HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Farhan Budiman



Lisa melirik Farhan selaku suami yang masih setengah matang dalam menjalani perannya. Bagaimanapun juga, Lisa harus mengangkat Farhan dari palung mariana terdalam agar jiwa pria itu sedikit lebih hangat. Lama-kelamaan ia bosan sendiri merasakan sensasi duduk berdampingan dengan balok es setiap hari. Apalagi jika berada di dalam mobil seperti ini. Rasanya seperti ambulance setan yang viral itu. Mencekam, mengerikan, seolah mobilnya bisa jalan sendiri tanpa ada pengemudinya.


Farhan terlalu dingin menurutnya. Tidak mau bertanya jika tidak ditanya. Harus selalu Lisa yang memancing obrolan atau agresif terlebih dahulu agar Farhan mau bicara.


Ditatapnya lagi sang suami yang fokus mengemudi seperti robot. Lisa tersenyum kikuk seraya memanggil,


"Mas Al!"


Seperti biasa, ia menggoda suaminya sambil kedip-kedip mata selayaknya lampu disko. Tangannya merambat-rambat. Bagai anak laba-laba yang menggerayapi paha Farhan.


"Jangan macam-macam! Aku sedang mengemudi," ancam Farhan tegak lurus tanpa tikungan apalagi tanjakkan.


"Aku bete tau, Mas!" gerutu Lisa. "Ajak ngomong donk," rayunya manja-manja.


"Terlalu banyak mengobrol sambil mengemudi itu tidak baik, Lisa! Membahayakan keselamatan dalam berkendara."


Lisa cemberut, kembali mengalihkan pandangannya ke samping kaca jendela. "Es kelapa!" telak Lisa mengingatkan jika Farhan lupa. Farhan terdengar mendesah halus sebelum menjawab.


"Ya sudah, kita mampir dulu," ujar Farhan mengalah. Lisa tersenyum tipis. Inilah yang Lisa suka dibalik sikap tidak peka seorang Farhan Budiman, ia selalu menuruti apapun yang Lisa mau—sesulit apapun permintaan itu. Bahkan sampai mendatangi tempat memalukan seperti klinik Mister Tong Jay. Bisa dibilang itu semacam perhatian sang istri dalam bentuk beku. Karena tidak ada hangat dan manis di dalam sana.


Mobil berhenti tepat di sebuah restauran sederhana yang dibangun di samping kawasan BKT (Bantar Kali Ciliwung). Farhan dan Lisa masuk, mereka duduk di area luar dengan latar belakang sungai indah nan bersih hasil kerja sama penduduk kota Jakarta. Selimir angin saling menyapa menerpa rambut panjang Lisa. Suasananya nyaris seperti di tepi pantai karena waktu mereka berkunjung kebetulan sore hari.


"Ada yang mau kamu pesan lagi?" tanya Farhan saat dua buah kelapa hijau tersaji di meja mereka. Lisa menggeleng samar sebagai bentuk penolakkan. Lalu menyedot air kelapa segar dengan penuh hikmat.


"Apa kamu sedang nyidam?"


"Uhukk!" Lisa tersedak hingga air kelapanya masuk ke dalam rongga hidung. Farhan mengambil tisu dengan cepat, lalu mengelap mulut dan baju Lisa yang terkena air kelapa.


"Apa kamu bodoh? Aku hanya bertanya, tapi reaksimu seperti aku membawa kabar buruk bahwa perusahaanku bangkrut," sungut Farhan sebal.


"Lebih dari itu Tuan Farhan yang budiman." Lisa menggeleng ngeri.


"Jadi kau tidak mau hamil anakku?" telak Farhan curiga. Mimik wajahnya langsung murka seketika itu juga


"Ya maulah, tapi bukan sekarang juga, Mas! Aku bahkan belum satu bulan kerja dan belum mendapatkan gaji pertamaku. Masa harus secepat itu menjadi ibu," lontar Lisa sambil memegangi dada.


"Semoga saja kau hamil sebelum gajimu turun," goda Farhan yang terdengar seperti kutukan di telinga Lisa. Wanita itu langsung memegangi perutnya.


"Aku belum siap menjadi ibu kandung. Jangan menakutiku, besok aku akan membeli pil kontrasepsi," ujar Lisa ketakutan.


"Bagaimana jika sudah ada bayi di dalam sana? Bukankah pil kontrasepsi akan membahayakan keselamatannya," ucap Farhan semakin menakut-nakuti.


Tubuh Lisa seketika meremang. Tenggorokannya tercekik memikirkan kemungkinan yang ada.


"Jennie juga memakai pil kontrasepsi, tapi nyatanya itu tidak mempan jika Tuhan sudah berkehendak," tampik Farhan.


"Jangan membuat otakmu lelah dengan memikirkan hal tidak berguna seperti itu," sanggah Farhan menasehati.


"Tapi itu wajib, sebagai istri seorang CEO kaya raya, aku harus jeli melihat cela-cela yang bisa membuat pelakor masuk ke dalam hubungan kita. Apalagi suamiku belum bisa mencintaiku seutuhnya. Kamu bisa saja tergoda dan mencintai wanita lain, lalu menelantarkan aku dan si kembar," lanjut Lisa yang mulai terpancing ucapannya sendiri.


"Jika mencintaimu saja belum bisa, apalagi mencintai wanita lain." Farhan mengedikkan bahu, membuat Lisa mengerjap bingung mendengar pernyataannya.


"Maksudnya apa?"


Farhan menggeleng samar, tidak mau membahas ucapannya yang tadi dan langsung mengalihkan pembicaraan lain. "Tenang saja, Rico tidak akan membiarkan itu terjadi. Selama ini belum pernah ada wanita yang melewati batas kecuali kamu. Mereka harus memiliki kehebatan sebesar gunung dan seluas samudra jika hendak mengalahkanmu."


Apakah artinya aku wanita satu-satunya yang tidak akan terkalahkan. Buru-buru Lisa kembali pada topik utama agar tidak terlalu memikirkan sesuatu yang halu-halu.


"Pokonya aku belum mau hamil, Mas! Kasihan anakku, nanti dia tidak dapat merasakan kasih sayang seorang ayah."


"Apa maksudmu?" Farhan menatap Lisa dengan mata menyalang. Ribuan pisau tak kasat mata telah siap menusuk tubuh wanita itu jika ia tidak memberikan jawaban yang masuk akal.


"Ma-maksudnya ..." tahan Lisa sambil mengerjap gugup. Ia selalu tidak bisa berkutik saat Farhan menatapnya dengan mata mengerikan seperti itu.


"Maksudnya, kamu sudah memiliki si kembar ... aku takut kamu tidak menyayangi anakku. Bukankah itu sangat menyakitkan untuk aku dan anakku?"


Farhan menggeleng—heran. Lalu menjewer telinga Lisa sekeras mungkin sampai ia merasa telinganya nyaris putus.


"KDRT!" teriak Lisa sambil memegangi telinganya kesakitan. Beruntung meja mereka terletak di pojok yang jauh dari meja pengunjung lain.


"Sekali lagi kau bicara seperti itu. Bukan hanya telinga yang putus, mungkin tanganmu juga ikut putus," murka Farhan tidak terima. Bisa-bisanya Lisa memikirkan hal yang tidak masuk akal seperti itu.


"Anakmu adalah anak yang kita buat bersama. Bagaimana bisa kamu berfikir aku hanya menyayangi si kembar? Di mana otakmu Lisa? Jika aku bisa menyayangi anak dari adikku, pastinya aku bisa lebih menyayangi anak kandungku sendiri." Wajah Farhan merah padam. Membuat Lisa memundurkan kursinya agar telinganya yang satu tidak ikut dijewer.


"Hehehe, jangan emosi dulu Tuanku tersayang. Sebagai wanita yang belum dicintai, aku hanya takut dan sedikit khawatir." Lisa menyengir jenaka untuk meredamkan amarah Farhan.


"Jika kamu bisa menyanyangi anakku. Mari kita pulang untuk membuat bayi. Ayo kita memproduksi bayi sebanyak-banyaknya."


Wanita itu langsung kabur tunggang langgang meninggalkan Farhan yang masih terdiam kaku. Farhan yang melihat tingkah hanya bisa mengulas senyum sambil menggelengkan kepala keheranan.


Dasar Kelinci betina, batin Farhan gemas.


***


Pengumuman.


Cek IG @anarita_be ya. Aku ngasih penguman spoiler tentang ending season 1 dan konflik season 2. Ada edisi Q & A yang akan aku jawab langsung juga.


Jangan Lupa Vote, kalo banyak yang vote aku mau crazy up akhir taun. hehehe