu salah satu bentuk promo maksa versiku. Mau gak mau NT kan jadi nyantumin novelku karena masuk rank. Wkkwkw.
Ini rahasiaku. silakan ditiru.